Perfect Love

Perfect Love
Futsal



 


Mobilku melaju membelah jalanan yang masih lengang. Meski matahari mulai merangkak naik, suasana pagi ini tidak terlalu ramai. Rupanya hari minggu ini orang - orang enggan beraktivitas di luar rumah, tapi itu hal yang baik untukku yang baru belajar mengendarai mobil. Pagi ini aku membawa mobil sendiri menuju tempat futsal, papa mengijinkan aku membawa mobil sendiri asalkan bersama Mayra. Aku terpaksa menerima persyaratan itu daripada aku harus diantar oleh sopir. Mayra terus mengoceh memintaku menambah kecepatan mobil, jelas aku menolak mentah -mentah permintaan itu. Aku masih pemula lagipula tidak baik memacu kendaraan dengan kecepatan penuh, hal itu dapat membahayakan keselamatan diriku maupun orang lain. Mobilku berhenti saat lampu berwarna merah. Dua orang pengamen kecil mengetuk kaca mobil dan mulai bernyanyi ketika sudah kubuka. Keduanya bernyanyi dengan semangat meski suara gitar kecil yang dimainkan tak senada dengan suaranya. Betapa malang nasib kedua anak lelaki dihadapanku ini, diusianya yang sangat belia sudah harus berjibaku dengan kerasnya hidup. Mungkin memang aku belum pernah merasakan kerasnya kehidupan yang sering banyak orang sebut tapi aku bisa melihat dengan mata kepalaku di jalanan yang kerap kutemui. Papa mamaku juga sudah mengajariku sejak kecil tentang dinamika dunia yang keras untuk seseorang dan membahagiakan untuk orang lain. Kedua pengamen cilik itu menyelesaikan lagunya saat detik lampu merah tinggal sedikit. Aku tersenyum memuji mereka, kemudian menyodorkan beberapa lembar uang pada mereka,


 " Kak, sebanyak ini serius buat kita ?" Aku mengangguk membuat mereka tersenyum lebar,


" Terima kasih banyak ya kak, terima kasih, " Mereka berlalu berlarian kecil sambil tertawa bersama meninggalkan mobilku yang juga melesat saat lampu berwarna hijau.


Mayra memandangku aneh tanpa berkomentar seperti biasa, aku tahu apa maksud tatapannya itu,


" Kita harus membantu sesama Mayra, apalagi dengan kelebihan yang kita miliki tidak semua orang seberuntung kita, " Mendengar itu ia hanya menghela nafas panjang tak membalas ucapan ku,


menyandarkan dirinya ke kursi mobil.


Aku tahu hal ini sedikit tabu untuk Mayra maupun keluarga ku yang lain. Secara turun temurun keluarga kami memang sudah kaya raya, bisa dibilang kami tidak pernah merasakan kesulitan secara ekonomi sebagaimana banyak orang keluhkan. Papaku salah satu yang beruntung dapat mengerti kondisi orang lain yang kesusahan daripada saudaranya yang lain setelah mengenal mamaku. Mamaku berasal dari keluarga yang cukup sederhana tapi ia selalu membantu sesamanya selama ia mampu membuat hati papaku luluh padanya, meskipun mamaku sudah meninggal 10 tahun yang lalu papaku tak mau mengganti posisi mamaku dengan orang lain. Aku berharap kelak aku bisa mendapatkan seseorang yang sangat mencintai ku seperti papa mencintai mamaku.


 


Lima belas menit perjalanan dari rumahku akhirnya aku tiba di tempat futsal. Disana Rafael dan teman - temannya sudah datang terlebih dahulu. Selang beberapa menit kedatangan ku temanku yang lain menyusul di belakang. Bersama teman yang lain aku turun menghampiri Rafael dan menyalami satu persatu temannya, salah satu yang cukup menarik perhatianku adalah Nathan. Ia tersenyum sangat samar hingga hampir tak terlihat ketika bersalaman denganku. Mayra berbisik padaku setelah ia menyalami Nathan,


 " Vin, apa kau lihat lelaki dingin berkacamata itu, dia tidak tersenyum sama sekali padaku padahal teman - temannya yang lain terlihat sangat antusias bersalaman denganku, " Dalam hati aku berkata tentu saja Nathan tidak akan tersenyum pada Mayra, dengan diriku saja yang sudah kenal ia enggan tersenyum.


