
Devan telah satu Minggu berada di Kanada. Dia bahkan terkadang menginap di rumah Mira.
Setelah pernyataan persaingannya dengan Brian. Dia semakin gencar merayu Alana. Tak pelak devan sering mencuri ciuman dari bibir itu.
Brian juga sering mengunjungi alana. Bahkan semakin menjadi. Dia sering mengajak makan berdua ketika Alana di kantor. Atau pulang dari kantor.
Hal itu membuat devan urung uringan karena cemburu. Dia tak bisa membiarkan hal itu terjadi.
Oleh sebab itu dia membuat berbagai trik supaya dapat menjauhkan Brian dari Alana.
Salah satunya menghasut putranya untuk melarang Alana bertemu Brian. Apalagi dia baru tahu jika Sean tak terlalu suka pada Brian.
" Sean apa yang membuatmu tak suka dengan paman brian?". Tanya nya kala itu.
Sean yang sedang main puzzle terdiam. Dia tak bisa menjawab pertanyaan ayahnya.
Melihat Sean yang tak menjawab devan heran. Namun ia tak memaksa.
" Tidak papa jika kau tak ingin membicarakan nya pada Daddy. Tapi suatu saat nanti kau harus memberitahu Daddy mengerti?".
Sean mengangguk. Kemudian kembali memainkan puzzlenya.
" Sean menurut mu antara Daddy dan paman brian siapa yang paling tampan?". Celetuk devan.
Entah ide dari mana dia ingin membandingkan dirinya dengan pria itu. Padahal dia sendiri yakin 100 persen jika dia lebih tampan.
" Daddy". Singkat Sean. Dia tetap pokus pada permainannya.
" Apa kau tahu paman brian kaya atau tidak?". Devan tak tinggal diam. Dia mencoba membantu Sean memasang fuzzle.
" lumayan". Celetuk Sean.
Devan kembali berpikir. " Sean-
" Daddy cerewet sekali. Aku jadi tidak pokus bermain". Kesal Sean.
Dia dari tadi terganggu oleh daddynya yang menanyakan hal hal yang menurutnya tidak penting.
Devan menatap Sean tajam. Mulut anaknya ini terbuat dari apasih, sampai bisa pedas tajam seperti itu.
" Daddy mau ajak kamu main ke luar. Tapi tidak jadi. Sepertinya kau memang tak mau di ganggu". Sindir devan.
Buru buru Sean mendongak menatap sang Daddy. " Bermain? Ayo Daddy aku ingin bermain keluar". Ajaknya.
Devan mencebikan bibirnya. Soal main saja langsung.
" Tidak jadi. Bukankah kau tak ingin di ganggu". Sarkas devan.
" Tidak Daddy. Aku sudah selesai main fuzzle. Jadi ayo kita bermain di luar". Ajaknya.
" Bukannya tadi tidak mau. Daddy berangkat sendiri saja". Devan babgkit dan berpura pura keluar.
Membuat Sean langsung merengek." Daddy tadi Sean tidak sengaja. Ayo kita bermain di luar. Daddy jangan ngambekan kaya paman Brian saja". Cebik Sean. Dia terpikir untuk menyamakan daddynya dengan paman Brian.
Mendengar nama pria itu di sebut, devan merubah raut wajahnya. Enak saja dia yang tampan di samakan dengan pria jelek itu, pikirnya.
" Ayo kita bermain". Ajak devan.
Sean bersorak. Dia bersiap siap lalu turun mengikuti sang Daddy. Tak lupa mereka pamit pada Mira.
Mira yang melihat kebersamaan anak dan ayah itu tersenyum haru.
Satu jam perjalanan mereka sampai di sebuah tempat bermain. Disana banyak permainan yang bisa di mainkan anak anak.
Sean bersorak kegirangan. Tanpa mempedulikan devan Sean langsung masuk dan mulai bermain.
Dua jam mereka bermain. Hingga akhirnya perut lapar keduanya membuat mereka berhenti dan makan di salah satu resto yang dekat dengan tempat main tadi.
" Jangan belepotan jika makan". Tegur devan.
Dia mengambil tisu dan mengelap mulut Sean yang belepotan.
Selesai makan keduanya memutuskan untuk menjemput Alana. Karena sudah memasuki waktu pulang kantornya.
" Daddy aku mau eskrim". Ujar Sean tiba tiba.
" Nanti saja setelah menjemput mommy. Kita makan eskrim bersama".
Sean mengangguk. Saat sampai di depan gedung perusahaan devan di buat panas dingin kembali saat melihat Alana yang sedang mengobrol dengan Brian.
Astaga apakah pria itu tidak mengerti?
Buru buru devan keluar dengan menggendong Sean.
" Mommy". Panggil Sean.
Alana yang sedang asik mengobrol dengan Brian menoleh saat mendengar suara Sean. Dia melihat devan yang menggendong Sean menghampirinya.
" Mommy ayo kita pulang". Ajak Sean.
Alana bingung. "A-ah ya." Jawab alana.
Alana menatap bersalah pada Brian. Pria itu berniat untuk mengantar nya pulang.
" Bri maaf. Tapi sepertinya aku harus pulang bersama Sean". Alana Merasa bersalah.
Brian tersenyum lalu mengangguk. " Tidak papa. Aku memaklumi". Ujarnya.
" Kalau begitu aku pergi." Brian pamit dengan mata yang melirik tajam devan.
Sedangkan pria yang diliriknya melempar senyum penuh kemenangan.
Sesuai keinginan Sean. Sepulang menjemput Alana ketiganya makan eskrim di salah satu toko.
Sean yang kebiasaan makan blepotan membuat Alana harus siap dengan tisu. Mengusap mulut Sean yang penuh dengan eskrim itu.
....
Karina marah karena Devan tiba tiba menghilang tanpa kabar. Dia sudah menanyakannya pada Jerry dan pro itu hanya menjawab dengan gelengan.
Perusahaan pun di titipkan pada Jerry membuat Karina semakin murka.
" Devan. Kau dimana? Kenapa tak mengabariku jika kau pergi? Aku mencarimu kemana mana tapi tak menemukannya". Omel Karina.
Diseberang sana devan hanya menghela napas kasar. Dia tak peduli mau karina mencari atau tidak dirinya.
" Aku ada urusan." Singkatnya.
" Kau dimana sekarang? Jangan jangan kau sedang berselingkuh?" Tuduh Karina.
" Iya. Aku sedang berselingkuh" akunya.
Karina mengepalkan tangannya. " Devan. Bagaimana bisa kau menyelingkuhiku? Apa semua yang aku berikan kurang?. Aku sudah memberikan semuanya bahkan dengan sebar aku melayanimu tap-
" Aku kembali besok". Tegas devan. Lalu mengakhirinya secara sepihak.
Karina semakin mengepalkan tangannya saat devan tak peduli padanya. Entah kenapa perasaan nya benar benar tak enak sekarang.