
Mia akan berangkat ke Singapore ada urusan pekerjaan. Dan kembali lagi untuk menghadiri pernikahan Diaz. Gue dan Hadi mengantarkan Mia ke bandara.
“Padahal gue masih kangen, pangen cerita banyak lagi.” Ucap Mia sambil menggenggam tangan gue.
“Sama aku gak kangen?” Ucap Hadi sambil memberantakkan rambut Mia.
“Kangen juga tapi dikit.”
Wkwkk kami tertawa bersama.
“Eemh.. kayaknya ada apa-apa nih.”
“Maksudnya?”
“Lue sama Hadi.”
“Gak ada kok.”
“Sepertinya lue jatuh cinta sama si cupu.”
“Tuhkan. Jadi mikir yang nggak-nggak Rere. Gara-gara lue.”
“Kok aku.” Bantah Hadi.
“Sudah ah.. jangan berantem. Malu. Berantemnya ntar pas lagi berduaan saja.”
“Rere.”
Pipi Mia merah merona. Malu
“Jadi selama ini lue dan Diaz saling berhubungan!”
“Iya. Telponan, video call, kadang gue ke Jakarta, kadang Diaz nya ke Palembang. Katanya dia sih gue penghiburnya, abis lucu.”
“Badut dong.” Sela Hadi.
“Hhus.. nguping lagi.”
“Gak nguping. Kamu saja ngomongnya kekencangan.”
Ya iya secara Hadi ada di belakang kita ya pasti kedengaran. Volume suara lue Mia terlalu gede. Kecilkan dikit kalau gak mau kedengaran.
“Tapi ya Re. Sebenarnya gue juga kaget sekaligus sedih dengar Diaz akan menikah tapi tidak dengan lue. Gue tahu betul bagaimana uring-uringan nya dia sewaktu lue pergi. Dia itu berharap kalau semua mimpi terus dia bisa cepat-cepat bangun.”
“Masa sih Mia.”
“Sumpah.”
“Gue jadi merasa bersalah.”
“Kalau bukan karena Mamanya sakit. Pasti Diaz gak bakalan mau. Dan Re sayang.. gak perlu merasa bersalah begitu, semua itu sudah ditakdirkan. Gak mungkin juga saat itu kamu pergi tanpa ada alasan yang gak jelas.”
“Thanks Mia.. sudah mau jadi sahabat gue yang paling pengertian sampai saat ini.” Ucap gue melow dan memeluk Mia erat.
Kreeek.. kreek. Suara perut Hadi membuyarkan suasana sedih.
“Iiih. Merusak suasana saja.”
“Maaf.. maaf. Abis laper.”
“Ya.. gue masuk ya. Sudah mau take off.”
“Titi DJ ya. TiaTi DiJalan.” Ucap Hadi
“Garing lue.”
“Nidji.”
“Hehee.. lue gak pernah berubah ya Mia.”
“Enak saja. Ada dong. Makin kurus, diet gue.”
Gue menggeleng-geleng kepala lihat tingakah Mia.
“Kalau sudah sampai kabari ya.”
“Iya. Bye.. bye bye.” Ucapnya melambaikan tangan.
Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya bertemu kembali dan baru sebentar saja sudah berpisah lagi. Sedih rasanya, walau hanya sebentar. Sahabat terbaik yang pengertian, penyayang yang membuat gue tertawa. Yang menemani saat suka dan duka. Yang paling mengerti Gue.
“Kamu belum makan siangkan?” Tanya Hadi.
“Belum. Dari kantor langsung ke Airport.”
“Mau makan bareng.”
“Makan di catering lue?”
“Ya makan di Restaurant.”
“Kira di catering.”
“Sudah pesanan semua. Lain kali.”
“Janji loo.”
“Pasti.”
“Ntar gue ingetin loo.”
“Iya.”
Setelah itu kami meluncur. Hadi yang merekomen. Katanya restaurant ini enak. Bahan makanan nya fresh dengan kwalitas terbaik. Tidak kalah dengan cateringan nya yang menduduki peringkat satu. Katanya. Tapi cateringan Mitra Sukses memang The Best. Sejauh kita bekerja sama tidak pernah mengecewakan. Klein gue selalu ajungkan dua jempol. Selama ini gue tidak terjun langsung untuk menanganin soalnya catering karena sudah ada karyawan gue yang menanganinya, makanya gue tidak pernah berjumpa dengan pemiliknya. Ternyata muda, tampan dan mapan. Dan Temannya Mia juga.