
Gue Rinzy Emilia. Tapi cukup panggil gue Rere. Begitu biasa teman dan keluarga gue menyapa.
Walau bukan termasuk dalam kategori cewek cantik setidaknya bisa di katakan manis lah ya.. dengan sedikit memaksa. Heheehe. kira-kira tujuh puluh lima persen (kalau mata gue gak burem waktu bercermin di kaca). Cewek populer. Gue jauh dari kata itu. Yang kenal gue cuma satpam sekolah, itu juga gara-gara gue sering numpang tidur waktu jam istirahat di posnya. Temen Deket paling Mia,teman sebangku gue.Yang lain hanya
sekedar say hai.. doang.
Ooh ya karena prestasi yang gue capai, Dua tahun berturut-turut jadi juara umum gue jadi murid idola para guru. Hanya guru saja. Setidaknya itu yang bisa gue banggakan.
❄️❄️❄️
Bel waktu istirahat sekolah berbunyi, semua siswa siswi berhamburan keluar menyerbu kantin yang ada disudut sekolah. Dan gue lebih milih mojok di spot andalan gue. Di mana lagi kalau bukan halaman belakang sekolah. Duduk santai dengan buku di tangan. Di atas pohon. Ya.. di atas pohon. Emang sih cewek tapi hobi gue nangkring di atas pohon. Kalian bisa ngerasain gimana rasanya? Rasanya kayak dunia milik gue. Damai, aman, nyaman, sentosa. Hembusan angin semilirnya tanpa ada gangguan dan kebisingan. Kebetulan pohon yang di belakang sekolah pohon mangga jadi kalau berbuah bisa sekali mendayung dua pulau terlampaui. Badan adem perut pun kenyang. Kalau aja pohon kelapa gue juga ogah, yang ada di sangkah monyet yang mau ambil kelapa lagi.
Siang ini matahari tidak begitu terik. Angin pun berhembus dengan Sepoi. Membuat mata begitu berat tak tertahan untuk terpejamdan terlelap dalam tidur.
Gubrak... Saat gue membuka mata, gue sudah di bawah saja, Tapi kok gak terasa sakit ya. Bahkan terasa empuk. Apa gue mimpi jatuh dari pohon.
❄️❄️❄️
Nasib orang ganteng dan populer selalu di kejar cewek-cewek. Ngomong nyombong dikit bolehkan. Ada pepatah dari negeri antraberanta mengatakan “cowok ganteng harus sombong”. Bercanda, jangan
di anggap serius. Hidup bakal kaku kalau dibawa serius Mulu.
Cuaca hari ini bersahabat banget. Sekali-kali menghindari dari para fans gue. Hehehe. Lagaknya. Mending ngadem, bobo siang sejenak melepas lelah di belakang sekolah.
Widih.. anginnya bikin ngantuk. Adem bener. Tanpa pikir panjang gue merebahkan badan di bawah pohon. Daunnya yang rindang menghindari dari sinar mentari. Gue rasakan hembusan angin yang mengibas rambut. Serasa di pantai. Gue pejamkan mata sesaat karena suara dedaunan yang tertiup angin menentramkan jiwa. Membawa ke dalam mimpi.
Baru mulai memejamkan mata dan memulai mimpi.
Tiba-tiba...
Gubrak. Gue kira mangga jatuh, eh ternyata.
kok mala orang jatuh. Berat lagi. Remuk deh badan. Sial hari ini.
Segera gue menghempas dia dari badan gue.
Menghindari remukan yang lebih parah.
“Gila lue ya. Gak lihat ada orang di bawah.”
“Aduh maaf.”
“Maaf.. maaf.”
“Gue gak lihat, gak sengaja jatuh.”
“Sebesar ini gak kelihatan.”
“Abis.. Ketiduran. Jatuh ya.. gak lihat-lihat ke bawah lagi.”
“Wah beneran gila lue.”
“Enak saja bilang gue gila.”
“Lagian cewek ngapain lue di atas pohon kayak monyet aja, tidur lagi,
“Ketiduran!”
“Pake jatuh segala ketiban orang,” omel gue sebel. "Sakit tau."
“Iih suka-suka gue mau di mana kok lue yang
ngatur bukan urusan lue.”
“Ya urusan gue.
“Sewot amat.”
“Pasti.. Gue yang kejatuhan lue.”
“Lagian ngapain lue ada di bawah pohon.”
“Suka-suka gue juga kalau begitu mau duduk di bawah pohon.”
“Ikutan.”
“Tanggung jawab lue."
“Memang lue hamil gue harus tanggung jawab.”
“Yee.. becanda lagi. Memang Hamilin anak orang saja harus tanggung jawab.”
“Biasakan begitu.”
“Badan gue sakit semua nie. Lue harus bayar kompensasi minimal biaya kusuk dua ratus ribu."
“Gak salah. Malak lue ya..”
“Bukan malak, ganti rugi.”
“Lagian kusuk dua ratus ribu. Mau kusuk plus plus lue ya?”
“Nuduh sembarangan.”
“Habis kebanyakan, paling juga tiga puluh ribu.”
“Nenek lue yang kusuk tiga puluh ribu.”
“Ya.. datang aja lue ke kuburannya. Paling ntar juga gratis.”
Dasar nie cewek gila. Dia murid sekolah inikan perasaan gak pernah liat.
“Udah cepetan sini dua ratus ribu,” paksa gue.
“Ogah.. badan gue juga sakit gara-gara nimpah lue.”
“Memang gue pikirin.”
“Gue mau minta biaya kompensasi juga. Biaya kusuk dua ratus ribu.”
“Di sini kan gue korbannya, lue tersangka nya jadi lue yang harus bayar. Ini kok lue Mala minta balik ganti ruginya.”
“Ooh.. tidak bisa. Lagian kan bukan mau gue jatuh. Lue juga ngapain di bawah pohon.”
“Jangan ngatur.”
“Ya kalau begitu sama. Weeekk.”
Sebel. Percuma. Gak ada habisnya ngeladeni nih cewek. Gak mau ada ngalahnya. Mending ke kantin. Cacing gue pada berontak. Harus Cepet-cepet nie gue kabur. Kalau jam istirahat udah habis yang ada si cacing nanti unjuk rasa. Bisa hancur ntar.
“Dasar monyet,” ejek gue sebelum pergi.
“Lue tukang palak.”
“Monyet.”
“Tukang palak.”
“Monyet.”
“Tukang palak.”
“Uuuu aaa..” Ucap gue sambil memperagakan gaya menggaruk monyet.
“Gila lue.”
Dan begitulah seterusnya. Saling ejek-ejekan seperti anak SD.
❄️❄️❄️