Padahal kupikir dengan ia memberikan gelang padaku waktu itu akan membuat sikapnya berubah lebih ramah padaku nyatanya ia sama saja dingin hanya sekarang mulut pedasnya tak lagi menghujat ku, aku benar-benar tidak tahu pola pikirnya yang aneh dan aku tak perduli. Kak Arya menghampiri meminta perlengkapan futsal dikeluarkan dari jok belakang mobilku membuat diriku segera bergegas melupakan lamunan tentang Nathan. Dibantu teman yang lain aku mulai menurunkan satu persatu perlengkapan, mulai dari pakaian futsal, konsumsi dan hal - hal penunjang lainnya. Setelah semua Persiapan selesai, permainan futsal antara OSIS Smansa dan Smada dimulai. Kami yang tidak ikut dalam pertandingan, menjadi penonton yang bersorak menyemangati. Kegiatan ini kuakui sangat efektif untuk menambah keakraban OSIS SMA ku dan OSIS SMA Rafael. Kami langsung bisa membaur begitu saja tanpa memperdulikan sekat perbedaan sekolah, saling menyemangati teman yang sedang bermain. Mayra yang bukan pengurus OSIS tanpa rasa canggung membaur dengan teman OSIS SMA ku maupun teman Rafael. Ia bahkan bersorak paling heboh diantara yang lain mendukung teman - temanku dan sesekali menyebut nama Rafael maupun Nathan dengan sebutan cold boy yang tidak dimengerti oleh lainnya. Sebelum pertandingan dimulai, Mayra sempat histeris berbisik padaku saat melihat Nathan turun di lapangan tanpa menggunakan kacamatanya,


" Oh my God Melvin, i can't breath looking him, the boy so handsome, aku tidak menyangka di sekolah rakyat jelatah seperti ini tersimpan berlian bersinar seperti Rafael dan si dingin kacamata itu," Aku tertawa mendengar celotehan nya itu,


" Kamu pikir aku betah sekolah disini karena apa ya karena seperti inilah sensasi nya, " Ujarku bergurau menanggapi Mayra,


" Lihatlah Melvin, he like a bad boy behind the glasses, jarang sekali menemui yang jenisnya seperti itu, apa kamu tahu siapa dia ?" Mayra menggenggam tanganku erat menahan agar tidak berteriak melihat Nathan yang menyisir rambut dengan jemarinya,


" Jadi kamu suka dia ya, dia itu namanya Nathan, wakilnya Rafael di OSIS, hati - hati kalo suka sama dia, dia itu tidak pernah tersenyum dan perkataannya pedas seperti cabai, " Ujarku malah membuat Mayra tersenyum sendiri,


" Benar - benar tipeku, aku harus mendapatkan dia bagaimana pun caranya, " Gumamnya sambil bersandar di bahuku terus memandang Nathan.


 


Sepuluh menit permainan dimulai, gawang OSIS ku sudah berhasil dibobol oleh Rafael. Tendangannya begitu kencang hingga temanku Bintang tidak bisa menahannya, aku terpukau melihat kepiawaian Rafael dalam bidang keolahragaan ini. Saat sedang bertanding seperti ini, ia terlihat berlipat kali semakin keren, tampan, dan sangat jantan. Keringatnya sudah mengalir deras membuat kaos yang digunakan melekat ditubuh mencetak bentuk tubuh seksinya, Mayra berbisik lagi padaku,


 " Kamu pintar sepupu memilih cowok, Rafael terlihat sangat keren dan tampan apalagi dengan keringat yang mengucur dari tubuhnya, terlihat sangat seksi, " Mayra tertawa cekikikan mencubit pipi ku gemas,


" Tapi.....meski begitu, my cold boy is better , lihat itu bagaimana dia menggiring bola, menjaga bola itu, bola saja ia jaga apalagi aku nanti saat jadi miliknya, " Lanjutnya, aku memutar bola mataku mendengar kata-kata gombal Mayra yang entah dipelajari dimana.


