
“Masih ingat rumah pohon.” Diaz memulai pembicaraan.
“Masih. Kado terindah yang tak terlupakan ide Ayah dan pembuat Diaz Haris.” Jawab gue sambil tersenyum pada Diaz
“Bisa saja.”
“Ntah masih ada atau tidak.”
“Masih. Gue sering ke sana.”
“Oh ya. Kapan ya bisa ke sana lagi.” Ups.. salah jawab. Apa Diaz berpikir gue lagi ngajak dia. Maksud gue. Bukan begitu.
“Iya. Kapan saja mau kesana bisa.”
“Ke Bandung?”
“Iya Bandung.”
Gue nyengir salah tingkah.
“Padahal dulu keinginan kita bisa nikah di sana ya.”
“Lue duluan yang ngajak gue nikah di sana, terus gue ngayal macem-macem deh kalau nanti nikah di sana.”
“Rasanya seperti baru kemaren kita habis dari sana.”
“Maaf.. maaf untuk semua Iaz.”
Kata itu keluar begitu saja dari mulut. Karena tekanan rasa bersalah yang bersarang di hati. Diaz tidak menjawab. Pandangan matanya kosong. Mungkinkah dia marah?.
“Maaf waktu itu gue gak bisa tepati janji. Maaf gue pergi tanpa kabar. Maaf sudah bikin kecewa.”
“Gue memang kecewa sama lue. Gue seperti tidak dianggap. Gue sampai berpikir mungkin selama ini lue gak pernah anggap gue pacar.”
“Gak begitu.”
“Lantas mengapa pergi tanpa kabar.” Ucap Diaz emosi. “Hari itu gue dan Mia menunggu sampai malam.”
“Maaf. Saat itu Emak tidak sadarkan diri dan malam itu juga dilarikan ke rumah sakit Singapore. Kalau saja saat itu gue bisa pasti gue kabari lue Iaz.”
”Emak? Jadi bagaimana keadaannya sekarang.”
“Emak sudah tiada. Dia sudah tenang di sana, tidak merasakan sakit lagi.”
Air mata jatuh tak terbendung. Mengalir deras di pipi. Akhirnya. Gue bisa mengungkapkan. Setidaknya alasan mengapa waktu itu gue pergi.
“Turut berduka Re.”
Gue menyeka air mata yang tersisa di pipi. Mata sembab. Gawat bila renata datang bisa mikir yang macem-macem dia.
“Renata kok belum dateng? Coba telpon dulu.”
“Sebentar.”
Diaz pergi menjauh. Ntah apa yang dia bicarakan pada Renata. Tampaknya dia tidak mau gue mendengar pembicaraan mereka.
“Renata gak bisa datang. Urusannya belum kelar katanya. Maaf dia yang ngotot tapi dia pula yang gak dateng.”
“Gak apa-apa. Kalau begitu ketemuan next saja ya. Soalnya gue harus pergi ada janji dengan yang lain.”
“Gak usah. Ngerepotin. Gue pesan taksi online saja.”
❄️❄️❄️
Belakangan pekerjaan menumpuk. Gue harus menghandle sendiri pekerjaan. Sekertaris gue sedang cuti melahirkan. Jadi sehabis melihat gedung pernikahan nanti gue langsung meluncur kembali ke kantor.
“Serius banget.” Ucap Renata mengagetkan. Mata gue hanya tertuju pada laptop di depan. Memeriksa email yang masuk. Bahkan kedatangan Renata pun tidak tahu.
“Iya.. Nina, sekertaris gue cuti. Jadi ya begini. Hampir saja lupa lusa ada meeting dengan Mr. Kim.”
“Pantes aku Dateng juga gak nyadar.”
“Harap maklum.”
“Tidak ada pengganti sementara?”
“Belum sempa cari.”
Renata duduk di hadapan gue. Dan meletakkan sebuah bungkusan di atas meja.
“Pasti makan juga belum sempat juga kan.”
“Makan! sudah apa belum ya? Sepertinya belum.”
“Tuh kan.. ntar sakit loo. Nie aku beli ayam geprek untuk kamu. Makan dulu.”
“Lima menit. Gue beresin ini dulu.”
Dari sudut mata nampak Renata memperhatikan gue.
Segera gue selesaikan pekerjaan.
“Sejak kapan kamu kenal Rere.. sayang? Kamu bilang kenalnya sudah lama.”
“Dari SMA.” Ucap gue sambil membalas email.
“Kalian teman SMA?”
“Iya.”
“Teman dekat.”
Gue berhenti mengetik dan menghela napas panjang.
“Dulu kita pacaran.”
Renata terlihat kaget mendengar ucapan gue. Sejenak dia terdiam melamunkan sesuatu. Raut wajah nya berubah. Ada kesedihan.
“Ooh. Lama pacarannya?”
“Tidak terlalu lama.”
“Terus kok putus?”
“Sudah selesai.” Ucap gue menghindar. “Laper.. Makan dulu ya ntar dingin gak enak.”
Kami pacaran tidak lama. Tapi Rere akan selamanya di hati gue. Putus! Tidak ada kata putus yang terucap. Hanya kesalahan pahaman saja. Gue hanya menjawab dalam hati. Tidak tega untuk mengatakannya langsung pada Renata.