
Sudah seminggu Diaz tidak masuk sekolah tanpa kabar. Teleponnya juga tidak bisa di hubungi. Kita yang selalu Trio sekarang jadi Duo.
“Lue gak tau Re dimana Diaz?”
“Emang dia buat laporan dulu ke gue gitu sebelum ngilang.”
“Siapa tau. Lue kan pacarnya.”
“Kagak ada yang tau.”
“Yee.. atau jangan-jangan di culik Re,” ucap Mia panik.
“Udah tua gitu penculik gak bakal mau. Bukan menguntungkan, membebani.”
“Serius nie Re.”
“Gue Darius.”
“Ganti. Gue radius.”
“Apaan sih.”
“Gue gak becanda Re. Mana tau Diaz sakit parah gitu. masa kita sebagai sohib. Sobat karib. gak tau.”
“Iih Masa lue doain Diaz sakit parah.”
“Bukan doain juga, hanya menduga kok.”
“Kata Emak gue omongan itu adalah doa.”
“Gak maksud kok Re.”
Hehehehe. Tawa gue melihat wajah Mia yang merasa bersalah. Kena gue kerjain.
“Bukannya lue senang gak ada Diaz.”
“Aku gak bilang begitu.”
“Kemaren kan bilang senang kalau gak ada Diaz. Gak jadi kambing conggek.”
“Gak ada.”
“Ngeles saja lue.”
“Jadi gak rame gak ada Diaz.”
“Telepon balik coba.. mana tahu sudah bisa di hubungi.”
“Lue saja deh Re, lue kan pacarnya.”
“Gue kan gak punya handphone.”
“Heheehe. Lupa. Sebentar gue coba.”
Diantara kami bertiga, gue sendiri yang tidak punya handphone. Itu karena gue mau fokus belajar. Kak Emma sempat menawarkan untuk membelikannya tapi gue menolak.
“Tetap gak bisa Re.”
“Lusa deh kita datengin rumahnya. Hari ini banyak tugas.”
Mia mengangguk tanda setuju.
“Gak ada temen berantem apa, teman yayang-yayangan.”
“Dua-duanya.”
Wkwkk.. kami berdua pun tertawa lepas.
Tugas rumah menumpuk. Selepas magrib gue mengerjakan tugas hingga jarum jam sudah menunjuk angka sembilan tepat.
“Tidur Re.”
“Sebentar lagi Mak. Nanggung!”
“Nak Diaz kok sudah beberapa hari ini tidak ke rumah ya Re?”
“Diculik alien kali Mak.”
“Huus jawabnya kok gitu.
“Emak sama seperti Mia tanya nya ke orang yang salah. Mana tau Rere.”
“Tapi katanya kalian sudah pacaran. Masa tidak ada memberitahu.”
“Memang tidak ada Mak.”
“Kamu yang tidak mau tahu dan tidak peduli.”
“Ya gak gitu juga Mak.”
Gue hanya terdiam sejenak.
Emak bikin gue merasa bersalah.
Gue melanjutkan belajar. Ditemani Emak yang sedang asyik menyulam untuk kain penutup meja. Di ruang tengah.
“Nanti tolong ingatkan Diaz rantang tempo hari jangan lupa di bawa. Kan bisa untuk di bawakan mamanya lagi ntar maklum rantang satu-satunya.”
“Iya Mak.”
“Ulang tahun Rere kita ke Bandung ya. Sekalian nyekar ke makam ayah.”
“Emak yakin mau ke Bandung? ntar kecapekan.”
“Sudah lama tidak kesana. Rindu.”
“Ya sudah.”
Sejak Ayah meninggal kami harus pindah dari Bandung ke Jakarta. Karena kakak gue di tempatkan kerja di Jakarta. Emak dengan berat hati menjual rumah yang penuh dengan kenangan bersama ayah untuk bisa membeli sebuah rumah kecil di Jakarta dan untuk tambahan biaya hidup kami.
❄️❄️❄️
Hari ini Sabtu, dan besok Minggu tepat hari ulang tahun gue. Mia berharap kali ini gue mau merayakan ulang tahun dengan nya sambil merayakan persabatan kami yang sudah berjalan empat tahun lebih. Gue jadi teringat pertemuan pertama gue dengan Mia. Waktu itu gue baru pindah dari bandung dan masuk ke salah satu sekolah menengah pertama di jakarta. Gue yang yang pendiam. Selalu sibuk sendiri dengan buku-buku gue. Menyendiri di tengah keramaian. Sampai ketika gadis berponi datang menghampiri gue. Dengan lugu dia mengatakan “Mau dong ikutan belajar.” Sambil menunjukan bukunya dan tersenyum manis. Dari saat itu gue gak pernah duduk sendiri lagi. Selalu ada dia disamping gue. Dia sahabat sejati gue, Mia.
Gue selalu memberikan kejutan kecil saat Mia ulang tahun. Menghabiskan waktu seharian bareng. Nonton film Korea walaupun ujung nya gue ketiduran. Gue senang dengan persahabatan ini.
Tidak salah kalau Mia mau gue bahagia saat ulang tahun seperti anak-anak remaja lainnya. Yang gue lakukan mala meratapi sedih kepergian ayah.
Lagian gue juga udah janji bakal ke rumah Diaz buat tanya kabar tuh anak. Kangen juga sama pacar unik gue. Yang selalu berusaha untuk membuat gue tersenyum. Sudah dua Minggu gak bertemu, rasanya separuh hati gue hilang. Tidak ada berantem canda dan adu argument bareng Diaz.