Setelah beberapa menit bermain Rafael terus menggempur pertahanan teman - temanku tanpa ampun, berulang kali ia membobol gawang Bintang. Rafael seakan menjadi bintang lapangan dalam permainan ini, hatiku menghangat dan semakin berdebar melihat betapa sempurnanya dia. Saat peluit panjang dibunyikan, OSIS Rafael mendapatkan kemenangan dengan skor 11- 3 yang mana tujuh golnya dicetak Rafael dan selebihnya teman yang lain termasuk Nathan. Aku menghampiri Rafael hendak memberikan minuman yang sudah kupersiapkan khusus dari rumah. Namun langkah ku terhenti saat melihat seorang gadis terlebih dulu menghampirinya dan memberi minuman pada Rafael, gadis berambut pendek itu dengan sangat genitnya memuji kehebatan Rafael di lapangan yang dibalas senyuman oleh Rafael. Hatiku tidak terima melihat gadis genit itu mendapat senyuman manis Rafael, senyuman itu hanya boleh diperlihatkan padaku seorang, tidak untuk gadis manapun di seluruh dunia bahkan Mayra pun tidak boleh mendapatkannya. Mayra mendekati ku tak terima melihat pemandangan menjijikkan itu,


" Ih..... ***** itu sangat menjijikkan, aku tidak terima melihat sikapnya yang menggelikan pada Rafael, Vin, kamu segera harus bertindak !" Mayra benar, aku harus mengambil tindakan membuat gadis genit yang cantiknya tak sampai seujung kuku ku itu menyingkir jauh dari Rafael.


Aku melangkah mendekati mereka yang masih bercengkrama, dengan sangat percaya diri ku keluarkan semua aura kewibawaan dan mendominasi ku. Melihat kedatangan ku perhatian Rafael langsung teralihkan padaku, satu langkah kemenangan sudah kudapat.


" Hai ..... Rafael, permainan yang sangat mengagumkan, sebenarnya aku tadi mau memberikan ini, tapi kulihat kamu sudah mendapatkan dari yang lain, ya sudahlah tidak apa biar kubawa pulang lagi saja," Ujarku tersenyum semanis mungkin menutupi kemarahan yang rasanya sudah sampai ubun - ubun, gadis berambut seperti helm itu mulai melihatku dengan sinis,


" Oh....ya, tidak perlu dibawa pulang lagi Melvin, aku masih mau menerima dengan senang hati, aku merasa masih haus, " Persis dugaanku, Rafael mengambil botol minuman dari tanganku mulai meminum nya, aku tahu ia tidak akan menolak apapun dariku,


" Rafael, tante Jasmine juga menitip salam padamu minta maaf atas waktu itu, malahan dia sekarang sangat suka kalo kamu mengajak aku jalan lagi, ia sangat terkesan dengan sikap kamu yang sopan dan berharap aku bisa mengajak kamu ke pernikahannya lusa, " Ujarku dengan kebohongan dibagian bahwa tante Jasmine minta maaf pada Rafael tapi selebihnya itu benar,


" Benarkah itu Melvin, tentu saja aku sangat tersanjung bisa datang ke pernikahannya apalagi dengan kamu, " Ucapan Rafael telak memukul gadis genit itu tanpa aku susah - susah yang menjatuhkannya.


