
Pagi ini cuaca Bandung cerah. Sinar mentari menghangatkan ditengah udara Bandung yang dingin. Hari ini Diaz bilang mau mengajak gue ke suatu tempat. Kita janjian jumpa di taman samping Home Stay tempat kami ngobrol tadi malam.
Diaz udah menunggu gue.
“Udah lama nunggu.”
“Bentaran kok.”
“Jadi.”
“Jadi dong.” Ucapnya semangat.
“Tapi kok gak mendung ya.”
“Bukannya bagus.”
“Iya sih, mending panas ya. Kalau hujan ya neduh ya kan berdua anget-angetan. Hehehehe.”
“Piktor lue.”
“Apaan tuh Piktor.”
“Pikiran kotor.”
“Yee lue tuh. Maksudnya minum yang anget-anget.”
“Ngeles aja lue, yuk aah buruan berangkat.”
“Beres bos. Kita naik motor ya gue pinjam motor nya paman.”
“Iya.”
Obrolan yang tidak bermanfaat.
Hati gue tersentuh mendengar cerita Rere. Bisa tebak kalau dia begitu sayang pada Ayah nya. Baru kali ini gue lihat Rere menangis sesedih nya. Gue gak tau harus berbuat apa. Gue hanya bisa mengelus pundak Rere untuk menenangkannya.
Beberapa hari ini gue terus kepikiran cerita Rere. Bandung. Terlintas dalam pikiran gue untuk kasih surprise buat Rere. Tapi waktunya mepet seminggu lagi. Belum di coba gimana bisa tau.
Besoknya gue sengaja datang pagi ke sekolah buat jumpai guru BP. Dengan muka sedih dan membawa secarik surat ijin dari Papa yang sebenarnya gue yang buat. Jangan ditiru!.
Gue mohon ijin untuk menjenguk nenek gue yang lagi sakit di Medan dan berjanji bakal mengejar ketinggalan pelajaran.
Awalnya sih tidak diijinkan tapi karena terus merengek dan bilang sudah dari sejak kecil tidak jumpa akhirnya dengan setengah hati mengijinkan juga. Dengan ancaman kalau gak mengejar ketinggalan pelajaran gue bakal tinggal kelas.
Gue pergi ke Bandung seorang diri menyiapkan kejutan yang tak terlupakan untuk cewek yang gue cinta. Gue tidak ingin melihat Rere meneteskan air mata lagi.
“Kita udah sampai, sekarang udah bisa buka mata.”
Gue buka mata perlahan. Sinar matahari menyilaukan. Hamparan pepohonan hijau. Sangat asri. Di hadapan gue ada pohon besar yang rimbun. Ada sesuatu. Rumah pohon. Begitu indah. Tanpa sadar air mata mengalir membasahi pipi.
Kenangan waktu itu terlintas lagi. Rumah pohon yang ayah janjikan untuk gue. Sekarang tepat di hadapan gue.
“Gue udah tepati janji ayah lue Re. Sekarang lue gak boleh sedih lagi.”
“Hadiah yang begitu indah, yang tidak akan pernah gue lupakan seumur hidup.”
“Gue juga dong.”
“Iya.. Jadi lue ngilang karena ini?”
“Hehee. Iya.. jadi habis ini lue harus bantu gue ngejar ketinggalan pelajaran. Kalau gak gue bisa tinggal kelas.”
Gue tertawa melihat gaya Diaz mengucapkannya. Tingkah, gayanya selalu membuat gue bahagia.
“Pasti.” Ucap gue menyakinkan.
“Pasti tinggal kelas?”
“Nggaklah.. Pasti bantu lue ketinggalan pelajaran.”
“Terima kasih.”
“Gue yang harusnya berterima kasih untuk semuanya.”
Hati gue berbunga-bunga. Kejutan manis yang tidak pernah gue lupakan seumur hidup. Cowok yang awalnya gue anggap pengganggu dan hanya akan mempermainkan gue ternyata punya hati yang lembut dan rela berkorban. Gue gak salah sudah buat keputusan untuk merimanya jadi pacar gue. Kekasih yang bisa di banggakan.
“Re, gue masih penasaran waktu itu lue ngomong apa sih?”
“Yang mana?”
“Yang angkot mogok terus kita di kasih mangga.”
“Ooh itu. Gue bilang mungkin dengan mogoknya angkot kesempatan kita berdua jalan sambil ngobrol. Selama ini bukannya kita hanya ngobrolin pelajaran. Gue mau kita saling ngobrol dari hati ke hati. Apa yang membuat lue jatuh cinta ke gue dan gue jatuh cinta ke lue. Pokoknya semua tentang kita.”
“Panjang amat. Beneran ngomong ini waktu itu.”
“Gak, gue ngarang. Ya iya lah.”
“Tadi lue bilang kalau lue jatuh cinta ke gue.”
“Iya.”
“Kalau begitu perasaan kita sama dong.”
“Ya sama lama. Saling mencintai. Kalau gak mana mungkin gue jalan bareng lue selama ini.”
“Akhirnya gue bisa bernafas lega. Terima kasih Re.”