
Hari ini gue ada pertemuan dengan Hadi untuk membicarakan persiapan di Bandung nanti. Sekalian dia mengundang gue ke tempat cateringnya di Jakarta untuk melihat-lihat dan mencicipi makanannya.
“Gak nyasarkan.” Ucap Hadi menyambut kedatangan gue
“Jaman sudah canggih nyasar. Malu di tertawakan teknologi.”
“Silahkan masuk.”
“Terima kasih.”
“Tempatnya luas ya, tertata rapi lagi.” Ucap gue sambil melihat sekeliling.
“Memang harus. Kita kan gak hanya catering untuk acara hajatan tapi juga catering untuk kantor, jadikan sehari-hari. Jadi karyawan kita banyak. Karyawan banyak jadi tempatnya harus luas biar nyaman kerjanya.”
“Keren.” Ucap gue mengacungkan dua jempol.”
Hadi tersenyum. Tersipu malu. Pipinya memerah.
Kami masuk ke ruang kerja Hadi. Besar juga ruang kerjanya. Kalah ruang kerja gue. Di sudut ruang ada pintu kaca hingga bisa memandang keluar ruangan. Yang terdapat kolam ikan. Sudut lainnya terdapat meja panjang yang di atasnya ada banyak makanan yang tersusun rapi.
“Bisa nie tinggal tanggok ikan di depan kalau lagi kehabisan ikan.” Ucap gue bercanda.
“Ide bagus. Ntar di praktekan.”
“Terus itu kenapa banyak banget makanan.”
“Itu. Spesial buat kamu.”
“Aah gak salah.” Ucap gue heran.
“Nggak.”
“Semuanya? Di kira ini perut gajah. Gede.”
“Gak harus dihabiskan semuanya.
“Gak makan berapa bulan kalau gue habiskan.”
“Makan yang kamu suka saja. Kalau gak habis di bawa pulang juga boleh.”
“Nah itu yang gue maksud. Jaga gengsi.”
“Paham. Aku tahu yang kamu mau.”
“Masa cewek makan banyak di depan cowok.”
“Wkwkkk.. Ya gak apa-apa, kamu lucu ya Re kayak Mia. Pantes bisa cocok.”
Gue mencicipi beberapa makanan yang tersaji di meja. Ada Indonesia food, West food, Asian food, Arabic food. Dan rasanya wuenak. Pas dilidah.
“Bagaimana rasanya Re?”
“Top.. jempolan.”
“Duh jadi tersanjung.”
“Memang pengen kan!”
“Hehehee.”
“Pantes saja klein gue selalu pada bilang mantap.”
“Gak nyesal bisa kerja sama dengan catering Mitra Sukses.”
Gue lanjut makan. Sengaja tadi tunda makan siang biar bisa makan banyak. Nahan lapar sedikit tidak masalah. Perut kenyang, hati senang.
“Terus kemaren lue sama Renata bagaimana?”
“Oh.. Yang kemaren.”
“Sory kepo dikit.”
“Yang harusnya bilang sory itu gue. Lue jadi kebawa-bawa.”
“Gak apa-apa.”
“Beneran gak enak gue.”
“Santai saja. Mia cerita ke aku katanya dulu kamu sama Diaz pacaran ya.”
“Mia cerita?. Perasaan itu anak gak pernah cerita kalau gak dit...”
“Aku yang tanya.” Sela Hadi.
“Pantas.”
“Habis penasaran.”
“Hantu kali penasaran.”
“Renata sahabat kamu!. Bagaimana sih perasaannya jadi WO mantan pacar yang mau nikah sama sahabat.”
“Amburadol.”
“Gue perhatikan kalian dua masih saling cinta.”
“Begitu ya. Kayak pengamat saja.”
“Iya. Dari kelagat Diaz begitu. Kamunya juga.”
“Tahu ah.. kok ngomongin gue sih. Kan mau bahas buat di Bandung ntar.
“Maaf lupa.”
“Eeh lue mau tahu gak. Hampir saja Renata minta ganti menu.”
“Minta ganti menu.”
“Iya. Dia ngotot untuk ganti menu.”
“Harusnya biarin saja. Biar aku cancel sekalian. Dikata enak cari cateringan waktunya mepet.”
“Yeee.. gue juga yang repot. Gue WO nya.”
“Lupa.”
Lanjut bahas mengenai di Bandung.
Hadi Triawan di usianya yang terbilang muda. Sukses membangun bisnis cateringnya. Memiliki cabang di beberapa kota besar. Yang pasti banyak cewek berharap untuk menjadi pasangannya. Tapi ternyata. Gue baru tahu ternyata Hadi memendam rasa pada Mia. Dengan terpaksa akhirnya Hadi mengakuinya ke gue. Yang awalnya gue bercanda menebak cinta Hadi bertebuk sebelah tangan.
Kami membahas banyak hal tentang Mia. Sampai lupa waktu bahkan rencana awal membahas tentang Bandung ntar jadi terlupakan.