Aku tersenyum puas melihat wajahnya merah merasa dirinya diacuhkan oleh kami berdua. Namun, aku belum selesai mengirim tamparan keras supaya dia tahu diri sudah berani bermain dengan siapa,


" Rafael, aku selalu memakai kalung indah ini, tidak sedetik pun terlepas dari leherku, sekali lagi terima kasih ya, ini hadiah terindah yang pernah kudapatkan, " Aku mengeluarkan kalung liontin itu dari balik bajuku memandang dengan senang,


Melvin memang selalu menjadi pemenang, selalu menjadi yang nomor satu.


" Rafael ayo ikut, aku akan memperkenalkan sepupuku yang baru pindah dari USA !" Rafael menurut mengikuti diriku.


 


Aku tetap melangkah menggandeng Rafael menuju Mayra yang sibuk menarik perhatian Nathan, dengan sangat manipulatif ia berpura - pura menabrak Nathan dan mengerang kesakitan. Namun namanya juga Nathan, mau bagaimana pun Mayra berusaha sekeras mungkin berpura-pura, ia akan tetap tidak bereaksi yang ada malah Mayra disemprot dengan kata - kata pedasnya.


 


" Mangkanya kalo jalan itu matanya juga digunakan buat lihat !" Nathan menatap Mayra yang berjongkok memegang lututnya,


" A....aku memang salah, seharusnya aku tidak ikut kesini kalo hanya menjadi celaan semua orang, hiks....hiks.....mom dad i Miss u, " Mayra menangis dan Nathan tetap tak bergeming,


" Yah malah nangis, udahlah gausah drama, kamu lo gak kenapa - kenapa !" Nathan menatap Mayra sebal dengan wajah yang ditekuk membuatnya terlihat semakin tak berperasaan.


Teman - teman yang lain hanya melihat kejadian itu tanpa ada yang berani ikut campur, mereka takut ikut terkena semprotan mulut pedas Nathan.


Akibat akting Mayra itu akupun harus ikut terlibat dalam permainan kepalsuannya, tidak mungkin aku bersikap acuh melihat sepupuku menangis, orang lain akan berpikir buruk tentang ku.


" Mayra kenapa kamu menangis, Nathan apa yang sudah kamu lakukan pada sepupuku ?" Meski sebenarnya aku sangat jengkel luar biasa berperan seperti ini, sejujurnya aku juga ingin tertawa melihat perubahan wajah Nathan yang bingung,


" Oh... jadi gadis cengeng ini sepupu mu, pantas sama manjanya, " sahutnya kembali bermulut pedas padaku, aku sadar memang yang namanya karakter tidak bisa dirubah oleh siapapun jika bukan dari dalam diri sendiri,


" Jaga ucapanmu Nathan, Mayra tidak mungkin menangis kalo tidak kamu apa - apakan, apa yang sebenarnya sudah kamu lakukan ?" Lanjutku membela Mayra, membantu ia berdiri,


" Memang benar aku tidak melakukan apapun, dia sendiri yang menabrakku dan tiba - tiba menangis, " Nathan berpegang teguh dengan pendiriannya, aku sadar meski bagaimana pun aku berusaha memojokkannya tidak akan mempan karena memang Nathan tidak bersalah,


" Apa benar itu Mayra, sepertinya ada kesalah pahaman disini, lebih baik kamu minta maaf saja Mayra, percuma saja karena Nathan tidak akan minta maaf, " Akhirnya drama Mayra selesai dengan ia meminta maaf meski sebelum itu ia sempat memberi kode tidak mau tapi aku berhasil memaksa dengan ancaman yang aku bisikkan padanya bahwa Nathan akan benci padanya jika tidak mau minta maaf.


Untungnya kejadian itu tidak berimbas panjang pada pertemananku dan Nathan, setelah itu Nathan tetap bisa bercengkrama asyik bersamaku dan Rafael seakan beberapa menit lalu tak terjadi apapun.


