
Omongan ini cewek. Gak bisa jaga perasaan sesama cewek apa.
“Lue kenapa sih? Tega ngomong seperti itu sama Rere.”
“Tega? Itu kenyataan. Rere masih mengharapkan Diaz kan. Sekarang siapa yang tega? Aku apa dia yang masih berharap untuk balikan sama Diaz suami aku.”
“Calon suami.”
“Iya tapi bentar lagi kami bakal nikah.”
“Gue pikir lue yang sahabat lebih lama dengan Rere dari pada gue. Paling mengerti soal Rere. Ternyata sahabat itu sepertinya hanya ucapan doang.”
“Maksud kamu apa?”
“Memang Rere masih menyimpan rasa sama Diaz tapi gue tahu kalau dia udah ikhlas kan semua. Dia mau memulai hidup yang baru tanpa Diaz di hatinya. Dan semua butuh waktu.”
“Berarti dia masih belum bisa melupakan Diaz kan.”
“Butuh proses Neng. Lue gak pernah mikir apa menahan rasa mengurusi pernikahan orang yang lue cinta sama sahabat lue sendiri. Sakit. Lagian ngapain lue khawatir Diaz perpaling kembali ke Rere. Atau jangan-jangan selama ini lue sama kayak gue.?”
“Sama bagaimana maksudnya?”
“Bertepuk sebelah tangan.”
“Kita beda. Aku gak bertepuk sebelah tangan.”
“Kalau nggak kenapa lue khawatir!”
“Aku? Gak!”
“Gak salah lagi.”
“Kamu gak usah ikut campur.”
“Terus apa hubungannya sama aku.”
“Lue bisa melakukan apa yang seperti gue lakukan.”
“Sudah aku bilang kalau kita beda.”
“Terserah, yang penting jangan coba-coba menyakiti Rere.”
❄️❄️❄️
Sebelumnya aku memang janjian dengan Rere untuk melihat gedung pernikahanku nanti. Aku menginginkan pernikahan yang sempurna seperti impianku waktu kecil dulu. Seperti pernikahan putri di cerita dongeng.
Tapi mbak Inez, perancang gaun pernikahanku mendadak menelepon. Mintaku datang untuk membahas berubahan model karena ada beberapa bahan yang tidak tersedia. Mau tidak mau aku mampir dulu ke sana. Jadi tidak enak pada Rere. Tapi sudah lah.. lagian ada Diaz di sana. Pikirku.
Setelah selesai segera aku meluncur menyusul untuk melihat gedung. Hampir satu jam. Bisa marah ini Rere. Pasti Diaz juga. Dia kan lagi banyak-banyaknya kerjaan. Mudah-mudahan mereka tidak marah. Mobil Diaz tampak terparkir di depan gedung. Tapi dimana mereka tidak kelihatan. Mungkin di sekitar gedung. Kulangkahkan kaki menyelusuri sekitar gedung.
Aku mendengar Rere tampak asyik mengobrol dengan Diaz. Sangat akrab.
Rumah pohon!
Bandung!
Diaz pernah ngajak Rere nikah?.
Ya aku gak salah dengar. Mereka pernah memiliki hubungan sebelumnya. Sangking kagetnya membuatku sulit bernafas. Bagaimana mungkin. Aku mendengar terus perbincangan mereka. Terdengar Rere menangis. Sebenarnya apa yang terjadi pada mereka sebelumnya. Aah.. tidak semua itu sudah menjadi masa lalu. Sebentar lagi Diaz akan menjadi milikku seutuhnya. Aku sangat mencintainya dan dia hanya milikku seorang. Aku tidak mau kehilangan Diaz. Apalagi sahabat aku yang merebutnya.
Lebih baik aku pergi sebelum mereka melihatku. Aku tidak sanggup menghadapi Rere saat ini.
Baru saja aku memasuki mobil. Diaz menelepon untuk menanyakan keberadaanku dimana. Kujawab kalau urusan ku belum selesai dan akan melihat gedung lain kali. Tapi Diaz memarahiku, dia mengatakan aku tidak menghargai waktu orang lain. Seharusnya dari awal bilang tidak sempat. Hatiku sakit. Baru kali ini Diaz seperti itu padaku.
Aku yakin ini semua karena Rere.