
“Turun Neng. Awas jatuh.” Teriak Seorang Bapak paruh baya.
Dia meneriakkan Renata yang ternyata ada di rumah pohon. Renata berdiri disana. Masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam. Rambut yang acak-acakan dan mata sembab.
“Nata turun. Ngapai lue di situ.” Ucap Rere panik.
Tanpa pikir panjang gue berlari untuk menaiki rumah pohon. Mencoba membawa Renata untuk turun.
“Berhenti. Jangan naik Diaz. Aku mohon.”
Permintaan Renata, gue menghentikan melangkah.
“Jangan bunuh diri Renata.” Ucap Ferdi membuat semua orang berpaling padanya.
“Siapa yang mau bunuh diri.” Ucap Renata ketus.
Ferdi salah tingkah. Malu. Dia senyum terpaksa dan menggaruk kepalanya yang mungkin tidak gatal.
“Aku mau minta maaf sama semua. Terutama lue Re.”
“Iya tapi turun dulu.”
“Aku minta maaf sama kamu. Sebagai sahabat aku sudah jahat kamu.” Ucap Renata meneteskan air mata.
“Jangan bicara seperti itu Nata.”
“Nggak. Aku memang jahat sama kamu. Walau begitu kamu tetap baik sama aku. Kamu dengan tulus membantuku. Bahkan kamu rela mengikhlaskan orang yang kamu cinta untukku.”
Renata menyeka air mata yang terus jatuh membasahi pipi.
Wajahnya tampak sedih yang begitu mendalam. Penuh rasa bersalah.
“Dan kamu Diaz. Aku minta maaf karena terus memaksa untuk mencintaiku.” Lanjut Renata.
Gue hanya menunduk mendengarnya. Tak menjawab. Tidak tahu harus menjawab apa. Gue juga merasa bersalah terhadapnya.
“Mama, Papa, Om dan Tante. Renata minta maaf. Renata tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.”
“Renata.” Ucap Mama Renata sedih.
“Cukup Renata. Cukup. Sekarang turun kita bicara baik-baik di bawah.”
Renata masih diam terpaku.
“Gue mohon. Kita bicara baik-baik disini.”
Renata mengangguk dan perlahan dia mulai melangkahkan kakinya. Turun dari rumah pohon.
“Hati-hati.” Ucap gue yang masih berada di bawah pohon menunggu Renata turun.
Gue gapai tangannya. Menjaganya agar tidak terjatuh. Sesampainya di bawah, gue langsung memeluknya erat. Merasakan kesedihan yang dia rasakan. Ini semua juga salah gue. Tidak seharusnya gue menerima perjodohan bila tak mencintainya. Gue telah menyati hatinya.
Pelan gue perangkul Renata untuk duduk.
Mama Renata memeluk anak gadisnya penuh kasih sayang. Menghelus rambutnya lembut.
Renata lebih tenang dari sebelumnya.
Renata memandang Rere dengan hangat. Tatapan bersahabat. Berlahan dia bangkit dari duduknya menghampiri Rere.
“Re, aku masih sahabat kamu kan.”
“Tentu saja! Lue sahabat gue selamanya.”
“Aku tahu rumah pohon itu hadiah terindah milik kamu kan.”
“Lue tahu dari mana.”
“Sejak lama. Aku udah dengar saat mau melihat gedung.”
“Aaah..”
“Aku menyerah Re.. dan Semalaman aku disana.” Ucap Renata sambil menunjuk rumah pohon.
“Lue gila semalaman disana, kan dingin.”
Rere mengelus-elus kuat tangan Renata. Menghangatkannya.
“Gak sedingin sikap Diaz.”
“Jangan ngawur.”
“Lagi nggak.”
Renata menggenggam tangan Rere dan menjalan mendekati gue.
“Diaz, aku gak mau melihat dua orang yang aku cintai bersedih. Jadi menikahlah dengan Rere.”
“Nata.”
“Aku mohon. Bahagia lah demi aku Re.”
“Dan lue!”
“Aku akan bahagia jika melihat kalian bahagia. Seperti kata-kata yang tertulis dirumah pohon.”
Gue dan Rere memang pernah menulis sesuatu dirumah pohon. ‘Diaz cinta Rere selamanya dan takkan terpisah’. Sebuah janji yang kami tulis bersama sebagai tanda cinta yang takkan ada akhirnya.
“Bagaimana dengan lue.”
“Kata seseorang. Cinta yang dipaksa akan berujung saling menyakiti. Jadi tidak ada guna untuk di teruskan.”
“Tapi Nata.”
“Gak pakai tapi.”
“Hari ini gue sudah membuat keputusan. Aku melepaskan kamu Diaz. Merelakan cintaku untuk sahabat tersayang ku Rere.”
Renata menyatukan tangan gue dan Rere di genggamannya.
Entah mengapa hati gue masih terasa sakit karena Rere tidak berusaha memberikan kabar waktu itu. Hal itu yang masih mengganjal di hati.
Gue menarik tangan gue. Rere dan Renata terlihat kaget dengan reaksi gue.
“Kenapa Diaz?.” Ucap Renata pada gue.
“Gue.. gue..”
“Kamu masih marah pada Rere kan.” Ucap seseorang.
“Kak Emma!” Seru Rere.
Kak Emma. Dia datang menghampiri gue bersama Mia, Jojo dan Hadi.