ReDiaz

ReDiaz
Mimpi Indah



Kami telah sampai di restoran Gaya Eropa klasik.


Tamunya hanya kami berdua saja. Sejauh mata memandang tidak ada seorang tamu pun. Heran. Apa restaurant nya sudah di booking Diaz. Tidak mungkin. Atau karena harganya mahal jadi tidak ada pengunjungnya. Bisa jadi juga karena makanannya tidak enak. Begitu banyak pertanyaan di benak gue. Entahlah.


Ikuti saja.


Makanan sudah depan meja. Steak daging. Harumnya menggoda. Wae.. Rasanya enak di lidah. Gue santap lahap ditemani alunan biola.


Setelah semua makanan berat di lahap. Datang hidangan penutup. Es cream vanila kesukaan gue. Diaz tau betul es cream favorit gue.


Topping coklat dan kacang membuat gue tak betah lama-lama memandang. Perlahan es cream itu mendarat dengan rasa manis di tenggorokan. Nikmatnya. Tiap hari begini bisa naik timbangan.


Sudah hampir setengah porsi es cream gue lahap dengan semangat. Saat gue melanjutkan makan kembali. Ada benda yang terasa aneh di mulut. Hampir tertelan. Apa itu?


Gue mengambil benda itu dari dalam mulut. Alangkah kagetnya gue. Cincin. Gue mendekatkannya ke mata. Ya tidak salah lagi. Cincin dengan sebutir berlian yang bersinar. Menyilaukan mata.


“Iaz ada cincin.” Ucap gue polos.


Diaz mengambil cincin dari tangan gue dan menggapai tangan gue.


“Will you merried me?”


Gak salah? Aneh.. apa kepala Diaz kebentur jadi lupa ingatan begitu. Tapi tadi masih ingat Renata. Berarti tidak.


“You sure?”


“Ya bukannya kita pernah berjanji untuk menikah bila kita sudah dewasa. Jadi sekarang waktunya dan jawaban lue?”


Gue mengangguk pelan dan Diaz memasukkan cincin nya ke jari manis. Mata berkaca-kaca. Tak terasa telah menestaskan air mata. Gue terus mengangguk. Pelan.. pelan pelan. Kencang.. Semangkin kencang.. kencang. Kencang. Dan akhirnya. Gue jatuh dari tempat tidur.


Aah Cuma mimpi. Mengecewakan.


❄️❄️❄️


“Berarti lue masih mengharapkan Diaz. Ngomongnya ikhlas. Eh taunya hatinya ngarep.”


“Gak begitu loo Jo. Beneran ikhlas kok. Sekarang beneran sudah ikhlas.”


“Habis kecewa kalau hanya mimpi.”


“Soalnya kayak nyata.”


“Ada adegan menghempaskan Renata balik ke Australia lagi.”


“Atau jangan-jangan kode ya?”


“Kode apaan?”


“Kode lue mau minta kado cincin berlian dari gue.”


“Halu lue.”


“Ya iya. Bentar lagi kan lue ulang tahun. Jadi ngasih kode ke gue minta di kasih kado cincin berlian.”


“Bertar lagi gue ulang tahun?” Jawab gue polos.


“Gak sampai dua Minggu lagi kan 4 Maret.”


“Hehehe.. beneran gak nyadar gue. Lagi gak kasih kode kok! tapi kalau lue mau kasih gue terima.”


“Boleh tapi terima dulu cinta gue.”


“Yee.. mau lue.”


“Gue baru sadar.”


“Sadar memang harus kasih gue kado cincin berlian!”


“Kalau pernikahan Diaz dan Renata bertepatan dengan ulang tahun lue.”


“Ooh ya. Gue juga baru sadar. Apes banget nasib gue ya. Cinta pertama nikah sama sahabat di hari ulang tahun. Kado terburuk yang tak terlupakan.”


“Sebenarnya gak apes kalau lue mau terima cinta gue.”


“Please deh Jo. Jangan lagi. Cinta yang di paksa gak baik loo. Gak apa-apa lue mencintai gue. Gue gak larang! Tapi jangan paksa gue untuk cinta ke lue.”


“Pertahanan lue kuat ya.”


“Bersahabat lebih baik.”


“Tapi lebih baik lue terima cinta gue.”


“Cincin berlian jangan lupa.”


“Gak janji deh.”