
Gara-gara semalaman bercerita dengan Renata jadi gak bisa tidur, hampir saja gue telat bangun. Untung ada alarm handphone yang selalu setia dan tepat waktu membangunkan di pagi hari.
Gue sibuk menelepon Santi dan Ferdi untuk memastikan semua berjalan sesuai jadwal. Sebelum mandi gue menyusun rapi ke dalam mobil Dodi yang gue pinjam selama di Bandung.
Selesai meletakkan bunga ke dalam mobil. Gue bergegas mandi. Uust.. gue mandi bebek. Jebar jebur. Sabunan seadanya dan sikat gigi. Selesai. Berdandan seadanya tidak lupa memakaikan gaun yang diberikan Renata. Sangat indah. Terlihat sangat cocok saat gue bercermin di kaca. Seakan gue yang akan menikah dan berandai sedang berada diatas pelaminan. Ah.. sudah lah. Mengapa gue masih saja berharap. Bridemaids rasa mempelai. Aduh. Ngayal terus..
Setelah semua selesai gue segera meluncur ke TKP. Tempat kejadian pernikahan.
Ini akhir kisah cinta gue dan Diaz. Berakhir di pelaminan dengan wanita lain di tempat yang gue impikan. Fix. Semua tentang Diaz tinggal kenangan. Gak boleh menyimpan hati pada lakik orang.
“Wiih. Cantiknya. Pangling looh aku.” Ucap Santi pada gue.
“Iya. Jarang-jarang gue lihat.” Sambung Ferdi.
“Sudah deh gak usah bikin malu. Ingin naik gaji!. Persiapan bagaimana.”
“Beres deh.”
“Aman terkendali.”
“Bunganya bagaimana mbak.”
“Hampir lupa. Ambil itu di mobil sudah selesai gue kerjakan.”
“Oke mbak.”
“Susun yang bener, yang rapi. Kalau gak kena semprot lagi nanti.”
“Tenang mbak. Gak usah khawatir.”
“San, yang bucket bunya kasih gue ya. Biar gue kasih ke Renata.”
Santi mengangguk sambil ngacungkan jempol. Tanda setuju.
“Calon abang ipar lue gak jadi menyusul Fer?”
“Jojo?.”
“Siapa lagi? Memang ada yang lain.”
“Heheee.. lue bisa saja Abang ipar. Tahu itu.. gak bisa dihubungi.”
“Ya sudah deh mau bagaimana lagi.”
“Gue lanjut bantuin Dodi.”
“Iya. Cek sekali lagi pastikan Ok!”
Gue berjalan mengecek situasi. Sudah aman terkendali seperti kata Ferdi atau tidak. Begitu indah seperti pernikahan yang gue impikan. Di tambah cuaca hari ini yang bersahabat. Matahari yang dengan gagahnya bersinar dipagi yang sejuk.
“Nak Rere.”
Seseorang mengagetkan dan menyadarkan gue dari lamunan.
“Sudah lama sekali ya! Tante kangen sama kamu.”
“Baik Tante.”
“Tante turut bersedih ya atas kepergian EMak.”
“Iya Tante. Terima kasih.”
“Renata juga cerita, kamulah yang mengurus semuanya. Kebetulan sekali ya.”
“Kebetulan tak terduga. Oh ya.. Renata mana Tante belum kelihatan.”
“Gak tahu juga. Dari tadi Tante cari-cari tidak ada.”
❄️❄️❄️
Sehabis di rias agar wajah tidak terlihat kusam. Dan memakai pakaian kebesaran calon manten. Gue segera berangkatn ke tempat acara pernikahan. Dengan Papa dan Mama.
Tampak semua telah berkumpul. Ada yang aneh, wajah calon mertua gue. Mama Renata tampak gelisah. Rere yang ada di sampingnya tampak menenangkan dengan mengelus-elus pundaknya. Segera gue menghampiri mereka.
“Ada apa?.” Ucap gue pada Rere
“Renata hilang.”
“Hilang.” Teriak Mama dan Papa bersamaan.
“Iya gak bisa dihubungi. Di hotel juga gak ada.”
“Kemana dia.”
Rere mengangkat pundaknya.
“Dimana kamu Nak?” Ucap Mama Renata sedih.
“Sabar ya mbak, kita cari sama-sama.”
Gue dan Rere saling pandang. Mata kami saling menatap. Dia terlihat cantik sekali. Kecantikannya mengalihkan perhatian gue. Sesaat melupakan Renata.
Andai dia yang menemani gue di pelaminan.
“Bagaimana ini Diaz.” Ucap Mama pada gue sambil memukul pundak gue kuat. Hingga gue tersadar.
Pipi gue terasa panas. Malu pada diri sendiri.
“Sakit Ma.”
“Abis di panggil diam saja.”
“Coba Diaz yang menghubungi Renata.”