ReDiaz

ReDiaz
Pertemuan Tak Terduga



Seharian ini hujan turun walau tidak cukup deras. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30. tapi mentari masih malu-malu menampakkan cahayanya. Padahal ada janji dengan Renata untuk membicarakan konsep untuk pernikahan nya nanti. Jojo yang tadi mau menemani justru tidak jadi lantaran tidak enak badan. Maklum saja belakangan kerjaan numpuk jadi wajar Jojo kelelahan dan jatuh sakit.


Gue berjalan dari parkiran menuju restoran tempat gue janjian dengan Renata. Kalau gak janjian dengan Renata gue udah bobok manis di bawah selimut.


Hujan masih turun rintik-rintik. Terpaksa gue menggunakan payung saat turun dari mobil. Baru juga berjalan lima langkah telepon gue berdering.


“Halo.”


“Re tolong gue.”


“Kenapa Jo.?” Ucap gue cemas.


“Tolong anterin gue ke rumah sakit, gue lagi gak bisa nyetir. Mata gue kunang-kunang.”


“Gue udah nyampek restoran tempat janjian sama Renata, dirumah lue gak ada orang rupanya.”


“Gue kan orang Re.”


“Maksud gue orang tua lue. Adek lue.”


“Dari semalam mereka semua keluar kota.”


“Coba hubungi Ferdi.”


“Lagi sibuk ngatur di lapangan.”


“Gimana dong! Pesan taksi online gih.”


“Kalau pingsan terus dibawah kabur. Di culik bagaimana?”


“Lebay lue.”


“Tolong gue dong, sudah mau ****** ini.”


“Yang benar saja.”


“Beneran.. kalau gak percaya cepetan kemari.”


Ada aja Jojo. Kenapa juga gak dari tadi bilangnya. Gue udah nyampek lagi. Ya sudah lah kalau gue diposisi Jojo pasti dia bakalan Meluncur secepat kilat bantuin gue.


Telepon Renata dulu agar dia tidak menunggu gue.


“Halo Nata.”


“Ya Re, sudah dimana?”


“Gue udah di parkiran cuma ada urusan mendesak. Jojo sakit jadi gue mau antar dia ke rumah sakit. Maaf ya...” Ucap gue mengabari Renata.


“Ya sayang banget. Tapi mau gimana lagi. Gak apa-apa Re. Kamu Antar saja Jojo ke rumah sakit.”


“Kalau begitu Minggu besok saja ya.. Ntar gue kabari tempatnya.”


“Oke Re. Titip salam untuk Jojo ya. Semoga lekas sembuh.”


“Oke.”


❄️❄️❄️


Karena kemaren gak jadi ketemuan. Hari ini gue dan Renata akan bertemu di kafe biasa tempat gue dan Jojo nongkrong. Kali ini Jojo juga tidak ikut. Bukan karena masih sakit. Tapi mengurusi kerjaan yang tertunda kemaren.


Tiba lebih awal. Gue duduk dengan pandangan mata tertuju pada layar Handphone. Memeriksa jadwal Klien gue yang lain. Menunggu Renata dan calon suaminya.


Gue baru tersadar Seseorang sedang berdiri di hadapan gue.


Sejenak gue terperangah. Terdiam tak dapat berkata apa-apa.


“Diaz.”


Jantung gue berdetak kencang saat melihat Diaz ada didepan mata gue. Orang yang sudah lama gue rindu dengan rasa bersalah. Yang selalu berharap untuk dapat berjumpa kembali. Dan akhirnya terwujud setelah delapan tahun.


“Udah lama Re nunggunya.” Ucap Renata yang baru saja tiba. “Sayang ini sahabat yang aku ceritakan itu. Kenalan dulu dong.”


Sayang.. Renata memanggil Diaz sayang. Jadi calon suami yang di jodohkan dengan Renata itu Diaz. Gak mungkin. Hati gue menolak kenyataan. Rasanya bagai di sambar petir di siang bolong. Belum semenit perasaan bahagia menyelimuti hati karena akhirnya bisa bertemu dengan Diaz setelah sekian lama. Pupus sudah. Diaz sudah milik orang lain yang tak lain sahabat gue sendiri. Seakan sulit untuk bernafas untuk menerima nya. Ini nyata atau mimpi. Teriris pisau sepertinya tidak sesakit ini. Kayak nya bener deh itu lagu. Lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati.