
Tok.. tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar saat gue baru menghabiskan setengah sarapan nasi goreng bikinan Emak.
“Lanjut makannya. Biar Emak yang bukakan.” Emak berjalan kearah pintu.
Pagi-pagi gini bertamu. Siapa sih. Ngedumel gue dalam hati.
“Eh nak Diaz..” Ucap Emak dengan suara girang. “Baru semalam diomongin, anaknya udah nongol.”
“Ooh ya!”
“Kata Rere di culik alien.” Mak tertawa kecil.
“Iya Mak.. udah di balikin. Soalnya PENAT.”
“Apaan PENAT?.”
“Pengeluaran Negera Alian tak Terkendali, abis Diaz porsi nasi tambah sih makannya.”
“Ngaco kamu. Sama saja kayak Rere.”
“Berartikan cocok Mak.”
Emak memukul pelan pundak Diaz.
“Eh sudah sarapan belum?”
“Sepertinya belum.”
“Kok sepertinya.. Masuk, ayo makan. Emak masak nasi goreng. Enak loo.”
“Kebetulan laper Mak. Sekalian Diaz juga pengen tau seenak apa nasi goreng buatan Emak.”
“Emak yakin kamu bakal nambah minta di bungkus.”
“Emak bisa aja.”
“Itu yang Diaz mau.”
“Re.. ada nak Diaz nih.”
Ucap Emak bersama Diaz menuju ruang makan.
“Iya tau Mak. Re denger kok.”
“Pagi sayang..”
“Masih hidup. Mengilang kemana?, Gak ngabarin gitu.”
“Rindu juga nih..” ledek Diaz
“Dikit.”
“Rere gak boleh begitu ngomong nya. Yang sopan.”
“Biasa Mak. Paling Rere hanya bercanda.”
“Tapi gak boleh. Anak gadis harus sopan.”
“Iya Mak.”
“Sebenarnya Diaz pagi-pagi kemari ada yang mau diomongin Mak.”
“Apa itu? Ada masalah.”
“Bukan.. bukan kok Mak. Jadi gini kebetulan paman nya Diaz ada punya Home Stay di Bandung, rencananya pulang dari sekolah Diaz mau ajak Emak sama Rere buat liburan di sana besok.”
Gue dan Emak saling berpandangan. Gue teringat pembicaraan tadi malam soal rencana akan ke Bandung besok.
“Naik apa dong ke sana?”
“Pak Azhar yang bakal anterin kita. gue udah minta ijin sama papa. Mama katanya kepengen ikut tapi gak bisa karena temani Papa dinas keluar kota.”
Pak Azhar itu supir keluarga Diaz.
“Tapi Mia diajak ya. Gue udah janji bakal bareng dia besok soalnya.”
“Siip.. biar rame.”
❄️❄️❄️
Pukul enam sore kami sudah sampai di Bandung. Sepanjangan perjalanan Mia terus mengintrogasi Diaz kenapa menghilang selama dua Minggu. Belum lagi Mia yang merengek untuk di putar musik Korea. Bosan katanya.
Kuping gue sakit dengerin live music Mia. Ampun Mia.. suara lue kalau kata komentator acara musik. Fals. Percuma juga les vokal. Mumet kepala gue. Please... jangan nyanyi lagi
Home Stay milik paman Diaz nyaman. Dengan interior modern dan design minimalis. Lingkungannya juga sejuk dan asri. Penuh pepohonan dan bunga-bunga.
Udara Bandung yang dingin berbanding terbalik dengan Jakarta yang panas. Suasana yang lama gue rindukan.
Gue antar Emak untuk istirahat ke kamarnya. Rasa gembira mengalahkan lelahnya. Senyuman menghiasi wajah nya yang mulai menua.
“Emak istirahat ya.” Ucap gue sambil menarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya.
Emak hanya mengangguk dan memejamkan matanya.
❄️❄️❄️
Gue manghampiri Diaz yang sedang duduk santai dengan segelas wedang jahe hangat di taman mini samping Home Stay.
“Thanks ya Iaz.”
Diaz mengangguk pelan dan tersenyum manis menatap gue. Mata kami saling berpandangan satu sama lain. Pipi gue terasa terbakar. Apa memerah? Bikin gue malu aja.