ReDiaz

ReDiaz
Selingkuh



Gak perlu waktu lama. Dua mangkok bakso dan dua gelas teh manis dingin sudah sampai di meja. Cekatan juga si bapak. Profesional. Pengalaman bertahun-tahun.


Bukan hanya aroma. Bentuknya juga menggugah selera. Tumpukan bakso, bawang goreng dan seledri.


“Tidak perlu menanti lama. Cari yang pasti-pasti.” Ucap si Bapak sebelum pergi.


“Kok gue jadinya nyesel datang kemari.”


“Lue nya saja yang terbawa perasaan.”


“Sabar deh. Ini ujian.”


“Thanks ya sudah bawa gue kemari.” Ucap Rere.


“Sama-sama. Setidaknya lue senang bisa balik kemari.”


“Lue masih kemari sebelumnya?”


“Setelah sekian lama baru kali ini juga kemari.”


“Ooh.”


“Sebalik gue dari Australia ya kerja dan kerja.”


“Ya sama dong kayak gue.”


“Penggila kerja.”


“Gak terasa ya.. Nikahan lue sebentar lagi.”


“Iya begitulah.”


“Grogi gak?”


“Biasa saja.”


“Oh ya.. kemaren itu gue ketemu Mama lue. Awet muda.”


“Sempet ada bilang sih dia ada ketemu lue. Dia minta sekali-kali ngajakin lue ke rumah buat masak kue lagi.”


“Gak enak lah gue. Segan kok sama Renata.”


“Andai dulu tidak ada kesalahpahaman mungkin tidak begini ceritanya.”


“Tidak baik menyesali yang sudah lalu. Tidak akan ada habisnya. Mungkin sudah jalan takdir seperti itu. Tinggal menunggu takdir yang menentukan.”


Telepon Rere berbunyi


“Halo Jo.., aduh ada apalagi sih!. Ya sudah gue ke kantor sekarang.”


Wajah Rere kelihatan jutek. Sepertinya ada masalah.


“Ada apa Re?”


“Gak tahu deh!. Sekarang Renata ada di kantor.”


“Renata?”


“Iya. Gue harus harus balik kantor sekarang.”


“Tapi baksony dikit lagi itu. Habisin.”


“Kalau ceritanya sudah gini. Gue jadi gak selera makan.”


“Bareng gue.”


“Gak.”


“Tapi Iaz.”


“Ayuk.”


Gue memaksa Rere untuk balik ke kantornya bareng gue. Masa gue mau ninggalin dia sendiri. Naik taksi. Kan gue yang mengajaknya keluar.


Rere buru-buru keluar dari mobil dan berlari kecil ke kantornya. Dan gue mengikutinya dari belakang. Masuk ke ruangan kerja Rere, sudah ada Renata dan Jojo disana.


“Kok kalian bisa dateng berbarengan.”


Gue diam males untuk menjawab.


“Tadi kebetulan kita keluar sama.”


“Kok bisa. Kalian selingkuh ya.”


“Jaga bicara kamu Nata!. Gue sama Diaz gak selingkuh.”


“Jangan asal tuduh.”


“Ada apa lue kemari?”


“Katanya dia mau ubah menu catering.” Sahut Jojo.


“Gak bisa begitu dong. Main ubah seenaknya.”


“Gue sudah bilang tapi dia nya tetap ngotot.”


“Semua daftar menu yang lue mau sudah masuk pesanan di cateringan. Gak bisa sembarangan ubah. Dari awalkan lue yang pilih menunya.”


“Kenapa harus ubah menu sih Renata, bukannya kemaren sudah sepakat.” Bantu Diaz


“Gue Cuma ingin ganti menu.”


“Nata denger. Kalau lue gak suka sama gue tinggal ngomong langsung. Gak kayak gini caranya.”


“Kenapa berpikiran seperti itu.”


“Gue tahu. Lue lakuin ini karena gue kan.”


“Ini semua salah kamu.”


“Salah gue ke lue apa. Bilang..!”


“Kamu masih mengharapkan Diaz kan.”


Sakit kepala gue dengarnya.


“Gue tegaskan ke lue ya. Gue gak mengharapkan Diaz. Gue nyadar diri Nata. Gue sudah nyakiti hati dia dan sebentar lagi dia mau nikah sama lue sahabat gue. Gak mungkinlah.”


“Bohong.” Ucap Renata mulai menangis.


“Lue gak percaya sama gue.


“Aku gak percaya.”


“Kalau gue mau. Sudah dari kemaren-kemaren gue lakuin Toh gue masih yakin Diaz masih cinta ke gue. Dan gue masih cinta ke Diaz.” Jawab gue emosi.


Ruangan jadi hening hanya terdengar suara tangisan Renata. Waduh.. Ngomong apa gue barusan. Keceplosan. Tanpa sadar gue mengungkapkan perasaan dong.


Diaz yang menenangkan Renata, saling pandang dengan gue tanpa bicara. Dan Jojo berdiri di pojok ruangan dengan melipat tangan di dada.