ReDiaz

ReDiaz
Surprise



Seperti hari-hari sebelumnya. Selalu di sibukkan dengan kerja dan kerja. Sehabis menghabiskan sepotong roti dengan selai kacang segera gue berangkat ke kantor.


Baru gue membuka pintu. Alangkah kagetnya hati.


“Diaz.” Ucap gue sambil terbengong sejenak. Dejavu.


“Kok bisa ada di sini? Tahu darimana rumah gue?”


“Tahu dong. Siapa dulu. Orang ganteng informannya banyak..”


Apa-apa. Ini mimpi. Gue mimpi yang sama lagi. Bangun Re. Bangun. Mimpi atau nyata. Gue cubit pipi gue. Menyakinkan. Orang bilang kalau mimpi tidak sakit.


Aduh.. sakit. Ternyata beneran bukan mimpi.


“Kenapa? Bercanda!” Diaz tertawa geli.


Memangnya lucu apa.


“Tadi gue tanya ke Jojo.”


“Ooh.. ada keperluan apa?”


“Gue ada surprise buat lue.”


Oh tidak. Jangan bunga mawar merah dan cincin berlian. Tapi apa mimpi bisa jadi nyata ya?. Hehehe. Jadi ngayal kemana-mana deh gue.


“Surprise apaan?” Tanya gue sedikit malu.


“Ada deh. Mending sekarang lue ikut gue.”


“Tapi gue mau ngantor.”


“Bentar saja.”


“Ya sudah deh.”


Akhirnya gue pergi dengan Diaz menggunakan mobil Diaz. Mobil gue tinggal di kantor. Sepanjang perjalanan gue hanya diam sibuk memainkan handphone. Sementara Diaz fokus menyetir.


Tidak memakan waktu lama kami sudah sampai di restorant cepat saji. Diaz antusias minta gue cepat untuk masuk ke restorant.


Ternyata beda dari mimpi. Kok gue jadi kecewa. Sadar Re.. sadar.


Mata Diaz mencari sesuatu. Cari tempat duduk?. Padahal restoran tidak begitu ramai dan masih banyak bangku kosong. Apa yang dia cari? Diaz berjalan ke pojok. Menghampiri seorang yang duduk di sana.


Cewek berkulit kuning Langsat, rambut panjang sebahu. Wajahnya tak asing.


“Mia.” Ucap gue histeris.


“Rere.” Balasnya dan berlari memeluk gue. “Gue kira gak bakal ketemu lue lagi.” Lanjutnya masih dalam pelukan sambil menangis.


“Kangen.”


Mia dari dulu tidak berubah tetap saja mudah menangis. Cengeng.


“Sudah-sudah cukup sedih-sedihan nya.”


Mia melepaskan pelukan nya dan kembali duduk. Gue duduk di samping Mia.


“Ganggu saja loo.” Ucapnya pada Diaz.


“Gak sadar di lihatin mbaknya itu.”


“Bagaimana ceritanya bisa sampai sini Mia? Bukannya lue di Palembang.”


“Ini si Mas di depan gue kasih kabar kalau dia sudah ketemu lue Re. Ya sudah gue kan kangen banget sama lue makanya gue samperin ke sini kasih surprise.”


“Lue terkejut gak?” Ucap Diaz.


“Banget.”


“Gue kira lue gak bakal mau bertemu dan berteman dengan gue lagi.”


“Ya nggak mungkinlah Re.”


“Gue sudah gak tepati janji waktu itu.”


“Ooh.. manisnya sahabat gue satu ini.”


Gue mencubit pipi Mia yang masih cabi. Tidak berubah.


Sekilas gue melirik Diaz. Seperti ada sesuatu yang di pikirankannya. Mungkin dia masih menyimpan rasa kecewa pada gue.


“Eeits minum kopi dulu, sama aku sudah pesankan pancake.” Ucap seseorang pada kami. Gue tak mengenalnya. Penampilannya oke. Gaya anak muda zaman kini. Kemeja slim fit dengan celana jeans dan sepatu kasual. Serta jam tangan sport penunjang penampilan.


“Oh iya kenalin. Ini teman gue. Hadi Triawan.”


Kami saling berkenalan. Rupanya teman Mia.


“Teman apa demen?” Goda Diaz.


“Fans aku.”


“Fans?” Tanya Diaz.


“Jangan-jangan tetangga lue dulu ya.”


“Oh.. di cupu.”


Hadi Triawan tampak malu-malu. Pipinya memerah.


“Kok bisa jumpa lagi.” Diaz penasaran.


“Panjang ceritanya. Sudah ah.”


“Namanya gue pernah denger deh.”


“Dia ini terkenal di kalangan cewek-cewek. Pengusaha catering yang sukses. Masih muda plus tampan.”


“Lue lagi promosi.” Ucap Diaz.


“Iya. Nah lue Re. Katanya Diaz, lue buka WO kan. Mending sama dia deh. Lumayan mana tahu dapat persenan gue.”


“Catering? Mitra Sukses ya?. Ucap Re pada Hadi.”


“Iya.”


“Kita kan sering pakai catering Mitra sukses.”


“Re Wedding Organizer?”


“Yup.”


“Gak jadi dapat persen deh gue.” Ucap Mia cemberut. “Lue kan mau merried Diaz. Pakai catering Hadi saja.”


“Eehh. Kan gue WO nya jadi otomatis ya pakai catering Mitra Sukses.”


“Yaaa!” Ucap Mia lesu.


“Cari untung jadi buntung.” Goda Diaz.


“Sekarang apa kegiatan lue Mia?”


“Gue.! Pengacara. Pengangguran banyak acara.”


“Yang bener? Gue kira lue sudah jadi penyanyi.”


“Becanda. Tapi beneran gue pengacara. Jadi kalau lue ada masalah tinggal cari gue. Tapi kalau karena patah hati jangan ya. Kayak lue patah hati karena ditinggal Diaz. Secarakan dia sudah mau nikah.”


“Enak saja lue.”


“Bacinto diawak kawin di urang.”


“Kalau masalah gituan lue gak perlu khawatir gue kan psikolog.”


“Psikolog pernikahan.”


Ampun deh ini anak. Diaz sampai salah tingkah di buatnya.