ReDiaz

ReDiaz
Kejutan Ulang Tahun



“Sejuk ya.” Gue memulai pembicaraan.


“Iya.” Jawab Diaz singkat. “Pacar gue satu ini kok manis banget sih. Kalau lama-lama Mandang bisa kena sakit gula.”


“Manis apaan.” Ucap gue menyangkal malu. “Burem kali mata lue udah malem jadi gak kelihatan.”


“Ya nggak lah.. mata gue masih terang.”


“Berapa persen manisnya?”


“Eeemh.” Diaz memainkan daguny. “Sembilan puluh persen.”


Aah.. sembilan puluh persen. Pasti bohong buat menyenangkan hati gue. Mana mungkin, perkiraan gue dari hasil kalkulasi buku kecantikan hadiah dari cream wajah yang gue beli palingan cuma tujuh puluh lima persen itu juga maksa dikit. Nie anak lagi ngegombal ya!.


“Sepuluh persen nya ditambah lue makan gula tiap hari ntar bisa jadi seratus persen.” Sambung Diaz.


“Makan gula tiap hari bisa melar ini badan.”


“Ya penting gue tetap cinta.”


“Yakin.”


“Yakin.. untuk nyuruh lue diet. Hehehe!”


“Becanda Mulu ah..”


“Eeh gue serius, liat nie muka gue.” Ucap Diaz sambil menunjuk wajahnya.


“Muka nahan eek iya.”


“Gak percaya.”


“Kalau gitu jangan makan gula dong. Ntar gue kena diabetes. Ambil manis dari lue aja biar klop seratus persen.” Ucap gue menahan tawa.


Diaz tak bisa menahan tawa mendengar gombalan gue. Dia tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit. Ternyata, bisa juga gue gombalin Diaz.


Ngobrol ngalur ngidul gak jelas, waktu cepat berlalu. Hampir tengah malam. Diaz sedari tadi bolak balik memandang jam tangannya. Mungkin mau mengisyaratkan sudah waktunya tidur. Waktunya mengistirahatkan mata dan badan.


“Gue masuk duluan ya.” Ucap Diaz. “Perut gue mules, panggilan alam.”


Gue ngangguk.


“Buruan sana.”


Huuaw.. . Menguap. Rasa kantuk mulai menyerang. Mata juga sudah terasa berat seakan meminta untuk terpejam.


Baru saja gue bangkit dari tempat duduk. Lampu Home Stay tiba-tiba saja mati. Gawat. Gelap amat. Gue melangkahkan kaki berlahan, gak lucu kan kalau kesandung. Kejedot tembok terus benjol. Jadi bahan tertawaan ntar. Tangan gue meraba-raba dinding. Gue tertawa geli sejenak. Teringat Diaz yang pasti kebingungan meraba untuk mendapatkan air. Paling bentar lagi juga jerit minta tolong.


Ruang tengah terlihat secercah cahaya lilin. Aman.. selamat deh gue. Dan Lampu pun menyala. Di depan gue sudah berkumpul Emak, Mia, Diaz, Pak Azhar dan juga Kak Emma dengan kue tart di tangannya.


Selamat.. ulang tahun.


Selamat ulang tahun.


Selamat ulang tahun.


Mereka menyanyi


Tiup lilinnya tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga. Nyanyi Mia dengan semangat diikuti yang lain.


Tidak terasa ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Tanggal berganti. Tepat tanggal saat gue dilahirkan ke dunia.


Gue meniup lilin dengan perasaan haru. Sama sekali jauh dari pikiran gue. Bisa berkumpul bersama orang-orang terkasih yang gue sayang di saat ulang tahun.


“Selamat ulang tahun ya dek.” Ucap Kak Emma sambil mengecup pipi gue.


Mia memeluk gue erat. “Akhirnya kita bisa ngerayain ulang tahun lue bareng-bareng.”


“Thanks udah jadi sahabat gue Mia.”


Kami berpelukan dengan tangis haru bahagia.


Gue mencium tangan Emak dan dibalas ciuman hangat di kening. Pelan gue bisikan di telinga Emak. “Rere sayang Emak.”


“Emak selalu menyayangi dan mendoakan Rere.”


“Kalau gue boleh cium juga gak?” Ucap Diaz membuat yang lain tertawa.


“Kalau lue mau kena ini.” Ucap gue sambil menunjukkan kepalan tangan mau ninju Diaz.


“Kak Emma kok bisa ada di sini? Bukannya lagi dinas di Singapore?” Tanya gue penasaran.


Kak Emma tersenyum dan memandang Diaz.


“Kemaren itu Diaz hubungi kakak. katanya mau kasih surprise buat kamu jadi ya udah deh Kakak minta ijin sama atasan dua hari buat nyusul kemari. Kapan lagi bisa kumpul bareng gini di hari spesial adeknya Kakak yang paling tercinta ini." Ucap Kak Emma sambil mencubit pipiku pelan.


Kak Emma adalah Kakak gue satu-satunya. Si cewek cantik berbulu mata lentik dengan kuping di tindik. Dan bibir selalu berlipstik. Beda jarak umur kita delapan tahun. Gue tau kalau Kakak sangat menyayangi gue. Dari kecil dia selalu melindungi gue. Pasang badan kalau ada yang menggangu gue. Pokoknya selalu ada.


Prestasi akademik nya bagus. Dia mendapat beasiswa di kampus ternama di Jakarta. Selama kuliah dia juga di terima di sebuah perusahan bergengsi yang memiliki banyak cabang sampai luar negeri. Kalau gue bilang dia itulucky girl . Selalu bawa hoki. Sebulan yang lalu kak Emma dipindah tugaskan di wilayah Singapore. Sedih gue gak ada temen curhat lagi di rumah tapi apa daya.. sepeninggalan Ayah, Kak Emma tulang punggung keluarga kami. Makanya gue selalu menenteng buku. Giat belajar. Bertekad untuk meringankan bebannya.


“Semua ini ide lue Iaz.”


Diaz tersenyum sambil menggaruk kepalanya.


“Gue baru tau tadi Re. Dibangunin Kak Emma.” Ucap Mia.


“Makan kuenya yuk.” Ucap kak Emma.


Kami semua menghabiskan waktu sambil bercerita, bercanda bersama. Bernyanyi ceria. Tidak lupa menghabiskan kuenya.