
“Besok jadi ke Bandung.” Tanya Jojo
“Jadi.. sisa empat hari lagi. Kan mau cek kondisi di sana.”
“Iya sih.”
“Lue gak ikut. Awalnya kan lue yang harusnya kesana.”
“Ogah.”
“Kan ada Rasya dan Icha yang handle di Jakarta. Ayo dong temenin gue.”
“Males gue jumpa sama nek lampir.”
“Nek lampir siapa?”
“Siapa lagi. Teman lue yang nyebelin itu.”
“Renata?”
“Siapa lagi.”
“Ada saja lue.”
“Gue sudah konfirmasi ke Dodi. Lue bisa bantu tata juga. Kalau ada yang kurang tinggal komplain Dodi saja.”
“Sip. Kerjaan gue bisa lebih mudah kalau lue ikut.”
“Kalau mood gue bagus. Gue menyusul.”
“Separuh nafas gue tinggal deh di Jakarta.”
“Gue?”
“Siapa lagi.”
“Jadi selama ini gue separuh nafas lue.”
“Gue sih menganggapnya begitu.”
“Kalau begitu lue sudah terima gue?”
“Jangan ngarep!. Separuh nafas soal pekerjaan tahu. Kalau gak ada lue kan gue cengap-cengap. Tapi kalau ada lue gue bisa bernafas lebih lega.”
“Harapan palsu.”
“Sekedar mengingatkan, jangan lupa cincin berlian ya.”
“Apes bener. Gaji dipotong, si kawan minta belikan cincin. Cinta di tolak.”
“Sekali-kali nyenengin hati teman.”
“Gak janji.”
❄️❄️❄️
Renata sudah pergi dulu ke Bandung. Hari ini gue menyusul. Berat kaki ini untuk melangkah tapi gue sudah mengambil keputusan. Dari awal gue memang tidak mencintai Renata karena ruang hati telah di penuhi Rere. Walau Rere telah kembali dan tahu kalau Rere masih mencintai gue tapi gue gak mau menjadi yang tidak bertanggung jawab yang menjadikan Renata pelarian. Setidaknya gue sudah jujur padanya untuk tidak dapat mencintainya. Keputusan terakhir ada padanya. Dilihat sudah sejauh ini sepertinya dia tidak mempersalahkan gue yang tidak dapat mencintainya. Yang membuat gue tidak dapat kembali lagi pada Rere juga karena masih ada rasa kesal padanya. Rasanya sulit untuk menerimanya kembali. Ada ganjalan dihati. Mengapa Rere tidak berusaha untuk menghubungi gue. Sementara saat itu gue sudah mencoba menghubungi kak Emma tapi tidak ada jawaban.
Gue tiba di Bandung saat malam hari. Sengaja. Untuk menghindar dari Renata. Setidaknya gue bisa beralasan capek dan mau segera istirahat.
Renata menghampi meja gue. Dan duduk di hadapan gue.
“Bagaimana kondisi kamu? Masih capek.”
“Sudah enakan.”
“Sudah sarapan?”
“Sedang tidak selera. Nanti saja.”
“Tadi Tante nelpon. Tante berangkat dari Jakarta siangan. Om ada kerjaan yang harus di selesaikan. Jadi kalau tidak macet, sore seharusnya bisa sampai.”
“Om dan Tante dimana?”
“Mereka. Katanya mau nostagia sama kawan lama. Jadi dari pagi sampai ke Bandung langsung ngilang.”
“Oh.”
“Ntar siang aku mau lihat situasi tempat kita nikah. Kamu mau ikut atau mau istirahat di hotel?”
“Ntar siang ya.. boleh.” Jawab gue.
“Ok. Nanti kita pergi bareng.”
“Kalau begitu gue naik mau istirahat sebentar.”
“Ya sudah. Aku juga mau sarapan. Sampai jumpa nanti siang.”
❄️❄️❄️
“Sepertinya lebih bagus di sini panggungnya. Bagaimana?”
“Bagus. Cocok kok.”
Gue, Dodi dan anggotanya sedang merancang beberapa decor yang akan di pakai besok.
“Saya kira Jojo ikut ke sini.”
“Gue sudah ajak. Tapi dianya gak mau.”
“Dasar tuh anak. Gelo. Masa si teteh yang jadinya terjun ke lapangan sendiri.”
“Memang gue yang mau. Karena yang sahabat gue jadi minta tolong untuk gue yang handle biar jadi yang istimewa.”
“Ooh begitu.”
“Lue sendiri juga terjun turun tangan sendiri.”
“Permintaan Jojo teh. Katanya saya harus bantu-bantu teteh juga. Kalo tidak putus hubungan.”
“Main ngancem dia.”
“Bercanda paling teh. Namanya juga teman.”
“Iya.. iya. Katanya kalau dia ada mood mau menyusul kemari.”
Ada saja tingkah Jojo.