ReDiaz

ReDiaz
Friends Zone



Sehabis makan Diaz mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan menekuk muka. Sepertinya dia kesal dan marah padaku. Pasti karena perkataanku tadi pada Rere. Aku hanya mau Rere segera memiliki tambatan hati yang baru hingga Diaz sadar tidak ada lagi kesempatan untuk kembali pada Rere dan dapat melupakannya. Hingga Diaz bisa membuka hatinya untukku. Itu saja.


Saat telah sampai di depan rumah. Diaz diam tanpa kata.


“Kamu marah sama aku.”


Tidak ada jawaban dari Diaz


“Mau sampai kapan aku harus bersabar sampai kamu melupakan Rere?”


“Setidaknya lue jangan bersikap seperti tadi. Sangat kekanakan.”


“Aku seperti itu karena kamu. Andai kamu bisa buka hati kamu untukku.”


“Bukannya gue sudah bilang dari awal dan gue gak minta lue untuk bersabar.”


“Tidak ada ruang untuk aku di hati kamu?”


“Renata.. lue boleh untuk mencintai gue tapi jangan paksa gue untuk cinta ke lue.”


“Apa aku tidak pantas menerima cintaimu.”


“Gue minta maaf.”


“Lantas mengapa kamu masih mau menikah denganku. Kenapa Diaz?”


“Gue gak mau menjadi lelaki yang mencampakkan wanita. Gue akui dari awal gue sudah salah untuk menerima perjodohan ini. Setidaknya gue sudah ngomong jujur tentang perasaan gue. Semua kembali ke lue.”


Air mata menetes begitu saja diikuti dengan turun nya hujan seakan mengerti dengan pesaanku.


❄️❄️❄️


Tengah malam Diaz menelepon gue. Hanya sekedar mengatakan besok siang akan menjemput gue untuk mengajak ke suatu tempat. Gue sudah berusaha menolak secara halus tapi Diaz nya tetap ngotot. Gue mau mencoba menjaga jarak dari Diaz. Dan lagi kerjaan numpuk. Mau kemana sih!.


Siang hari yang terik Diaz menjemput dan mengajak gue ke suatu tempat. Tempat itu begitu familiar. Lue pada tahu dimana. Warung bakso. Tempat kita makan habis Diaz nemani gue ke toko buku.


Letaknya masih sama. Warungnya juga tidak banyak berubah. Seingat gue.


“Kok lue teringat sama warung bakso.”


“Kemaren sore gue gak sengaja lewat. Penasaran gue perhatikan eeh.. ternyata masih ada.”


“Jadi teringat waktu SMA dulu.”


“Nostagia. Waktu itu masih jutek sama gue.”


“Enak saja.”


“Memang bener.”


“Perasaan lue saja.”


“Mau coba. Rasanya masih sama seperti dulu?”


“Mau.” Ucap gue mupeng. ‘Muka pengen’.


Aroma kuah bakso masih sama seperti dulu. Karena rasanya yang enak dan bikin ketagihan membuat warung bakso ini jadi warung favoritnya kita. Setiap pergi ke toko buku pasti pulangnya mampir dulu ke warung bakso. Si bapak nya juga ramah. Masih ingat nggak ya dia dengan kita.


“Pak pesan baksonya...” Ucap gue pada pemilik warung.


“Minumnya.”


“Teh manis dingin kan.”


“Looh kok tahu.”


“Wong.. saya sudah hafal. Pesanannya selalu itu-itu saja.”


“Bapak bisa saja.”


“Sudah lama sekali tidak kelihatan. Pasangannya juga masih sama.”


“Masih ingat!”


“Sudah nikah ya.”


“Bukan pak.”


“Bukan pasangan suami istri.”


Gue dan Diaz saling melirik. Canggung.


“Teman.” Jawab Diaz singkat


“Oh Cuma teman.”


“Iya.”


“Friends Zone.”


Waduh. Nie bapak gaul. Sampai tahu Friends Zone. Diledek pula.


Heheheee


“Cepet ya pak gak pakai lama. Laper.” Ucap Diaz.


“Sabar dek. Cinta memang butuh proses. Lama-lama juga mau.”


“Baksonya pak.”


“Cewek jinak-jinak burung merpati.”


“Terima kasih.”


“Harus dilembuti jangan dikasari.” Bisiknya pelan pada Diaz yang masih bisa gue dengar.


Wkwkkkk


Gue gak berani komentar. Mending kotak katik handphone pura-pura tidak tahu.


Dan akhirnya si Bapak berlalu. Uuufh..


“Diledek gue sama si Bapak.”


Gue hanya senyum-senyum geli.