Perfect Love

Perfect Love
I'm Perfect



 


Menjadi yang nomer satu itu adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidupku. Semua kesempurnaan ada di dalam diriku, aku cantik, pintar , mempunyai banyak bakat, kaya, dan selalu menjadi pusat perhatian di manapun dan kapanpun aku berada. Dunia ini ada digenggamku sejak aku dilahirkan , dunia tidak akan pernah lengkap tanpa kesempurnaan diriku di dalamnya. Kalian pasti bertanya - tanya siapa aku, perkenalkan namaku adalah Melvina Putri Adi Wijaya, putri tunggal salah satu konglomerat di negara ini, tapi kalian tidak perlu tahu siapa itu keluarga ku karena akupun tak terlalu suka membawa - bawa latar belakang keluarga. Aku tidak mau bersinar karena keluargaku yang terkenal kaya raya, aku lebih senang menunjukkan sinarku dengan caraku dan kelebihan yang ada dalam diriku. Saat ini aku berumur 16 tahun, yang itu artinya usia normal untuk siswa kelas satu sekolah menengah atas atau sering disebut SMA. Tidak seperti anak - anak konglomerat lain yang bersekolah di sekolah internasional atau semacamnya, papaku lebih memilih menyekolahkan aku di sekolah negeri dan akupun tidak keberatan akan hal itu. Aku malah senang karena disini aku dapat menjadi diriku sendiri, bersinar dengan caraku sendiri tanpa ada yang tahu latar belakang keluarga ku. Aku menikmati setiap detik hembusan nafasku di sekolah ini karena disinilah setiap potongan mozaik hidupku dirangkai dengan indah.


 


 


Hari ini adalah hari penting bagiku selama satu bulan bersekolah di SMA ini, hari dimana acara demokrasi terbesar di adakan di sekolahku. Aku bersekolah di sekolah negeri terfavorit yang ada di kotaku atau mungkin di provinsi tempat tinggalku, sebut saja SMA negeri satu yang disingkat SMANSA. Bisa dibilang aku adalah murid baru di sekolah ini , tetapi siapa sangka jika aku sudah terpilih menjadi kandidat ketua OSIS, jabatan paling berpengaruh dan bergengsi di setiap sekolah negeri. Selain itu, Aku adalah satu - satunya kandidat wanita sekaligus kandidat yang berasal dari kelas sepuluh, membawa kebanggaan tersendiri bagiku. Pagi ini aku datang lebih awal dari biasanya, turun dari mobil pribadiku ku langkahkan kaki memasuki gerbang sekolah yang masih terbuka lebar. Di sana sudah berdiri beberapa brand ambassador sekolahku yang menyambut kedatangan setiap siswa dengan senyum terbaik mareka tak terkecuali menyambut diriku,


 " Hari yang indah Melvin, semoga hari ini kamu mendapatkan suara terbanyak, " Kak Zico seniorku salah satu putra SMANSA mengulurkan tangannya mengajak bersalaman, simbol dukungannya padaku,


" Terima Kasih Kak, " Jawabku pendek beranjak meninggal putra putri SMANSA yang masih harus melanjutkan tugasnya hingga bel masuk berbunyi.


 


Aku melanjutkan perjalanan ku menyusuri lorong - lorong kelas menuju kelasku yang berada di pojok lantai dua. Selama aku berjalan, banyak siswa yang menghentikan aktivitasnya entah itu bergosip, bermain game di smartphone, atau piket kelas hanya untuk tersenyum menyapaku, mengagumi diriku dan beberapa terang - terangan memuji kecantikan dan kecerdasan ku. Memang Aku sudah terbiasa menjadi pusat perhatian , tetapi pagi ini kebahagiaan atas perhatian yang kurasakan berlipat ganda. Langkahku terhenti oleh Mike, salah satu kakak kelasku sekaligus kapten tim basket sekolah yang memanggil namaku, dengan ragu - ragu ia melangkah mendekat padaku. Tangannya di belakang punggungnya menyembunyikan suatu barang,


 " Selamat pagi Melvin, kamu cantik sekali pagi ini, aku minta waktu sebentar, ada sesuatu yang ingin ku katakan," Ujarnya berusaha menutupi kegelisahan,


