
Handphone gue berbunyi. Santi. Tampak di layarnya. Santi salah satu team gue yang mengurus catering. Gue sedikit menjauh karena Jojo dan Ferdi berisik. Masih lanjut... Bertengkarnya.
“Halo.”
“Halo Mbak. Ada sedikit masalah, Mbak Vera minta tambahan menu aku udah coba konfirmasi ke Ibu Lis dan Ibu Yanti tapi gak bisa katanya agak ribet waktunya juga udah mepet. Mbak ada recommend catering lain gak.”
“Lue udah coba cari ke catering Mitra Sukses?”
“Udah mbak. Tapi udah pada full order. Makanya aku cari mbak.”
“Kalau gitu lue message ke gue apa tambahan menu.”
“Ok Mbak.”
“Nanti gue yang cari solusinya.”
“Terima kasih Mbak.”
Huuuuff. Ada saja.
Cewek di hadapan gue memandang dengan tatapan penasaran. Mata kami saling bertemu pandang. Wajahnya tampang tak asing. Seperti pernah bertemu tapi di mana. Tapi gue ragu.
“Rere?” Ucapnya pada gue.
Gue masih memandangnya heran. Dia tau nama gue. Mata bulat indah. Bibir tebal mempesona.
“Nata?” Tanya gue memastikan.
“Iya aku Nata. kamu Rere kan!”
Gue mengangguk.
“Udah lama banget gak ketemu. Kangen.” Ucapnya sambil memeluk gue.
Dia adalah Renata sahabat yang bersama gue Melawati masa Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama. Temen main petak umpet, temen main salon-salonan. Yang pagi tadinya musuhan siang udah baikan. Temenan lagi. Sahabat yang telah gue anggap sebagai saudara, begitu sebaliknya. Semenjak gue pindah ke Jakarta kita udah jarang berkomunikasi apalagi setalah gue denger kabar kalau Renata dan keluarganya memutuskan pindah ke Australia. Kita sama sekali putus kontak. Jadi dihitung-hitung udah lebih dari sepuluh tahun kita gak berhubungan.
“Gue juga. Rindu sama anak gadis kepang dua.”
“Kepang dua waktu SD.”
“Kuncir dua.”
“Kamu kuncir kuda.”
Wkwkekkkk. Kami tertawa bersama mengingat indahnya waktu kecil dulu.
“Lue sekarang dimana Nata? Masih tinggal di Australia?”
“Sekarang aku di Jakarta.”
“Ooh.. lue kesini bareng siapa?”
“Sendiri.”
“Tapi ini kan Bridestory Fair.” Ucap gue sambil melirik menggoda Renata. “Lue mau Merried ya!”
Renata tersenyum malu
“Anak gadis yang dulunya ngomong sama cowok aja malu-malu. Kalau di godain lari-lari nangis sambil teriak minta tolong ke Mamanya, sekarang mau Merried.”
Sewaktu kami kecil. Renata anak yang pemalu jadi dia sering di goda dan di jahilin sama teman kita yang cowok.
“Iiih itu kan dulu. Kamu sendiri dulu juga takut didekati cowok.”
“kamu mau tau.” Ucap Renata mendekat dan membisikan ke gue. “Aku di jodohin.”
Gue menjauh kaget.
“Yang bener aja emang jaman Siti Nurbaya.”
“Huutts... Pelan-pelan. Habis ganteng sih.”
“Waduh. Masa karena ganteng doang lue mau.”
“Anaknya juga baik kok. Mapan.”
“Kalau gitu gue juga mau satu.” Bisik gue.
“Kamu belum nikah.”
“Belum.”
“Eemh, ntar aku bantu cari.”
Wkkkwkkk..
“Ya walau gimana pun ceritanya.. selamat ya lue duluan Merried dari gue.”
“Terima kasih! Aku kira kamu kesini sama seperti aku. Cari-cari WO.”
“Gue salah satu WO. Nih kartu nama gue.” Ucap gue sambil menyodorkan kartu nama pada Renata.
“Kamu punya WO Re?”
Gue mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Gue ngurusin nikahan orang saja, diri sendiri gak nikah-nikah.”
“Kebetulan.. bisa dong aku pakai WO kamu.”
“Bisa banget lah.”
“Dapet korting gak. Harga temen.”
“Aman!. Gue kasih Buat lue juga full servis.”
“Thanks ya Re.” Ucap Renata sambil memeluk gue dengan girang.
“Gue liat dari jauh seperti seru banget nie.”
“Oh ya Nata. Ini team gue namanya Jonatan.”
“Panggil aja Jojo.”
“Renata.”
“Jadi Renata ini Sabahat dari kecil gue Jo dan sekarang jadi Klien kita.”
"Mau Merried. Selamat ya."
"Terima kasih Jojo."
"Dan Nata.. lue bisa bilang konsep yang lue mau ke gue atau Jojo."
"Ok."