
“Kamu belum pesan makan Re?”
“Kebetulan tadi gue baru makan jadi tadi pesan minum aja.”
“Ya kok gitu padahal aku sengaja ngajak ketemuannya di luar karena mau makan bareng kamu.”
“Lue aja yang pesan makan. Gue ma.. gampang laper tinggal pesan.”
“Beneran ya. Aku laper nie. Belum makan dari pagi.”
“Iya.”
“Kamu mau makan apa sayang.” Ucap Renata pada Diaz lembut
“Gue pesan kopi saja, masih kenyang.”
“Aku sendiri dong yang makan.” Ucap Renata dengan cemberut.
Gue hanya bisa tersenyum tipis. Menahan rasa sedih yang sebenarnya tak terbendung. Yang tidak mungkin gue tampakkan..
“Jadi lue mau konsep pernikahan yang gimana?” Ucap gue memulai pembicaraan. “Mau tradisional, modern atau gabungan keduanya.”
“Aku mau nya modern tapi Mama minta ada unsur budaya sundanya. Menurut kamu sayang.”
“Mana menurut lue bagus. Gue ikut aja.” Jawab Diaz singkat.
“Kalau gitu mau yang modern Re. Ntar sama Mama gampang.”
“Mau di gedung yang gak terlalu besar ya karena aku hanya undang saudara sama temen-temen dekat saja. Trus nuansa putih penuh dengan bunga putih.” Ucap Renata semangat.
“Oke.. untuk undangan dan catering gimana?”
“Undangan yang simpel saja. Untuk catering makanan Indonesia aja deh. Gitu aja kan sayang.”
Diaz mengangguk pelan. Sedari tadi dia hanya mendengar kan percakapan gue dan Renata tanpa komentar. Pandangan matanya kosong. Gue hanya meliriknya sekilas. Sumpah gue gak berani menatapnya. Gue merasa orang yang paling bersalah dan tak termaafkan.
❄️❄️❄️
Wajah manis itu. Setelah sekian lama akhirnya gue bisa melihatnya lagi. Benarkah dia. Orang yang selalu gue nanti kehadirannya. Dia sedang berdiri sambil berbicara melalui telepon genggam tidak jauh dari gue.
Gue teringat dengan omongan Renata yang katanya dia ketemu dengan sahabat lamanya saat sedang mencari WO untuk pernikahan kami. Renata menunjukkan kartu namanya. Rinzy Emilia. Nama yang pamiliar buat gue. Dan dia yang akan mengurus pernikahan gue dan Renata nanti.
Ya.. gue akan segera menikah dengan Renata. Kami dijodohkan oleh kedua orang tua kami.
Semenjak Rere pergi tanpa kabar. Hidup gue terasa hampa. Gue sedikit kecewa pada Rere kenapa dia tidak memberi kabar. Kemana dia pergi?. Di rumahnya juga tidak ada siapa-siapa. Bukannya gue pacarnya. Apa dia gak anggap gue pacar. Gue hubungi Kak Emma juga tidak bisa. Apa yang sudah terjadi?.
Gue bener-benar frustasi. Hingga akhirnya kami sekeluarga pindah ke Australia. Sepanjang waktu gue habiskan dengan belajar dan belajar yang dulu hal paling gue benci. Entah mengapa dengan begitu gue merasa Rere ada di samping gue.
Banyak cewek yang berusaha mendekat dan berharap gue jadi pacar mereka tapi gue selalu menolak. berharap suatu saat Rere datang kembali kepelukan gue. Ya.. gue masih mengharapkan Rere.
Sampai akhirnya Mama prihatin dengan sikap gue dan akhir memilih untuk menjodohkan gue dengan anak temannya. Awalnya gue menolak. Tapi Mama terus mendorong gue untuk mau menyetujui perjodohan itu dan gue tetap pada pendirian gue. Menolak perjodohan. Hingga Mama jatuh sakit dan berkata keinginan terakhir Mama hanya ingin melihat anaknya menikah dan hidup bahagia.
Gue dalam pilihan yang berat. Gue gak bermaksud bikin Mama sedih karena gue. Tapi tidak bisa di pungkiri Rere akan ada selalu di hati dan takkan terganti. Dengan berat hati akhirnya gue menerima perjodohan itu. Gue emang bisa mewujudkan keinginan Mama untuk menikah tapi gue gak tau akan bisa bahagia atau tidak.