" Iya kak Mike, silahkan !" Dari balik punggungnya ia keluarkan sebuket bunga mawar merah yang masih segar mempersembahkan padaku,


" Kamu mau gak jadi pacarku ?" Sudah kuduga, gerak - geriknya sama seperti hal nya yang lain saat menyatakan cinta padaku. Siswa - siswi yang lain sudah berdiri mengerubungi kami dan bersorak agar aku menerimanya,


" Maaf kak Mike, aku tidak bisa dan kurasa waktuku juga sudah habis, aku pergi dulu, " Aku melenggang begitu saja meninggalkan Mike dan kerumunan siswa yang tampak kecewa,


" Melvin tunggu !" Serunya tak aku hiraukan dan terus melangkah melanjutkan perjalananku.


Entah sudah berapa puluh siswa yang menyatakan perasaannya padaku sejak awal aku di sekolah ini, dan tak ada satu pun yang kuterima perasaannya karena menurutku mereka semua tidak pantas bersanding denganku yang sempurna. Setelah sedikit gangguan itu, akhirnya aku sampai di depan kelasku, ketika aku hendak masuk kelas ku lihat pintu tertutup. Lamat - lamat dari dalam dapat ku dengar Bintang teman sekelasku yang juga teman satu organisasi ku sejak SMP berorasi memberi petuah di depan kelas,


" Aku sebagai ketua kelas 10 IPS 4 ini sangat menganjurkan semua warga kelas ini untuk memilih kandidat nomor 3, yang tak lain teman sekelas kita Melvin, karena dengan terpilihnya Melvin sebagai ketua OSIS nama kelas kita juga akan ikut terangkat, saatnya kita tunjukkan bahwa kita anak - anak sosial bukanlah anak buangan dengan intelegensi rendah, tapi kita anak sosial karena memang disinilah keunggulan kita. Coblos nomor 3 , hidup Melvin, hidup IPS 4 !" Serunya berapi - api diikuti sorak - sorai semua teman sekelas ku. Mendengar hal itu aku merasa senang karena semua temanku mendukung ku sepenuhnya, sekaligus aku merasa sedikit malu karena menurutku Bintang terlalu berlebihan. Aku dorong pelan - pelan pintu mengucapkan salam membuat sorak - sorak seketika berhenti dan semua pandangan menuju ke arahku.


" Nah, ini dia Ratu kita sudah tiba !" Seru Bintang dengan wajah berseri-seri melihatku, aku mendekati Bintang dan meminta waktu untuk berbicara di depan kelasku,


" Teman - temanku mungkin memang kita belum lama saling kenal, tapi pagi ini aku sangat bersyukur pada Tuhan bukan karena aku menjadi kandidat ketua OSIS dan dapat membawa kebanggaan bagi nama kelas tercinta kita, tapi aku bersyukur karena dipertemukan dengan teman - teman yang luar biasa memiliki solidaritas dan rasa kekeluargaan yang sangat kental, aku berjanji pada kalian jika aku terpilih akan melakukan tugasku sebaik mungkin dan akan selalu membuat kalian bangga, terima kasih atas segala dukungan kalian, aku sayang kalian, " Kalimatku membuat teman - teman sekelasku terdiam sekejap kemudian suara tepuk tangan bergemuruh di seisi ruangan. Beberapa teman perempuan sekelasku datang menghampiriku memelukku, menjadi suasana penuh kebahagiaan yang mengharukan.


 


