ReDiaz

ReDiaz
Permintaan



Gue merangkai beberapa bunga untuk di pakai besok.


“Besok acaranya pagi kan teh.”


“Iya. Jam sepuluhan.” Jawab gue memastikan.”


“Teh Rere pinter ngerangkai bunganya.”


“Namanya juga sudah kerjaannya Dodi.”


“Benar juga.”


“Dodi sudah temenan lama dengan Jojo?”


“Sudah dari kecil-kecil. Teman berantem dulunya.”


“Pasti dia yang duluan ajak berantem.”


“Gak teh.. gak salah lagi.”


Hahaaa. Gue dan Dodi tertawa bersama. Dan pasti kuping Jojo lagi panas karena kita omongin.


Disaat Dodi dan gue sedang berbincang. Diaz dan Renata datang. Dari kejauhan Renata tampak menggandeng tangan Diaz. Dari raut wajahnya Diaz tampak tak suka.


“Sudah sejauh mana Re.”


“Ya bisa lihat sendiri. Jadi hari ini kita hanya buat panggung.. Meja untuk ijab kabul, kursi untuk para tamu dan photo both. Untuk kain penutupnya dan bunga-bunga akan kita kerjakan besok pagi sebelum acara. Karena di luar ruangan kita gak bisa prediksi cuaca.”


“Oh.”


“Gue juga sudah rangkai bunga-bunganya jadi besok tinggal di tata saja.”


“Bunganya itu saja?”


“Lue kan minta bunganya nuansa putih! Mawar, hortensia dan lily yang biasa kita gunakan. Ya untuk gue juga ambil warna pink yang tidak mencolok untuk gradasi warnanya.”


“Aku mau bunga anggrek.”


“Anggrek?. Kita tidak pernah pakai bunga anggrek. Kecuali ada permintaan sebelum nya. Nah lue gak minta itu sama gue kan.”


“Aku ingin bunga anggrek.”


“Lue apaan sih Renata. Ya sudahlah.. lagian lue juga yang ada bilang.”


“Gak bisa begitu dong. Kan aku bilang mau bunga nuansa putih. Anggrek kan ada yang warna putih.”


“Iya aku tahu.. tapi kan..”


“Untung aku datang lihat. Kalau tidak pasti sangat mengecewakan.”


“Iya teh... bener kata teh Rere. kita juga tidak gunakan bunga anggrek untuk pernikahan kecuali permintaan. Susah mendapatkannya.”


“Pokoknya aku mau anggrek. Kamu sudah janjikan untuk membuat pernikahan menjadi yang tidak akan pernah terlupakan.”


Gue hanya diam. Mencoba menahan emosi. Mau ini anak apa sih? Perasaan dari kemaren-kemaren cari gara-gara mulu. Sebel.. sebel. Ya Tuhan berikanlah kesabaran menghadapi sahabat yang tidak tahu diri ini. Kalau bukan karena profesional kerjaan dan dia sahabat gue. Sudah gue batalkan.


“Tenang teh, saya tahu tempat pembudiyaan anggrek disini. Ntar saya temeni.” Bisik Dodi pelan.


“Terima kasih ya.” Ucap gue pada Dodi.


“Selalu saja begini.” Ucap Diaz kesal. “Gue mau balik ke hotel saja.”


Diaz pergi menuju mobilnya. Diikuti dengan Renata


❄️❄️❄️


Barusan Dodi menghubungi gue. Sekedar menyindir lepas tangan dan membiarkan Rere bekerja sendirian. Kan ada santi dan Ferdi yang bantu untuk di sana. Dodi juga mencerikakan insiden ya tadi siang antara Rere dan Renata.


Mending gue telpon Rere untuk memastikan semuanya.


“Halo..” ucap Rere diujung sana.


“Apa kabar separuh nafas gue.”


“Gak baik.. sedang lelah, letih dan lesu.”


“Kasian.”


“Gak butuh dikasihani.”


“Gue tahu, pasti karena nek lampir kan.”


“Dodi ngaduh ke lue ya?”


“Siapa lagi. Sahabat terbaik gue, gak kayak nek lampir.”


“Ntar cinta baru tahu rasa lue.”


“Sama nek lampir. Amit-amit... Gak bakal.”


“Memang gak bakal. Kalau iya lue jadi Pebinor. Perebut bini orang.”


“Ogah deh. Siapa yang mau.”


“Di sana aman kan.”


“Aman. Lue bagaimana persiapan disana. Ada kendala.”


“Berjalan lancar. Berdoa saja cuaca bagus.”


“Mudah-mudahan hujan badai.”


“Gila lue. Gue yang kena dampaknya. Bisa hancur berantakan. Kenapa repet sama nek lampir.”


“Nah loo ikut bilangin juga.”


“Renata maksud gue.”


“Semoga cuaca bagus dan besok berjalan lancar.”


“Nah begitu.”


“Catering bagaimana?”


“Beres!, Hadi tadi juga sudah telpon gue. Aman terkendali. Besok pagi drop ke lokasi. Santi yang akan handle disana.”


“Ok deh. Sip.”


“Udahan ya. Gue mau istirahat. Capek. Bisa-bisa besok telat bangun lagi.”


“Ok deh. Selamat istirahat separuh nafas gue.”


“Ya. Jangan lupa Cincin berlian.”


“Eeh iya. Yang imitasinya gak apa-apa ya.”


“Pelit.”


Belum lagi gue jawab Rere mematikan telponnya.