 


Setelah percakapan yang cukup seru bersama Rafael, Nathan dan teman yang lain. Kami membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing. Aku mengajak Rafael dan Nathan untuk makan siang bersama tapi ditolak oleh Nathan dengan alasan ia sedang terburu - buru. Mendengar itu, Mayra menekuk wajahnya merasa kesempatan untuk bisa berlama - lama dengan Nathan sirna. Alhasil Mayra menjadi obat nyamuk ku dan Rafael selama makan siang. Kami makan di restoran Skandinavia yang biasa aku dan Rafael kunjungi. Mayra tidak berkomentar apapun tentang restoran ini, bahkan selama makan pandangannya selalu menerawang ke luar jendela seakan jiwanya berada di tempat lain. Rafael rupanya memperhatikan gerak - gerik Mayra yang tidak fokus itu,


 " Mayra, apa ada masalah, atau kamu tidak suka tempat ini ?" Rafael menegur Mayra yang masih tetap terdiam tak mendengar, aku menyikutnya hingga ia tersentak kaget gelagapan,


" Eh....iya apa ?" Ia menoleh ke arahku dan Rafael kebingungan,


" Kamu ini kok ngelamun sih May, sampai gak dengar pertanyaan Rafael !" Tegurku yang ia respon dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ,


" Iya....aku minta maaf ya, jadi merusak suasana, ada sesuatu yang sedang aku pikirkan, aku ijin pulang dulu ya, kalian lanjutkan saja makan siangnya, Rafael tolong nanti antarkan Melvin ya, mobilnya akan aku bawa, oke good bye guys, have a nice launch !" Mayra berlalu pergi meninggalkan aku dan Rafael yang saling menatap bingung.


Setelah itu, kami tetap melanjutkan makan siang menyenangkan itu tanpa membahas keanehan yang Mayra lakukan barusan.


 


Aku tiba di rumahku menjelang sore hari. Ketika aku sampai, kudapati kamarku kosong tanpa keberadaan Mayra. Saat aku bertanya pada pembantu dan satpamku mereka bilang bahwa Mayra belum pulang. Beberapa kali ku coba menghubunginya tapi nomornya tidak aktif. Kecemasanku semakin bertambah menjelang malam hari dan tidak ada titik terang dimana keberadaan Mayra. Ku telusuri beranda rumahku, disana ada beberapa foto ukuran besar yang terpampang. Foto yang paling pinggir adalah foto keluarga besar Wijaya, disampingnya foto diriku yang masih balita bersama papa dan mama selanjutnya fotoku yang sudah remaja hanya bersama papa. Sejenak aku miris memandang foto yang terakhir, hatiku bertanya kenapa mama meninggalkan aku dengan begitu cepat. Aku ingat betul saat itu, mamaku sakit keras berbulan - bulan dirawat di rumah sakit dan suatu pagi rumahku ramai dikunjungi banyak orang dengan papa yang memelukku saat aku baru bangun tidur. Aku yang tak mengerti itu hanya diam melihat semua kesedihan orang dewasa, aku baru menangis menyadari mamaku pergi selamanya saat melihat jenazah nya di tanam di tanah. Selama mamaku sakit tak ada yang pernah mengatakan padaku, mama hanya berkata ia sedang menginap di tempat lain, yang kini ku tahu itu rumah sakit, mama dan papa juga selalu bilang bahwa mama akan pulang suatu saat. Aku juga baru mengetahui sakit mamaku disaat menemukan laporan kesehatan mama di meja kerja papa tiga tahun yang lalu, betapa hancur hatiku saat itu mengetahui mamaku ternyata mengidap kanker ganas yang memang tidak akan pernah bisa disembuhkan. Aku tersenyum kecut mengingat potongan kejadian menyedihkan itu. Lamunanku buyar ketika handphone ku bergetar menampilkan nama Mayra di layar nya. Aku segera mengangkat telfon itu.


 


" Hallo Mayra, kamu dimana ?" Ujarku dengan nada yang sedikit meninggi.


Mayra menjawab dari seberang sana dengan suara yang bergetar hebat mengaduh padaku membuat aku tersentak dan hampir menjatuhkan handphone ku.