Tepat pukul delapan pagi pesta demokrasi terbesar di sekolahku di adakan. Semua siswa berbaris teratur bergiliran memasuki bilik untuk memilih ketua OSIS tahun ajaran baru. Aku duduk di tempat yang sudah di siapkan oleh panitia di sebelah bilik pencoblosan berdampingan dengan dua kandidat lain agar semua siswa dapat melihat calon ketua OSIS yang akan mereka pilih. Sebenarnya aku sangat tidak nyaman ketika diriku dijadikan pajangan seperti ini, selain malu aku juga dituntut harus terus bersikap manis di depan semua orang, belum lagi harus duduk selama berjam -jam hingga pemilihan ini selesai disaat siang hari membuat pantatku terasa kebas. Penantian panjangku selesai saat aku dipersilahkan untuk pindah ke tempat lain karena sudah saatnya di lakukan perhitungan suara. Di saat perhitungan suara terlihat banyak siswa yang antusias menyaksikan siapa yang akan menjadi penguasa di sekolah ku ini, memang terdengar berlebihan tapi itulah kenyataannya. Semua acara dan kebijakan disekolah ini berada dalam kuasa ketua OSIS termasuk semua ketua ekstrakulikuler akan berada di bawah kekuasaan ketua OSIS. Setiap diumumkan nomor kandidat yang dipilih setiap pendukungnya akan bersorak kegirangan tak terkecuali pendukung ku yang sejauh ini suaranya lebih sering terdengar dari pendukung kandidat lain. Beberapa saat kemudian hal yang dinantikan pun tiba, pengumuman hasil pemilihan, yang diumumkan oleh ketua OSIS sebelumnya, Kak Alfan,


 " Hari ini berdasarkan pemilihan ketua OSIS yang telah diselenggarakan, terdapat 1500 surat suara dengan rincian 50 suara dinyatakan tidak sah, kandidat nomor 1 memperoleh 424 suara, kandidat nomor 2 memperoleh 150 suara dan kandidat nomor 3 memperoleh 876 suara. Dengan ini kandidat nomor 3 dinyatakan terpilih menjadi ketua OSIS tahun ajaran baru, " Pengumuman itu langsung di ikuti riuh kebahagiaan semua pendukung ku, semua demisioner OSIS, sebutan untuk OSIS yang sudah habis masa baktinya menghampiri ku mengucapkan selamat dan menyampaikan satu dua kata petuah.


 


Dengan diadakannya pemilihan ketua OSIS di hari ini sekolahku membebaskan seluruh kegiatan belajar mengajar sehingga seusai nya acara semua siswa diperbolehkan untuk meninggalkan sekolah. Aku sendiri pulang cukup akhir karena masih harus melanjutkan serangkaian prosesi penyerahan jabatan dari ketua OSIS sebelumnya. Setelah semua selesai aku pulang dengan banyak buket bunga dalam dekapan ku yang kuperoleh dari teman -teman ku, aku cukup kesulitan membawa semua buket bunga ini padahal aku sudah dibantu oleh teman sebangku sekaligus seorganisasiku Diandra. Diandra tak henti -hentinya mengeluh karena bunga - bunga ini membuat hidungnya gatal tapi ia juga tak henti-hentinya memuji dan bangga menjadi sobat baik ketua OSIS perempuan pertama sepanjang sejarah sekolahku,


" Oh ya Vin, aku dengar kamu tadi pagi ditembak kak Mike ketua tim basket yang keren itu ya?" Tanyanya,


" Iya benar, " Jawabku pendek tidak tertarik membahas hal itu,


" Kenapa kamu tidak terima dia sih, padahal kan dia itu ganteng, tinggi, printer main basket, keren juga ?" Aku menghela nafas panjang mendengar pujian Diandra pada Mike yang menurutku berlebihan untuk seorang yang biasa saja,


" Kamu dengar ya, Mike itu masih jauh dari standar ku, ganteng sama keren aja gak cukup buat aku, yang pantas jadi pacarku itu harus ganteng, cerdas, multitalenta, dan harus sempurna segalanya, pokoknya yang bisa mensejajari aku, " Jelasku membuat Diandra membulatkan matanya lebar-lebar,


Karena terlalu asyik berbincang dengan Diandra saat kami melewati persimpangan lorong tidak sengaja aku menabrak seseorang membuat semua bunga berjatuhan dari pelukanku,


" Aduh.....bunga - bunga ku jadi rusak semua, kamu itu gimana sih udah tahu aku lagi kesulitan bawa banyak bunga bukannya ngalah minggir, malah tetep maksa lewat aja !" Aku menghardik tanpa melihat orang yang sudah menabrakku itu seraya mengambil satu persatu bunga yang berserakan di lantai,


" Maafkan aku ya, aku tidak tahu jika kamu akan lewat, aku ceroboh karena sedang terburu - buru, " Sepasang tangan putih halus yang kekar membantuku mengambil bunga - bungaku membuatku tercengang sebentar apalagi setelah mendengar suara berat berkharisma itu.


