ReDiaz

ReDiaz
Dilema



“Cinta terindah lue gimana. Masih berharap?” Ucap Jojo.


“Gue tau. Gak pantes kalau gue berharap untuk balik sama dia setelah apa yang udah gue lakukan. Tapi posisinya waktu itu gue juga gak mau kayak gitu. Emak sakit dan gue harus di sampingnya.”


“Ok. Cukup. Berhenti mengingat lagi yang sudah lewat. Yang ada itu bikin lue sedih. Sekarang gue minta dari lue. Please move on. Dia udah mau jadi lakik orang yang gak lain sahabat lue sendiri. Berhenti berharap.”


“Gue dilema Jo.”


“Gue bisa ngertiin kok. Pertama gue cuma bisa bilang yang sabar. Kedua lue harus kerja profesional. Dan ketiga menurut gue.. lue harusnya ngomong deh sama itu cowok supaya hati lue plong. Ya setidaknya gak ada penyesalan lagi dalam diri lue. Lue bisa melupakannya tanpa beban.”


Yang di katakan Jojo benar setidaknya gue harus menjelas apa yang terjadi waktu itu. Agar tidak penyesalan. Tapi.. apa tidak seperti memberikan pembelaan agar Diaz balik ke gue. Aduh bagaimana dong. Dilema.


❄️❄️❄️


Hari ini jadwal gue dan Renata prefer ke gudang yang akan di pakai untuk resepsi pernikahan nanti. Renata ingin melihat langsung gedungnya. Si perfeksionis.


Gue sudah membesarkan hati untuk menerima kenyataan. Itu membantu menjalankan keperjakaan secara profesional tanpa terbawa perasaan.


Diaz tampak berdiri di depan gedung. Tak terlihat keberadaan Renata. Dia terlihat rapi walau dengan setelan kemeja dan jeans. Ntah mengapa langkah kaki gue terasa berat menuju gedung. Mungkin karena ada Diaz.


“Renata agak telat datangnya.” Ucap Diaz.


“Ooh iya..” Ucap gue gugup.


“Mau lihat-lihat gedung nya dulu. Udah sesuai apa belum?”


“Tunggu Renata saja. Kalau gue gak masalah.”


Setelah pembicaraan singkat kami diam seribu bahasa dan sibuk dengan handphone masing-masing.


Suasana canggung. Tidak tau harus berbuat apa. Mau ngobrol apa? Apa yang mau di bahas. Apa etis kalau gue ngebahas mengenai waktu itu. Tidak. Terkesan kalau gue masih berharap bisa kembali sama Diaz dan selama ini hanya salah paham. Walaupun itu benar.


Gak boleh. Diaz bukan milik gue lagi.


“Lama gak ketemu lue banyak berubah ya.” Ucap Diaz membuka pembicaraan.


“Oh ya.. kayaknya dari dulu gini-gini aja deh.”


“Dulu mana pernah pakai rok.”


“Pernah.”


“Gak masuk hitungan.”


“Lue dari dulu masih sama.”


“Gantengnya kan.”


“Sombongnya.”


Heheh... Diaz tersenyum. Diluar dugaan. Gue sangka dia bakalan pasang muka jutek.


“Selamat ya atas pernikahannya.”


Diaz tak menjawab. Hanya senyuman tipis yang terselip di wajahnya.


Lama menunggu, Renata tak kunjung datang. Tanda-tanda akan kedatangannya juga tak tampak.


“Renata masih lama ya.”


“Sepertinya.”


“Mending lihat keliling dulu. Bosan di sini. Kebetulan di samping sana juga ada taman. Bagus.”


Gue berjalan pelan di depan Diaz. Masih terasa suasana canggung.


Kami duduk di ayunan yang ada di taman.


“Untung gak ada pohon mangga Kalau ada pasti lue langsung nangkring di sana.”


Gue tertawa kecil. Jadi malu. Ternyata Diaz masih ingat kebiasaan gue dulu.


“Tapi bener deh kemaren itu gue sedikit kaget lue mau jabat tangan gue.” Lanjut Diaz


“Apaan sih!”


“Dulukan gitu. Gak mau tangannya gue pegang.”


“Ya kan dulu. Sekarang beda.”


Suasana canggung kembali. Pikiran buyar. Ingin rasanya menjelaskan apa yang terjadi waktu itu. Tapi ragu. Terkesan gue sedang melakukan pembelaan. Aah.. Sudahlah. Keberanian itu belum ada. Nanti saja. Sekarang bukan saat yang tepat.