ReDiaz

ReDiaz
Melarikan Diri



Sudah dari semalaman Rere tidak bisa dihubungi. Renata juga katerlaluan. Sahabat apaan. Sahabat kok gitu. Menyakiti hati sahabatnya. Gue tahu banget Rere walaupun dia masih mengharapkan Diaz tapi gak ada itu terucap niatan merebut Diaz dari Renata.


Kemana gue cari itu anak.


❄️❄️❄️


Pagi buta gue melarikan diri ke Bandung. Pikiran gue kacau. Serba salah. Rasanya ingin teriak sekencangnya. Siapa yang bisa tolongin gue. Please.. Help me.


Kenapa gue ke Bandung ya?. Perasaan dari dulu tempat pelarian gue Cuma ke kota Kembang ini deh. Kebetulan disini sekalian nyekar ke makam Ayah. Gue tabur bunga di atas makamnya dan memanjatkan doa pada sang pencipta. Kangen Emak juga. Emak dimakamkan di Singapore. Lain waktu gue berancana nyekar ke sana.


Tak terasa hari beranjak siang. Mentari tepat di atas kepala. Memancarkan sinarnya yang terik. Tak tahu kemana lagi kaki ini melangkah. Terlintas di benak. Rumah pohon. Sangat ingin ke sana. Apa kabar kado terindah dari orang tercinta. Gue rindu saat itu. Bisakah waktu di putar kembali?.


Berdiri gue terpaku memandang haru. Masih sama. Tak ada yang berubah. Terlihat masih kokoh.


Udara yang sejuk. Menenangkan jiwa. Pandangan gue tak lepas dari rumah pohon. Terbayang gue sedang duduk bercanda dengan Diaz. Tanpa sadar gue senyum sendiri.


“Lagi senyumin apa?” Suara itu.


“Diaz..! lue ngapain di sini?”


“Ngelihatin lue.”


“Kok bisa di Bandung.”


“Feeling.”


“Serius.”


“Feeling.”


“Terserah deh.”


“Ngambek?”


“Sudah tua ngambek, malu sama umur.”


“Celingak-celinguk. Cari siapa.”


“Lue gak bareng Renata.”


“Nggak.”


“Gue kira lue ke Bandung buat cari lokasi resepsi.”


“Gue cari anak Hilang.” Ucap Diaz sambil melirik ke arah gue.


“Sialan! Jadi lue kira gue anak hilang.”


“Pas gue hubungi lue Jojo yang angkat, katanya lue ngilang dan handphone tinggal di kantor”


Ooh ya handphone. Karena terburu-buru lupa bawa. Baru nyadar seharian gak pegang hp. Biasa gak pernah jauh.


“Lue masih marah sama gue?”


“Marah.. gue ingin marah tapi gak bisa.”


“Kok bisa.”


“Ntah lah.. Yang ada gue senang bisa ngelihat lue lagi. Walau ada sedikit kecewa lah sama lue.”


“Kan sudah gue bilang alasannya.”


“Iya.”


“Gue juga gak nyangka bisa ketemu lagi. Sempet mikir lue marah, benci sampe mau gampar gue dan gak mau lihat muka gue lagi.”


Wkwkekkkk.. Dia tertawa lepas. Andai gue bisa lihat tawa itu setiap hari.


“Lucu saja. Masa mau gampar lue. Yang ada lue yang gampar duluan.”


Gue hanya tersenyum kecut.


“Mau naik ke rumah pohon.”


Ragu. Gue melirik atas ke bawah. Bawah ke atas. Menerka seberapa tingginya.


“Jangan bilang sekarang lue gak berani panjat.”


Gue menelan ludah dan menunjukkan ekspresi takut.


“Beneran. Gue gak nyangka loo.”


“Di Singapore gue mau panjat di mana. Sudah lebih dari delapan tahun. Delapan. Naluri tarjan gue ilang. Maklum tarjan masuk kota.”


“Ya sudah ntar gue pegangin. Aman. Anak tangganya masih kuat. Gak usah takut jatuh.”


“Yakin lue.”


“Yakin.”


“Cepetan.”


Duduk santai di atas rumah pohon. Menikmati pemandangan yang memanjakan mata. Mengenang masa lalu indah dengan keadaan berbeda. Kenapa baru sekarang bisa berjumpa. Seakan menyalahkan waktu. Percuma. Penyesalan tiada akhirnya.


“Kenapa gak dibuat disini saja?”


“Apanya?”


“Pernikahan kalian.”


“Disini!”


“Daripada cari tempat lain lagi gak ada waktu. Ini juga sudah bagus, ada rumah pohonnya lagi.”


“Yakin?”


“Kan resepsi kalian. Terserah.”


“Yakin lue gak kenapa-kenapa?”


“Emang gue kenapa?”


“Lue lupa. Bukannya lue yang ngayal kalau kelak kita berdua akan nikah di sini. Sekarang iya gue nikah di sini tapi bukan sama lue.”


Rere tertunduk sedih.


“Apa mau dikata. Semua sudah terjadi. Gue Cuma bisa terima lue sudah jadi milik orang lain.”


Andai lue tahu perasaan gue bagaimana. Perkataan dan hati gue berbeda.


“Mungkin kita tidak jodoh.”


“Lue percaya jodoh Re?”


“Percaya lah. Jodoh sudah ditentukan sejak awal kehidupan kita. Sekeras apapun usaha kalau tidak jodoh percuma.”


Gue berharap jodoh gue adalah Diaz. Tapi apakah gue bersalah kalau sampai saat ini mengharap Diaz adalah jodoh gue.


“Sudah mau sore. Gak balik ke Jakarta?”


“Balik dong. Kalau gak bisa di amuk Jojo gue.”