ReDiaz

ReDiaz
Nikung



Gue menyeruput kopi yang masih hangat. Renata yang sedari tadi di depan gue sama sekali tidak menyentuh kopinya.


Pagi ini kami bertemu di Coffe Shop. Membicarakan mengenai kelanjutan resepsi pernikahan Renata dan Diaz.


“Gue sudah ketemu tempat yang cocok dan temannya Jojo yang di Bandung bersedia untuk bantu kita.”


“Kamu sudah lihat tempat nya?”


“Sudah.. kemarin. Bagus. Keren buat selfi juga. Lue pasti suka.” Ucap gue mencoba mencairkan suasana yang kaku.


“Kemaren? Bareng Diaz.”


Gue kaget mendengar ucapan Renata. Kayak gue sedang ke-gap sama seseorang kalau gue jalan bareng pacarnya.


“Iya. Kebetulan.”


“Kebetulan bagaimana?”


“Ya pas aku lihat lokasi, dia datang.”


Ada raut kecurigaan di wajah Renata.


“Gak usah khawatir. Gue sama Diaz gak ada perasaan lagi kok.”


“Nggak. Aku yakin sahabat aku gak bakal nikung.”


Aduh.. gue jadi serba salah. Siapa yang mau nikung. Gak ada niatan. Gue sudah ikhlas kok. Kalau Diaz bukan jodoh gue.


“Gak bakalan. Percaya deh.”


“Aku percaya.”


“Lanjut ke yang tadi. Gue sudah ngomongin sama Dodi temannya Jojo kalau ntar venue buat kalian mempelai yang dihiasi penuh bunga sekaligus tempat photo bareng keluarga. Sama panggung kecil untuk live music. Buat para tamu kita pakai bangku panjang kayu. Jadi nuansa alamnya dapet. Dan untuk makanan di letak pojok kiri dan kanan.” Ucap gue semangat. “Bagaimana menurut lue?”


“Kamu sudah ambil kesimpulan sendiri tanpa bertanya padaku.”


“Lue gak suka ya?”


“Itu keingan kamu atau aku. Kamu yang nikah atau aku.”


“Bukan begitu Nata. Gue hanya sekedar memberi saran. Kalau mau konsep lain tinggal bilang ke gue.”


“Suka.. tapi ada beberapa yang aku tidak suka.”


“Kalau begitu lue bilang saja gak sukanya dimana. Ntar gue bilang ke Dodi. Soalnya pas acara lue, gue gak bisa hadir. Jojo yang akan handle di sana. Gue Ada urusan di Jakarta.”


“Kok kamu tega sih.”


“Masalahnya.”


“Aku ingin kamu yang mengerjakan Re. Bantu aku buat pernikahan yang paling istimewa.”


“Tapi..”


“Aku mohon. Sama kamu jadi Bridesmaids aku.”


“Mau ya. Acara sekali seumur hidupku ini. Please.!”


Gue mengangguk pelan. Mengiyakan. Berat. Ntah sanggup atau tidak melihat Renata bersanding dengan Diaz di pelaminan.


❄️❄️❄️


Prihatin gue sama situasi yang dihadapi Rere. Gue tahu bener walaupun dia sudah mengikhlaskan Diaz. Hatinya pasti terasa sakit saat membantu menyiapkan pernikahan cinta pertamanya itu. Besar hati menjalankannya.


Melihat cintaku Rere, walau gue selalu ditolak. Gue gak bisa diam saja. Harus ikut turun tangan. Gue gak mau melihat Rere menderita.


“Kok mau-maunya sih ngurusi nikahan mereka.”


“Namanya juga sahabat.”


“Sahabat gak gitu juga.”


“Jadi harus bagaimana.”


“Membuka hati kembali. Memulai lembaran baru dengan cinta yang baru bersama Jojo.”


Rere geleng-geleng kepala.


“Ternyata. Ambil kesempatan dalam kesusahan juga lue ya.”


“Namanya juga usaha.”


“Serius! Harusnya lue nolak. Apalagi omongan nya ke lue waktu itu.”


“Ya sudah lah Jo. Bantuin sahabat sekali-kali.”


“Minta lue jadi Bridesmaids lagi. Sabar banget lue. Takut kepepet lue dia itu.”


“Mana mungkin. Lue pikiran negatif mulu deh.”


“Memang kenyataan.”


“Renata sebenarnya baik.”


“Baik ada maunya.”


“Gak percaya!”


“Lue saja yang mau di bodohin.”


“Iih kok begitu.”


“Lue perhatikan gak kalau Diaz sepertinya gak cinta Renata.”


“Yee gosip pula. Sudahlah laper gue.”


Rere pergi meninggal gue yang masih belum selesai bicara.


“Re. Gue ikut.”