ReDiaz

ReDiaz
Gara-gara Mangga



Hari ini Rere mau belajar bareng gue. Itu juga terpaksa. gue harus ngemis minta bantuan untuk ngerjain tugas matematika. Baru deh mau. Gaya merengek adik kecil ternyata berhasil.


Dengan gesit gue berlari. Menunggu Rere di depan gerbang. Kalau tidak, pasti dia kabur ngilang duluan.


“Perasaan bel baru aja deh. Cepet amat lue sudah di gerbang saja,” sahut Rere heran.


“Lue sendiri juga. Bilangin orang.”


Itu kan bener dugaan gue. Dia mau kabur. Hampir gagal belajar bareng nya.


“Memang gue selalu cepat.”


“Ngeles lue.”


“Ya sudah yuk jalan.”


“Jalan?”


“Naik pesawat.. naik angkot lah. Kalau lue mau jalan silahkan, gue naik angkot.”


“Enak saja.”


Kami naik angkot menuju rumah Rere. Lama lagi tadi nunggunya. Panas. Duduknya himpit-himpitan. Eehh belum lagi sampai angkotnya mogok. Terpaksa jalan. Untung gak begitu jauh.


“Yakin kan gak jauh lagi?”


“Yakin...” ucap Rere percaya diri.


Sedetik kemudian.


“Rada lupa sih. Gampang ntar tinggal tanya-tanya saja.”


Perasaan gue gak enak. Pasti nyasar. Harus lanjut jalan lagi. Capek. Bisa naik betis kalau begini caranya.


Tepat di hadapan kami terlihat anak kecil jongkok sambil menutup wajahnya. Sepertinya dia sedang menangis.


“Adik kecil kamu kenapa?” tanya Rere.


Dia gak menjawab dan tetap pada posisinya.


“Kamu kenapa,” ucap gue sambil merangkul pundaknya. Membantunya berdiri.


Dia menatap kami sedih, dengan muka cemberut dan mulut mewek.


“Aku mau itu,” ucapnya menunjuk ke atas dan mengucek matanya.


Bersama gue dan Rere memandang ke atas. Mangga. Dia menunjuk serangkai buah mangga yang lumayan besar dan siap untuk dipanen.


“Kamu mau mangga.”


“Iya,” ucap anak kecil sambil mengucek matanya.


Gue memandang Rere dengan memainkan alis mata. Mengkode.


“Apa lue lihatin gue begitu.”


“Gue gak berani manjat.”


“Apa urusannya sama gue.”


“Ya lue yang manjat.”


“Ogah.. Enak saja lue,” ucap Rere sebel.


“Memang dirumah kamu gak ada orang dek?”


Anak kecil itu menggeleng.


“Ibu kamu kemana?” tanya Rere.


“Belanja ke pasar.”


“Gak ada galah biar kakak jolok.”


“Gak ada.”


“Bantuin. Kasihan. Kalau gue pandai panjat, gue panjat itu pohon.”


“Banyak omong lue. Ya sudah gue panjat. Awas lue mengintip.”


“Nggak.. gak salah lagi,” ucap gue pelan.


Sigap Rere memijakkan kakinya dari ranting ke ranting lain. Salut gue. Dalam sekejap Rere sudah sampai di atas. Rere sibuk merapikan roknya. Takut gue intipin kali. Tangan kecilnya kuat menggenggam ranting pohon. Mirip Tarzan.


“Ya. Buruan.”


“Awas kepala.”


“Iya. Lempar yang bener.”


Puukk.. auw. Mangganya jatuh tepat di kepala gue. Sakit. Pasti sengaja. Gue menoleh ke atas. Rere nyengir. Menertawakan penderitaan gue.


Nie anak kecil juga ikut-ikutan tertawakan gue lagi. Kesel. Gak jadi dibantuin baru tahu rasa.


“Sengaja lue ya.”


“Lue itu. Selain gak pandai panjat. Gak pandai nangkap juga. Cowok apaan itu.”


Gue lagi yang disalahkan. Jelas-jelas disengaja. Marah ya kalau gue suruh dia yang panjat.


“Maling ..!” ucap ibu separuh baya keluar dari rumah yang empunya pohon.


Anak kecil itu cepat mengambil mangga yang masih tergeletak di tanah dan berlari pergi dengan kencang.


“Siapa yang maling Bu,” ucap gue.


“Ya kalian.”


“Bukan,” ucap gue lantang. “Kita kan bantuin anak ibu. Nangis minta ambilkan mangga dia.”


“Iya Bu,” sahut Rere dari atas pohon.


“Anak saya yang mana? Anak saya Cuma satu. Itu juga kuliah di luar kota.”


“Ada tadi anak kecil.”


“Anak kecil mana?”


“Sudah kabur anaknya.”


“Eemh.. Bohong kaliankan.”


“Suer. Nggak Bu. Kalau bohong teman saya jatuh dari pohon.”


“Enak saja lue.”


“Mau saja dikerjain anak kecil. Kalian sudah jadi korban ketiga hari ini.”


“Aah..” Rere dan gue sama-sama kaget.


“Pantesan!” sambung gue.


“Turun kamu.. Ngapai masih di atas. Mau nyolong lagi ya.”


“Ini mau turun.”


“Cepetan.”


“Sabar Bu.”


“Buruan Re.”


“Bantuin dong. Mau loncat.”


“Yakin. Lumayan tinggi.”


“Jangan bawel.”


Rere mengatur aba-aba. Satu, dua, tiga. Gubraaaak.. Untuk kedua kalinya. Gue ketiban Rere yang jatuh dari pohon mangga. Posisinya beda. Wajah saling berhadapan. Sangat dekat. Begitu dekat. Bola mata cokelat. Baru tahu Rere punya tahi lalat di atas bibir. Pantes cerewet.


Kami bangkit bersamaan. Salah tingkah.


“Sakit pinggang nih. Lue bisa naik gak bisa turun.”


“Gak lihat itu. Gak ada pijakan ranting lagi. Kalau gue paksain bisa koyak nie rok.”


“Ooh.”


“Gara-gara lue juga. Bete.”


“Maaf. Kan tadi niatnya nolongin eh rupanya di bohongi. Gue traktir minum es deh.”


“Beneran ya. Ayo.. ntar kesorean.”