
Sepulang sekolah gue dan Diaz segera meluncur ke toko buku.
Gue sibuk mencari-cari buku. Sementara Diaz sedari tadi duduk nyaman sambil membaca komik di pojokan.
Satu persatu gue perhatikan buku yang tersusun rapi di rak.
Beberapa menit mencari dan mencari. Akhirnya. Ketemu..! buku yang gue cari. Sekilas gue baca beberapa bagian. Memastikan.
Malas buang-buang waktu segera gue menghampiri Diaz yang asyik membaca sambil tertawa. Bagai dunia hanya miliknya saja.
“Woii.. mau baca, di rumah. Pake ketawa lagi bikin malu aja.”
“Sory, habis seru.”
“Pada ngelihatin tuh.”
Diaz hanya tersenyum getir dan membungkukkan tubuhnya tanda permintaan maaf.
“Lue masih mau di sini? Gue udah dapat nie.”
“Ya bareng dong. Kayak ibu tiri aja lue yang mau ninggalin anaknya.”
Emang kalau iya kenapa. Bawel. Resek. Kenapa tadi gue mau pergi bareng sama dia. Aah sudah lah. Percuma juga di sesali.
“Makanya buruan.”
“Bentar.. gue mau yang ini.” Diaz menggenggam bukunya.
Segera gue ke kasir dan bergegas meninggalkan toko buku. Diaz mengikuti gue di belakang, sehabis membayar bukunya di kasir.
Suasana siang ini terik. Panas menyengat beda sewaktu dalam toko buku yang adem.
Baru saja keluar badan sudah basah oleh keringat.
“Makan dulu yuk! Laper.” Diaz sambil menggandeng tangan gue.
“Apaan nie,” ucap gue sambil memandang tajam tangan Diaz yang sedang menggandeng tangan gue."
Diaz hanya nyengir kuda. Giginya kelihatan semua.
“Lepasin.”
“Ntar lue hilang lagi. Kan gawat.! nyasar gak bisa pulang.”
“Emang gue bocah, cepetan lepasin,” jawab gue ketus.
Diaz melepaskan perlahan. Sok dekat lue. Ambil kesempatan dalam keramaian ya.
Gue cuma memandangnya dengan tatapan dingin masih dengan rasa penuh kesal.
Iya.. nggak.. iya.. nggak. Kalau terima ajakannya makin lama dong gue bareng dia. Aduh.. gak mau. Tapi laper juga sih. Tenggorokan gue juga udah kering. Mau nelan ludah pun harus dengan sekuat tenaga. Agak lebay dikit. Terpaksa deh.. hitung-hitung ucapan terima kasih karena udah di temani.
“Iya. Tuh di depan ada di warung bakso di sana saja ya.”
“Siip.”
Biiiyuuur... Baru memasuki warung bakso Kipas angin yang berputar menyambut. Serasa di hamparan ladang rumput dengan hembusan angin yang membikin rambut berantakan. Sejuknya.
“Pesan apa dek,” suara pemilik warung menyadarkan lamunan.
“Bakso nya pak.. dua, lue mau minum apa.”
“Yang dingin-dingin. Gerah.”
“Teh manis dinginnya dua juga ya pak....
“Mantap”
“Dimana pun makannya minumnya teh manis dingin.”
“Si adek bisa aja.”
Warung baksonya nyaman walau terbilang kecil. Dengan meja dan bangku panjang tersusun rapi. Beberapa kipas angin yang berputar menyebarkan aroma kuah bakso yang harum semerbak. Jiwa kelaparan gue meronta.
“Minggir lue. ngapain lue disini!” ucap gue sambil menunjuk bangku panjang di depan.
“Ya duduk.”
“Awas mau ngadem gue.”
“Gue kan mau ngadem juga, udah PW nie. Posisi wooenak.”
“Gak ada cerita.”
“Tapi.”
“Buruan.”
❄️❄️❄️
Karena Mia tidak bisa menemani Rere ke toko buku, kesempatan gue menawarkan diri untuk menemaninya. Aneh juga.. kok gue senang aja dekat dengan Rere. Biar ada yang bisa diganggu. Lucu saja lihat muka jutek. Sorot mata yang tajam serta bibir manyun nya. Membayangkan saja ingin membuat gue tertawa.
Tapi beneran ini cewek juga aneh atau hanya perasaan gue aja, cewek-cewek di sekolah banyak yang naksir gue, ngajak PDKT bahkan Mia aja katanya mengidolakan gue. Kenapa Rere nggak. Yang ada tiap jumpa mau ngajak berantem. Dan gue suka. Hehehe.