
Tiada hari tanpa kesibukan. Tapi hari ini berbeda. Gue bisa santai. Nikmati kopi dan kue pastri. Pekerjaan sudah selesai sebelum deadline. Merenggangkan otot sebentar.
“Pak Jo disuruh ibu Rere keruangannya.” Ucap Kiki asisten Rere.
Ganggu saja. Gak tahu apa lagi santai. Panggilan pekerjaan. Mau gak mau tetap harus mau. Asal jangan hanya mau mengingatkan gue buat beli cincin berlian saja. Huuf.. Kalau iya, gue jitak dia.
Dengan langkah gontai gue menjalan ke ruangan Rere.
“Apa Re? Ucap gue malas sambil menyenderkan diri di pintu.
Tampak ada Renata juga di ruang kerja Rere.
Rere memandang gue serius. Matanya fokus. Mengangkat dagunya menunjuk pada Renata.
“Duduk dulu sini.” Ucap Rere.
Cepat gue menjangkau tempat duduk di samping Renata. Perasaan tidak enak. Apa ada yang salah?
“Waktu itu Renata ada suruh lue untuk revisi undangan?”
“Ada. Buat revisi nama kan?” Ucap gue menyakinkan.
“Terus?”
“Terus apa?”
“Lue sudah revisi?”
“Ya sudah lah. Gue sudah hubungi Heri untuk direvisi.”
“Ok. Sekarang lue liat undangan sendiri.” Ucap Rere sambil menunjuk setumpuk undangan di depan mejanya.
Penasaran. Gak sabar melihat yang sebenarnya terjadi. ******. Mata gue tertuju pada nama yang tertera.
Awalnya Renata meminta gue untuk mencantumkan nama panggilannya di undangan dengan nama “Re” karena teman-temannya sering memanggilnya demikian. Tapi seminggu yang lalu dia meminta gue merevisi nya menjadi “Renata”.
“Beneran. Gue sudah hubungi Heri kalau lue gak percaya gue bisa tunjukkin message nya.” Ucap gue ngotot.
“Sampel nya lue ada cek ulang gak?”
“Nggak sih. Gue langsung kasih ke Renata.”
Males gue cek ulang. Gak penting kalau punya dia. Lagi sebel sama dia.
“Jojo ada kasih sampel undangan nya ke lue Nata?”
“Ada. Tapi gue juga gak ngecek.”
“Ya sudah sama kalau begitu.” Sahut Jojo.
“Jadi yang salah bukan gue kan.” Ucap Rere.
“Tadinya itu Renata Dateng ke gue. Marah-marah. Katanya gue sengaja masih buat nama panggilnya ‘Re’. Ingin banget ya nikah sama Diaz. Katanya begitu.”
Renata tampak salah tingkah.
“Padahal bukannya dari awal untuk undangan lue berurusannya sama Jojo. Kenapa gue yang di semprot.”
“Ya lue kan penanggung jawab nya.”
“Yang penanggung jawab gue. Karena gue yang urus.”
“Dan juga bukan sepenuhnya salah Jojo. Sampel itu kan sudah di kasihkan ke lue. Jadi kalau lue bilang ok dan cocok. Ya di lakukan proses cetak.”
“Pokoknya gue gak mau tahu. Gue mau namanya ubah.”
“Ya sudah ntar tinggal di tambah ‘Nata’ saja beres.”
“Kalau jelek bagaimana?”
“Jelek bagaimana? Kan bukan menutup kelebihan namanya. Tapi menambahkan, Ntar di akalin deh.”
“Gue gak mau.” Ucap Renata ngotot.
“Kalau cetak ulang bagaimana dengan biaya produksinya. Untuk tambahan nama itu saja sudah pasti dikenakan biaya tambahan. Siapa yang mau tanggung.”
“Ya kalian lah.”
“Gak bisa begitu dong.” Sela Rere. “Disinikan kesalahan bukan hanya ada pada Jojo tapi lue juga Nata. Jadi ya pembiayaan bagi dua.”
Senangnya gue dibela Rere. Dan biaya tambahannya juga di bagi dua dengan perusahaan. Yes!.
Renata tidak bicara apa-apa. Mukanya terlihat sebal dan jengkel.
“Ok. Gak masalah asal undangannya cepat selesai. Karena mau di sebar.” Ucapnya berdiri dan langsung pergi tanpa kata-kata lagi.
“Eeemhm gerem gue lihat dia Re. Minta cepat pula.”
“Lagian lue juga salah. Bukannya teliti.”
“Terus biaya produksi bagaimana?”
“Ya bagi dua.”
“Sama perusahaan kan!”
“Lue dan Renata lah.”
“Lah kok begitu.”
“Potong gaji.” Ucap Re senang.
“Jangan dong. Bukannya tadi lue bilang sama perusahaan.”
“Gak ada. Gue bilang kan biaya bagi dua.”
“Gue heran sama lue. Kok masih mau bantuin dia.”
“Mau bagaimana lagi. Terlanjur janji.”
“Kesel gue lihatnya.”
“Mungkin dia takut kehilangan.. kehilangan orang yang dicintainya. Wajarkan.”
“Wajar dimananya?”
“Sudah ambil positifnya saja.”
“Takut kehilangan lakik tapi gak takut kehilangan sahabat.”
“Gak boleh begitu ah..”
“Sabarnya dirimu.”
“Laper ini. Kiki mana lagi.” Rere berjalan keluar ruangan mencari Kiki. “Ki tolong gue.. laper.. Tolong belikan nasi goreng.”
“Gue nitip satu ya.”