Ku beranikan mendongak sedikit melihat orang yang menabrakku dan kudapatkan seorang siswa laki - laki tampan dengan tatapan mata tajam, tinggi gagah yang kuyakini bukan berasal dari sekolah ku jika dilihat dari almamater yang ia kenakan. Setelah semua bunga berhasil diambil, ia serahkan padaku dengan senyum yang sangat manis menambah berlipat-lipat ketampanan yang terpahat diwajahnya yang berstruktur tegas. Kemudian ia membungkuk meminta maaf kembali dan berlalu meninggalkan aku yang masih diam tak berkutik hingga Diandra menyadarkanku,


" Hei....Vin.... Melvin, kok malah melamun sih, ayo buruan !"


" Eh....iya, enggak kok aku enggak melamun cuma masih kaget aja, " Aku berusaha mengembalikan ekspresi wajahku senormal mungkin,


" Gak ngelamun gimana, jelas - jelas kamu ngelamun saat cowok itu pergi, Cie..jangan - jangan kamu suka ya sama cowok barusan, wah kayaknya bakal seru nih seorang ketua OSIS yang jatuh cinta pada padangan pertama udah kayak yang di film - film gitu, hahahaha!" Diandra menertawai diriku sepanjang jalan menuju gerbang,


" Ih....apaan sih kamu, enggak ya, yang bener aja mana ada cinta pada pandangan pertama, lagi pula aku kan sudah bilang ke kamu kalo tipe aku itu gak cuma modal tampang doang tapi juga harus sempurna semuanya, " Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan setelah nya meskipun Diandra tetap saja menggodaku.


 


Aku terus terbayang - bayang dengan wajah lelaki dari lain sekolah yang menabrakku barusan hingga tidak terasa sudah satu jam lebih aku menunggu sopir pribadiku yang tidak kunjung datang. Aku sudah berusaha membuang jauh - jauh pikiran itu, tapi tetap saja aku tidak bisa, apalagi saat sendirian seperti sekarang. Diandra sudah pulang sejak setengah jam yang lalu saat aku memaksanya meninggalkan diriku sendirian karena aku merasa tidak enak pada kakaknya yang sudah datang menjemput. Ketika aku mulai berada di batas kesabaran menunggu dengan gelisah sopir pribadiku, sebuah motor besar berwarna hitam mengahampiri. Pengemudi motor itu membuka helmnya menampakkan sosok laki - laki dengan rambut yang sedikit berantakan membuatku lagi - lagi tanpa sadar tercengang mendapati seseorang yang tak lain adalah si tampan,


 " Sedang apa kamu disini, bukannya seharusnya sudah dari tadi pulang ?" Suaranya beratnya menyapaku ramah,


" Em....aku sedang menunggu jemputan, kamu sendiri sedang apa di sini, ini kan bukan sekolah kamu? "


" Oh aku sedang ada urusan disini, sebagai ucapan maafku karena tadi menabrak kamu kalo tidak keberatan bagaimana jika aku antar kamu pulang?" Seketika tubuhku terasa membeku mendengar apa yang barusan ia katakan. Namun, sebelum aku menjawab sopir pribadiku sudah terlebih dulu sampai membuatku menolak tawarannya,


" Maaf sopirku sudah datang menjemput, terima kasih atas tawarannya , aku pulang dulu ya, " Aku cepat - cepat pergi dari hadapannya, segera masuk ke mobil sebelum wajahku berubah merah padam seperti udang rebus, tapi tanpa ku sangka tangannya berhasil menahanku,


" Eh....maaf maaf aku tidak bermaksud kurang ajar, " Ujarnya langsung melepas genggaman nya dari tanganku,


" Kalo boleh tahu siapa nama kamu? " Aku menoleh sebentar memandang nya,


" Namaku Melvin, " Jawabku singkat, langsung berlari menjauh darinya dengan jantung yang berdetak tak karuan, Oh tuhan apa yang sedang terjadi pada diriku.