ReDiaz

ReDiaz
Cemburu



Sebenarnya sangat ingin mengantar Mia ke Bandara. Sudah satu tahun lebih tidak bersua karena kesibukan masing-masing.


Gue dengar Rere dan Hadi yang akan mengantar Mia. Entah mengapa gue gak suka kalau Hadi dekat dengan Rere. Dari pertemuan pertama. Gue yang sesama lelaki tahu melihat gelagatnya Hadi menaruh hati pada Rere. Sepertinya. Curi pandang. Menjual senyuman. Atau perasaan gue saja.


Andai hari ini Renata tidak merengek minta ditemani fitting baju pengantin gue pasti sudah kabur menyusul.


Ya gue memang masih menyimpan rasa untuk Rere. Dan gak rela bila Rere dekat dengan cowok lain. Dengan Jojo awalnya gue juga merasa cemburu. Tapi lama-kelamaan melihat sikap Rere terhadap Jojo yang hanya nganggap Jojo sebagai rekan kerja. Kekhawatiran itu memudar.


Sehabis fitting baju Renata mengajak makan siang. Sebenarnya gue menolak alasan sudah banyak pekerjaan di kantor. Tapi dia tetap memaksa. Ya sudah berhubung perut juga sudah lapar.


Saat akan memasuki restaurant kami berpapasan degan Rere dan Hadi.


“Rere.” Ucap Renata.


“Nata”


“Kebetulan.”


Rere senyum terpaksa. Tampak jelas di raut mukanya untuk berharap tidak bertemu kami.


“Ya sudah yuk makan bareng.” Sambung Renata.


Rere melirik Hadi. Memandang tajam seolah bertanya ‘lue keberatan tidak gabung dengan mereka’.


“Boleh.” Jawab Hadi


“Ya sudah deh.” Rere mengiyakan. Nadanya seolah mengisyaratkan keterpaksaan.


Kami makan di meja yang sama. Tampak Rere merasa tidak nyaman.


“Kamu gak kenalin ke aku pacar kamu Re?”


Semua terkejut dengan perkataan Renata. Hadi yang juga tidak tahu apa-apa dibuat terpelongo.


Cari ulah lagi Renata.


“Hadi bukan pacar gue. Dia rekan bisnis gue!”


“Bener.”


“Kenalin dulu ini sahabat gue Renata yang pernikahannya lagi gue handle. Pakai catering lue juga.”


“Hadi.”


“Renata.”


“Jadi ini calon kamu ya Bro!” Ucap Hadi pada gue.


“Kalian sudah saling kenal.”


“Baru juga kemaren ketemu, kebetulan temannya mereka, teman aku juga.”


“Kebetulan sekali ya.” Jawab Renata sinis.


“Ya.. Dunia begitu sempit.”


Makanan yang terhidang di meja belum tersentuh dari tadi. Gara-gata Renata suasana jadi canggung.


“Buruan di makan ntar dingin.” Ucap Hadi diikuti dengan suara perutnya. Minta segera diisi makanan.


“Silahkan. Makan Re!”


Hanya karena gue menyebutkan ‘Re’, gue dilirikin oleh Renata. Sementara Re menjawab dengan senyuman dan anggukan.


Gue melahap semangat. Enak.


“Oh ya Hadi kamu sudah punya pacar belum.”


“Yang pacaran sama aku pada kabur. Abis kerja mulu. Gak ada waktu jalan bareng. Kamu mah beruntung bisa dapat Diaz yang bisa temani kamu.”


Renata tersenyum bangga.


“Kenapa kamu gak pacaran saja dengan Rere.”


Perkataan Renata yang tadinya sangat selera dengan makanan yang menggoyang lidah membuat nafsu makan gue hilang seketika.


“Maksud lue apa Nata.” Sela Rere.


“Ya kalian kan sama-sama pekerja keras, sama-sama single. Ya mana tahu cocok. Ya kan sayang!”


“Ngapai ikut campur? Itu urusan mereka.”


“Niat aku kan baik.”


“Terima kasih niat baiknya.” Ucap Rere tampak menahan emosi.


“Kami hanya berteman. Sejak awal setiap orang sudah di tentukan pasangannya dan jodoh datangnya dari Tuhan.” Ucap Hadi menyindir Renata.


Ada ketidaksenangan di raut wajah Renata saat mendengar jawaban Hadi.


Sikap Renata membuat gue malu dihadapan Rere dan Hadi. Apa maksudnya. Cemburu? Sampai menjodohkan Rere dan Hadi.