
Persediaan bulanan sudah pada habis. Sehabis ngantor gue sempetin untuk mampir ke supermarket membeli beberapa keperluan. Serta sayur dan buah.
Troli belanja sudah penuh dengan banyak barang.
Saat memilih sayur gue tertegun pada seseorang di hadapan gue. Sosok yang gue kenal.
“Rere.” Ucapnya pada gue.
“Tante.” Dia adalah Mamanya Diaz.
“Apa kabar Re?. Lama tidak berjumpa.”
“Baik Tante.”
“Kamu tambah ayu.. bikin Tante pangling. Hampir tidak kenal.”
“Tante bisa saja. Tante yang awet muda terus.”
“Keriput di mana-mana kok awet muda.”
“Tante masih kelihatan lama seperti terakhir kali jumpa.”
“Bisa saja kamu. Banyak belanjanya.” Ucapnya sambil memandang pada troli gue.
“Biasa Tante. Bulanan.”
“Sudah selesai. Ngobrol yuk. Kangen juga ngobrol bareng kamu.”
Mama Diaz mengajak gue ngobrol di restaurant dekat supermarket. Cukup kaget. Pertemuan tak terduga.
“Tante senang bisa ketemu kamu lagi. Jadi teringat selalu suruh kamu bantu Tante masak kue kalau ke rumah. Hehee.” Tawanya gembira.
“Re juga senang bisa ketemu Tante lagi.”
“Rere sekarang tinggal dimana? Masih di Jakarta.”
“Iya Sekarang di Jakarta. Sebelumnya Re tinggal di Singapore sama kak Emma.”
“Bareng Emak, Juga.?”
“Tidak. Mak sudah meninggal delapan tahun lalu.”
“Maaf.. Tante tidak tahu. Berarti yang kamu menghilang dulu ya.”
“Bukan maksud Re untuk menghilang Tante. Kak Emma bersikeras untuk membawa Emak ke Singapore. Sementara Kak Emma berkerja, Re yang menjaga Emak.”
“Tante berduka atas kepergian Emak. Dia orang baik. Tante ingat sering di titipkan makanan sama Diaz. Enak-enak.”
“Terima kasih Tante.”
Gue menyeruput teh hangat yang dari tadi tak tersentuh.
“Diaz pernah cerita sama Tante. Tiba-tiba kamu menghilang ntah kemana. Tidak bisa dihubungi. Semenjak itu Diaz mulai menyendiri terus belajar saja di kamar.”
“Maafkan Rere, Tante.”
“Kamu tidak salah untuk apa minta maaf.”
Gue tertunduk lesu.
“Sebenarnya Tante senang dengan perubahannya waktu itu, dari pada Diaz yang dulu yang suka kelayapan. Tapi lama-lama Tante khawatir dengan sikapnya.”
“Re sudah tahu soal Diaz dan Renata kan.”
“Sudah.”
“Tentu saja sudah, Tante dengar Re yang menjadi WO nya ya.”
Gue mengangguk pelan.
“Renata sudah cerita ke Tante.” Mama Diaz menarik tangan gue. “Maaf..Maafkan Tante Re.”
“Kenapa Tante yang jadi minta maaf. Tante gak salah apa-apa.”
Mama Diaz terdiam sejenak.
“Tante yang menjodohkan Diaz. Tante ingin dia melupakan kesedihannya tentang kamu. Walau Tante tahu bagaimana perasaannya.”
“Wajar. Tante pasti juga mau melihat anaknya bahagia. Re yang seharusnya minta maaf.”
Mama Diaz menangis sedih di pelukan gue. Jauh dari perkiraan. Yang gue pikir dia akan menyalahkan gue. Memaki atas kesedihan putra tersayangnya.
Gue menenangkannya. Mengelus pundaknya dengan kasih sayang seperti anak dan ibunya.
“Tante jangan sedih. Toh sebentar lagi Diaz akan menikah.” Ucap gue sambil menghapus air matanya.
“Ya.” Jawabnya pelan. “Biar kan takdir yang akan menentukan nanti.”
Takdir? Apa maksudnya? Ntah lah. Gue tidak berani mengatakannya lebih lanjut.
❄️❄️❄️
Diaz berdiri didepan pintu. Tersenyum manis. Gue yang hendak keluar rumah kaget melihatnya. Sejak kapan dia tahu rumah gue.
“Diaz.. Ada apa? Kok kamu bisa tahu rumah gue.”
“Tahu dong. Siapa dulu. Orang ganteng informannya banyak..” Ucapnya menyombongkan diri.
Penyakit lama kumat.
“Terus ada perlu apa?”
“Mau ngajak makan siang.”
“Gak salah? Renata mana?”
“Renata balik ke Australia.”
“Kok bisa.”
“Biarkan! Dihubungi juga gak bisa.”
“Buruan laper nih.”
Aneh. Tapi tetap gue menerima ajakan Diaz. Menggunakan mobil Diaz kami melaju pergi ke sebuah restaurant.
Di dalam mobil Diaz memberikan gue sebuket besar bunga mawar merah.
“Happy birthday.” Ucap Diaz
Diaz masih ingat hari ulang tahun gue. Terharu jadinya.