ReDiaz

ReDiaz
Dihianati



Besoknya di kantor.


Gue duduk termenung Gundah gulana setelah menyiram tanaman di halaman samping kantor. Taman buah-buahan. Mangga, jambu madu juga kelengkeng. Gue jadi gemar bercocok tanam karena Ayah. Jadi gue membeli tanaman buah untuk menyalurkan hobi. Lumayan jika berbuah bisa nikmati hasilnya.


Hati dan pikiran gue sedang berusaha untuk mengikhlaskan Diaz untuk Renata. Walau menjalankannya lebih berat, tak semudah mengucapkan.


Aah.. Cinta yang di harapkan akhirnya terlepas dari genggaman. Setelah penantian panjang akan berjumpa. Kini kandas. Semangat Re. Harus tegar. Move on dari masa lalu dan cari yang baru.


“Eeemh emh...santai betul ya.”


Jojo berdiri tepat di pintu samping kantor. Tangan kirinya di topang pada pintu.


Gue tidak menggubris Jojo. Melanjutkan lamunan.


“Maaf ya ibu, kerjanya sudah setumpuk bukan waktunya santai.”


“Gue butuh ‘Me Time’ sejenak.”


“Ooh.. Kemaren gak cukup. Kurang lama.”


“Kapan?”


“Modus lupa ingatan.”


“Semalam pelarian. Kabur dari kenyataan .”


“Bedanya apa?”


“Gak bisa dinikmati.”


“Jadi hari ini bisa.”


“Bisa! Ini lagi nikmati kelengkeng yang berbuah. Mau.”


“Haduh... Kawan satu ini kok ya.”


Jojo ikutan duduk bareng gue di bangku panjang. Memetik kelengkeng dan melahapnya. Tampaknya Jojo menyukainya. Memetik kelengkeng lagi dan lagi.


“Lue ambil lagi, gue suruh bayar.”


“Pelitnya.”


“Lue gak pernah bantuin merawat. Tahunya nikmati hasil.”


“Manis Re.”


“Iya kayak gue.”


“Salah! Manisan lue lagi.”


Gue memungut kulit kelengkeng yang berserakan di lantai dan melemparkannya pada Jojo. Refleks dia menghindar dan jatuh.


“Syukurin.”


“Jahatnya.”


“Maaf.”


“Main kabur saja.”


“Banyak pikiran, mumet ini kepala.”


“Tapi jangan main kabur. Lue tahu kerjaan numpuk.”


“Kan sudah minta maaf. Sudah dong.. maaf ya.”


“Iya. Jangan di ulang lagi.”


“Janji.”


“Lupa! Bisa juga gue sehari tanpa hp. Terima kasih ya.”


“Gue yang terima kasih.”


“Kok lue. Gue lah.”


“Kebetulan semalam pulsa gue abis. Dan kebetulan juga pulsa lue banyak jadi gue transfer pulsa deh.”


“Kurang asem lue. Ganti.”


“Dari pada gue jual Handphone lue.”


“Pamrih lue.”


“Sekali-kali.”


Gue lanjut menyiram dan memberi pupuk pohon jambu madu.


“Terus bagaimana soal Renata kemaren.”


“Yang minta jadi di Bandung.”


“Iya.”


“Gue ada ide tempatnya sih. Lue hubungi Dodi gih, besok gue jumpai Renata.”


“Oke bos. Ajari gue ngerawat pohon biar gak di suruh bayar.”


Gue menyodorkan sekop kecil kepada Jojo. Dan mengajari


❄️❄️❄️


Dari mana kamu seharian. Ditelpon gak aktif.”


“Ada urusan.”


“Urusan apa? Dengan siapa?”


“Sudah mulai jadi wartawan. Tanya-tanya begitu.”


“Sama Rere kan? Jojo bilang Rere hilang ntah kemana dan kamu juga.”


Diaz tidak menjawab. Sibuk merapikan dukumen yang masih berserakan di meja. Salah tingkah tanpa melihat wajahku.


“Oke. Dari sikap kamu aku sudah tahu jawabannya.”


“Lagian kenapa kalau ketemu Rere.”


“Kenapa harus Rere?”


“Memang kenapa sama Rere.”


“Kamu masih cinta kan sama dia.”


“Lue kok cemburu gini.”


“Wajar aku cemburu. Calon suami aku ketemu sama mantan sekaligus sahabat aku.”


“Kan sebentar lagi kita nikah. Itu saja tidak cukup?”


“Karena sebentar lagi kita. Bisa tidak lupakan Rere.” Ucap ku emosi. “Atau setidaknya ya jangan Rere. Jangan sahabatku.”


“Cukup. Gue gak mau berdebat masih banyak pekerjaan. Mending lue istirahat fokus sama pernikahan.”


Diaz menepuk pundakku pelan dan mengelus rambutku. Dan berlalu pergi. Meninggalkan aku dengan kesedihan sendiri di kantornya.


Mungkin bila wanita itu bukan Rere tidak jadi masalah. Tapi ini Rere sahabat ku dari kecil. Aku tahu Diaz masih menyimpan rasa pada Rere walau dia menyembunyikan nya dariku. Dan sebagai sesama wanita aku tahu Rere juga masih menyimpan rasa pada Diaz. Hatiku sakit. Aku merasa seperti dikhianati.