ReDiaz

ReDiaz
Sebuah Janji



“Bener tebakan gue. Pasti lue nangkring lagi di pohon.”


Suara Diaz menyadarkan gue dari lamunan.


“Gak laper?”


“Gak. Masih kenyang.”


“Makan apa tadi?”


“Angin.”


“Tadi gue ke kantin liat lue gak ada. Ya kemana lagi, pasti ke sini.”


“Lagi ingin menyendiri.”


“Kenapa? Mendung amat tuh muka, kayaknya sebentar lagi akan hujan. Ada masalah? Cerita dong.”


Gue hanya memandang sedih Diaz.


“Sini turun. Gak mungkin kan gue ikutan naik. Gak muat di sana.”


“Iya.. ntar,” jawab gue lemas


Perlahan gue turun dari atas pohon yang kira-kira tingginya kurang lebih dua meter.


“Kenapa? Lagi ada masalah? Sharing ke gue. Biar hati lue plong. Kayak gue orang lain saja. Pacar sendiri.”


Sejenak gue hanya terdiam. Gue hirup nafas panjang dan lepaskannya. Lega.


“Lue tau gak Iaz kenapa gue suka manjat pohon.”


“Sumpah gue gak tau.”


Gue memandang Diaz sinis.


“Iya emang gue belum pernah cerita,” jawab gue ketus.


“Memang belum.”


“Lue mau denger gak cerita gue.”


“Iya mau”


“Gak ikhlas gitu jawabnya.”


“Iya.. mau,” Diaz disertai senyum manis.


Membuat gue tidak tahan untuk tersenyum.


“Dulu ayah senang bercocok tanam. Terutama buah-buahan. Dia bilang biar anak-anak bisa menikmati hasilnya. Kalau tanamannya berbuah ayah suka panjat untuk mengambilnya katanya dia seneng kalau ngambil langsung dengan tangannya. Dari sini gue mulai suka ikutan panjat pohon bareng ayah,” ucap gue menahan tangis. “Ayah pernah janji sama gue bakal buatin rumah pohon sebagai hadiah ulang tahun gue. Dan gue masih ingat jawaban gue waktu itu. Gue bilang ke ayah itu akan jadi hadiah paling terindah dalam hidup gue tapi sebelum semua terwujud Beliau jatuh sakit dan dia meninggal tepat di hari ulang tahun gue.”


Air mata yang sedari tadi gue tahan tak terbendung lagi. Mengalir deras. Diaz sigap menenangkan gue. Menyeka air mata gue yang terus mengalir.


“Bulan depan tepat ayah meninggal.”


“Dan ulang tahun lue.”


Gue mengangguk pelan


“Gue selalu diam-diam pergi ke Bandung untuk nyekar ke makam ayah. Padahal gue tau kalau Mia selalu menyiapkan kejutan sederhana buat gue, emak dan kakak juga selalu menyiapkan kejutan kecil untuk gue. Tapi.. guenya mala ngilang.”


“Itu sebabnya Mia bilang kalau lue selalu hilang kalau lue lagi bahagia.”


“Hari bahagia.. yang sebenarnya gue gak bahagia.”


Diaz pengelus kepala gue pelan dan menyandarkannya di bahunya. Baru kali ini gue menangis sejadinya di depan Diaz yang biasa nya gue selalu jutek dan sok jaim.


❄️❄️❄️


“Aduh.. susah amat sih.”


Mia merengek karena pekerjaan rumah yang di kerjakan ya sedikit sulit. Menurutnya. Mia menyandarkan wajahnya di atas meja ruang tamu.


“Re.. aku nyontek dong.”


“Enak saja lue. Belajar.”


“Susah.”


“Siapa bilang.”


“Aku.”


“Ajarannya jangan galak-galak ya.”


“Bawel.”


Gue mengajari Mia soal Fisika. Pelajaran yang gue suka. Mia paling anti dengan pelajaran ini. Dia lebih suka keliling lapangan dua puluh kali dari pada ikutan pelajaran itu. Hitung-hitung bisa kurangi lemak di badan.


“Sudah ngerti kan.”


“Dikit.”


“Sudah segitu banyak baru ngerti dikit?”


“Laper Re.. Jadi gak konsen.”


“Eemh.”


“Emak masak apa?


“Gue lihat dulu deh.”


Gue berjalan menuju dapur. Membuka tudung saji. Tersusun rapi di meja sambal kentang dengan hati, sayur lodeh dan ayam goreng Kalasan. Membuat perut berbunyi saja.


“Mia..” jerit gue. “Sini deh! Enak ini.”


Bergegas Mia berlari menghampiri gue.


“Mau..”


“Ambil piring gih.”


“Kamu kan tuan rumah. Ambil dong.”


“Ya sudah gak usah makan.”


“Iya deh gue ambil.”


Segera Mia mengambil piring sambil mulutnya komat Kamit. Mengomel tanpa suara.”


“Emak mana Re?”


“Ada arisan di komplek sebelah.”


“Tumben Diaz gak nongol bisa lengket kayak perangko.”


“Gue di sini,” ucap Diaz yang baru datang.


“Baru juga senang kamu gak ada.”


“Kok begitu! Katanya fans setia.”


“Habis.. Aku selalu jadi kambing conggek sih.”


“Aduh kacian fans kesayangan gue.” Diaz mencubit pipi cabi Mia dengan gemas.


“Kalau begitu lain kali bawa saja fans lue itu.”


“Fans? Mia punya fans.”


“Iya.” Ucap gue sambil mengelap piring dan menyusunnya di meja makan.


“Ogah..”


“Kenapa?”


“Cupu.”


“Kuwalat ntar.”


“Diaz kok ngomongnya gitu.”


“Beneran, ntar demen loo.


“Gak mau!”


“Ya sudah sini makan.”


“Oh ya Re, Mama suruh ke rumah katanya sudah lama gak datang.”


“Kapan-kapan deh. Lagi banyak tugas.”


Mia dan Diaz melahap makanan dengan semangat. Dan gue gak mau kalah. Ntar di habisin mereka berdua lagi.