ReDiaz

ReDiaz
Penyesalan



Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku, Diaz dan Rere menginap di hotel yang sama. Aku mengambil gaun dari dalam koper. Pakaian yang sudah aku persiapkan sebelumnya untuk Rere sebagai bridemaids di pernikahanku. Segera aku menuju kamar Rere.


Aku berdiri lama di depan pintu kamar Rere. Memikirkan banyak hal yang menumpuk di kepala. Banyak hal yang ingin aku bicarakan.


Tok.. tok tok. Perlahan pintu aku ketuk. Tak lama Rere membuka pintu kamar.


“Renata! Ada apa malam-malam? Apa ada yang tidak sesuai lagi.”


“Tidak.”


“Kalau begitu kenapa? Masuk dulu ayo.”


Gue memasuki kamar Rere. Ada beberapa bunga yang siap di rangkai dan beberapa bunga masih berserakan di meja. Ada bunga anggrek. Sepertinya Rere benar-benar memcarinya smpai ketemu.


“Bunga anggrek ada.”


“Ada. Tapi gak banyak. Bisa lah untuk di penghias meja. Barusan gue mau merangkai bunga untuk bucket lue.”


“Oh.” Jawab aku singkat.


“Cuma istirahat sebentar. Capek.”


“Ada yang ingin aku bicarakan.”


“Bicara? Apa?”


Ruangan hening. Mulut ini seakan sulit mengeluarkan kata.


“Aku tidak suka melihat kamu dekat dengan Diaz. Lebih baik kamu pergi jauh-jauh dari pandanganku dan Diaz”


Rere terdiam mendengar ucapanku. Tampak jelas raut wajahnya berubah menjadi sedih.


“Ok. Malam ini juga gue balik ke Jakarta. Untuk persiapan besok gue akan suruh anggota gue yang menghandle.”


Rere beranjak dari duduknya. Dan mengeluarkan pakaiannya yang tersusun di lemari. Meletakkan kopernya di atas tempat tidur.


“Tunggu. Jangan pergi dulu.”


“Ada apa lagi? Bukannya lue gak mau melihat gue lagi?”


“Aku mau kamu tetap di sini sampai pernikahanku besok.”


“Bukannya lue gak suka ngeliat gue.”


“Aku mau kamu memastikan aku telah menikah dengan Diaz.”


“Baik, setelah itu gue akan pergi dan tidak akan ada di hadapan kalian lagi.”


“Bisakah kamu keluar dari hati Diaz?”


“Lue bicara apa sih. Kenapa bicara seperti itu.”


“Aku mohon keluar dari hatinya Diaz.”


“Aku mohon.”


“Nata liat gue.”


Rere memegang kedua pipiku untuk dapat melihatnya.


“Dengerin gue. Gue sudah lama gak ada di hati Diaz. Dan Diaz juga sudah gak ada di hati gue. Dan besok kalian akan memulai lembaran baru. Jadi mulai sekarang jangan mikir yang macam-macam.”


“Kenapa kamu masih baik sama aku padahal aku sudah jahat sama kamu? Bantu aku sampai hari ini.” Ucapku meneteskan air mata.


“Itu karena lue sahabat gue. Selamanya akan menjadi sahabat gue.”


“Aku jahat sama kamu Re.”


“Kamu gak jahat Nata.”


“Bukan kamu yang jadi orang ketiga antara aku dan Diaz. Tapi aku orang yang merusak hibungan kamu dan Diaz.”


“Uuiish..! Jangan ngomong begitu. Gue sudah ikhlasin semua. Mungkin Diaz bukan jodoh gue.” Ucap Rere menyeka air mataku.


“Maafin aku ya Re. Aku menyesal.” Ucapku dan memeluk Rere kuat.


Lama kami berpelukan. Aku menyandarkan peluhku di bahu Rere. Meluapkan kesedihan dengan sahabat yang sudah lama ku rindu. Kenapa harus seperti ini.


Aku dan Rere duduk bersama di sofa. Aku telah merasa lebih baik dari sebelumnya. Dada yang terasa sesak kini telah lega.


“Ini baju untuk besok.” Ucap aku sambil memberikan gaun pada Rere.


Awalnya Rere hanya meperhatikan. Lama dia memandang. Dan akhirnya Rere mengambilnya dari tanganku.


“Kenapa harus repot-repot.”


“Memang sudah seharusnya.”


“Cantik sekali gaunnya.”


“Kamu suka Re.”


“Tentu saja. Terima kasih.”


“Aku yang harusnya terima kasih.”


“Selamat atas pernikahan lue.”


Gue tersenyum tipis.


“Gue berharap lue selalu bahagia Nata.”


Kata-kata Rere membuat aku terharu. Begitu tulus tanpa terpaksa. Aku merasa bersalah atas semua.