
Renata kirim pesan kalau dia batal mau resepsi di gedung. Begitu mendadak. Sebelumnya dia sangat ingin resepsi di gedung dengan banyak lampu dan bunga.
Nomor telponnya tidak bisa dihubungi.
Jojo masuk ke ruangan kerja gue.
“Ntar siang Renata mau dateng sama si mantan.”
“Si mantan siapa?”
“Siapa lagi. Calon lakik gak jadi.”
“Gila lue.”
“Memang bener.”
“Gilanya.”
“Calon lakik gak jadi.”
“Enak saja lue! Diaz!”
“Memang benarkan.”
“Tahu dari mana lue Renata mau dateng.”
“Tadi dia telpon gue.”
“Kok bisa. Perasaan tadi gue hubungi nomornya gak aktif.”
“Ya mana gue tahu.”
Heran. Kenapa Renata hubungi Jojo bukan gue. Apa handphone gue yang rusak.
❄️❄️❄️
Pukul 12.15 gue dan renata datang ke kantor Rere. Tiba-tiba semalam Renata mengatakan tidak mau resepsi di gedung. Hari ini dia mengajak gue ke kantor Rere untuk membahasnya. gue tanya mengapa. Dia tidak manjawab. Perasaan gue tidak enak. Apa jangan-jangan.
“Hai Jo.”
“Hai Renata. Sudah dateng.”
“Iya Jo. Kenalin ini Diaz.”
“Ooh ini orangnya. Jonatan tapi cukup panggil saja Jojo.”
“Diaz.” Sahut gue sambil menjabat tangannya.
“Sudah di tunggu Rere di dalam.”
Kantornya lumayan besar. Ada beberapa tanaman bunga yang menghiasi. Tembok kaca tidak menghalangi memandang langsung halaman samping kantor. Berjejer rapi tanaman buah dalam pot. Ada pohon mangga yang sedang berbuah. Melihat mangga membuat gue selalu teringat kenangan dengan Rere saat jatuh dari pohon mangga.
“Re tamu lue sudah datang.” Sahut Jojo.
Rere yang tampak duduk di depan laptopnya langsung berdiri menyambut kami.
“Tamu jauh.” Ucap Rere dengan tersenyum. “Duduk.”
“Lumayan gede juga kantor kamu Re.”
“Ya.. lumayan lah.”
“Kantor gue juga ini.”
“Kemarin kok gak jadi datang. Gue tungguin.”
“Maaf. Ada urusan mendadak.”
“Jadi soal gedung gimana?”
Renata menghela nafas panjang.
“Jadi maunya di rumah.” Sela Jojo.
“Ya gak dirumah.”
“Lantas dimana?”
“Aku mau di luar ruangan. Outdoor.”
“Cari venue kebun. Salah satu hotel di Jakarta ada yang bagus banget. Kita juga sering pakai.”
“Iya Nata. Kalau mau besok kita kesana lihat.”
“Aku maunya di Bandung.”
“Bandung!” Teriak Rere dan Jojo bersamaan.
“Kenapa Bandung.” Tanya gue.
“Lagi kangen Bandung saja. Kalau resepsi di sana seru sepertinya. Secara aku juga keturunan sunda. Kamu gak masalah kan sayang?” Tanya Renata pada Diaz.
“Maaf gue nyela. Masalah nya kita hanya untuk wilayah Jakarta Nata. Bandung diluar dari jangkauan kita.”
“Kamu gak mau bantu aku Re?”
“Bukan begitu. Kita gak sampai area Bandung.”
“Kalau lue di Bandung gue ada teman disana.”
“Kenapa gak di Jakarta. Bukannya Mama juga sudah setuju.” Ucap Diaz.
“Pokoknya aku mau di Bandung.”
Sepertinya gue bener. Dari sikapnya sedikit berubah. Lebih pendiam. Tiba-tiba minta resepsi di Bandung. Renata pendengar pembicaraan gue dan Rere kemarin. Sewaktu menelepon Renata sekilas gue juga melihat mobilnya melintas.
“Aku mau tetap kamu yang bantu ngurus resepsi pernikahan aku Re.”
“Ok. Ntar kita hubungi temannya Jojo. Baru nanti keputusannya bagaimana gue info lue.”
“Ooh ok.”
“Nanti gue hubungi Dodi ya, Re.”
“Oh ya Re.. kamu dulu pacarankan sama Diaz.”
Mendengar perkataan Renata, spontan kami melirik ke arahnya.
“Renata.” Bentak gue.
“Benerkan.”
Rere terlihat salah tingkah.
“Iya, sekarang nggak lagi.”
“Berarti sudah tidak ada rasa cinta lagi kan!”
“Nggak lah.”
“Jadi tidak ada masalah kan kamu membantu di pernikahan kami atau karena masih ada perasaan sama Diaz jadi tidak mau membantu.”
“Gue gak seperti itu ya Renata.” Ucap Rere dan berlalu pergi.
“Kamu kenapa sih Renata.” Tanya gue kesal.
“Gak kenapa-napa.”
“Gue masih banyak urusan di kantor. Lue naik taksi saja.”