
Aku bingung dengan situasi yang ada, Nathan terus menatap ku mengintimidasi agar aku tidak membuka suara. Disatu sisi dalam diriku bergejolak untuk memberi tahu apa sebenarnya terjadi. Aku menatap Nathan balik mengintimidasi, beberapa menit kemudian ia menghela nafas panjang dan mulai menjelaskan,
" Melvin tidak ada hubungannya sama sekali dengan ku, ia hanya menolong diriku yang jatuh kemarin sore, sekarang motor ku masih di bengkel, " Ujar Nathan membuat ibunya terkejut,
" Apa kamu habis jatuh, terus kamu tidak bilang ke ibu , kenapa sih kamu ini ,nak ?" Sahut ibunya berdiri mengusap pundak Nathan ,
" Aku hanya tidak mau membuat keluarga ini khawatir dan semakin membebani kalian, " Jawab Nathan dengan suara yang sangat pelan,
" Apa yang kamu katakan, kamu sama sekali bukan beban keluarga ini, ibu sudah sering bilang kan jangan kamu menyembunyikan sesuatu dari ibu, lain kali ibu tidak mau kamu seperti ini lagi, ibu sangat menyayangi kamu, nak, " Ujar ibu Nathan seraya mengecup pipi Nathan sedih.
Setelah itu Nathan tak bersuara lagi. Ibu Nathan balik memandang ke arahku,
" Terima kasih ya mbak sudah membantu Nathan, kalo tidak ada mbak entah bagaimana dia ini, Nathan ini selalu saja menyimpan semua sendiri, padahal ibu tidak henti -hentinya mengingat kan untuk lebih terbuka, " Jelas ibu Nathan kutanggapi dengan anggukan dan senyuman,
" Yasudah bu saya pamit dulu, mau berangkat sekolah soalnya sudah siang, " Pamit ku hendak mencium tangan ibu Nathan tapi ditolak oleh si empunya,
" Sebentar, jangan pulang dulu, mbaknya pasti belum sarapan kan, ayo sarapan dulu !" Ibu Nathan memaksaku untuk bergabung sarapan,
" Tidak usah repot-repot bu, nanti saya bisa sarapan di rumah, " Aku menolak dengan sesopan mungkin tetapi ibu Nathan tetap bersikukuh memaksaku ikut sarapan.
Melihat permintaannya yang sudah tidak bisa dibantah, akupun mengalah ikut sarapan bersama keluarga Nathan. Di meja makan yang sederhana ini hanya terdapat empat kursi dengan meja berukuran kecil. Kedatanganku dalam sarapan mereka membuat mereka menambahkan satu lagi kursi dan menjejalkan di ruang kosong yang tersisa. Di atas meja sudah tersaji nasi, sup wortel, tempe, tahu, telur, dan sambal yang masih mengepul panas. Ini adalah menu makanan sangat sederhana yang pertama kali kumakan dalam hidupku. Saat aku bergabung disana sudah ada ayah Nathan dan adik perempuannya yang sudah rapi menggunakan seragam SMP. Mereka begitu terbuka dengan kehadiranku dalam sarapan mereka pagi ini. Ayah Nathan berulang kali berterima kasih padaku, hal yang sebenarnya tidak patut aku terima karena memang sudah menjadi tanggung jawabku. Sedangkan Nathan yang duduk di depanku mengalihkan pandangannya sedari tadi, berusaha menghindari kontak mata denganku. Ibu Nathan mempersilahkan aku mengambil makanan saat melihatku hanya terdiam,
" Ayo mbk Melvin, dimakan, maaf sarapannya sangat sederhana, "
" Iya ibu, ini saya mau mengambil, makanannya kelihatannya sangat enak kok bu, " Ujarku tersenyum seraya mengambil nasi dan lauk seadanya.
Diluar ekspektasiku, makanan sederhana ini sangat nikmat. Ibu Nathan sangat ahli memasak, bahkan masakan Mbak Ina tidak selezat masakan ibu Nathan. Kebahagiaan ku bertambah saat mulai kurasakan kehangatan di dalam keluarga ini. Ayahnya menceritakan banyak hal tentang masa kecil Nathan membuat ku tertawa mendengar kisah kenakalannya. Sementara Nathan hanya menyunggingkan senyum samar seperti biasa. Selain ibu dan ayahnya yang sangat komunikatif adik Nathan ternyata juga sangat mudah bergaul, tanpa canggung sedikit pun ia ikut berceloteh tentang Nathan yang selama ini tidak pernah punya teman perempuan apalagi sampai mengajaknya ke rumah. Adiknya meneruskan bahwa akulah perempuan pertama yang diajak Nathan ke rumah nya dan mulai menggoda ku dan Nathan. Mendengar itu Nathan tidak terima, membantah semua pernyataan adiknya dan mengejek adiknya balik membuat keduanya saling adu mulut , tapi terlihat sangat menggemaskan. Suasana yang kurasakan saat ini tak pernah sekalipun kurasakan sebelumnya. Apakah ini yang dinamakan keluarga ? Aku tersenyum ironis dengan kehidupan dalam keluarga ku sendiri. Selama ini aku sangat jarang bisa makan bersama dengan papaku, dahulu saat ada mamapun kami sering hanya makan berdua tanpa kehadiran papa yang sibuk. Sarapan ini akan menjadi potongan memori indah yang tidak akan pernah kulupakan.
Setelah sarapan pagi yang menyenangkan dengan keluarga Nathan aku segera bergegas pulang karena jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, yang itu artinya tinggal setengah jam lagi saatnya masuk sekolah. Aku memutuskan pulang sebentar untuk mengambil seragam, peralatan sekolah dan menjemput Mayra. Pagi ini aku akan mandi di kamar mandi ruang sekretariat OSIS, dengan amat sangat terpaksa kuambil keputusan memalukan ini daripada aku telat pergi ke sekolah. Setidaknya dengan begitu, aku akan sampai disekolah sepuluh menit sebelum bel berbunyi yang bisa kugunakan untuk mandi. Kondisi Mayra pagi ini juga sudah membaik apalagi mengetahui Nathan sudah pulang dari rumah sakit. Sepanjang perjalanan tidak henti\-hentinya ia mengejek dan menertawaiku yang belum mandi,
" Hahahaha........ princess Melvin yang cantik jelita dan penuh kesempurnaan sekarang sudah tidak sempurna lagi cuma gara - gara tidak mandi, ini akan jadi kabar yang sangat menghebohkan , oh ya nanti kalo jalan bersamaku jaraknya harus sepuluh meter dariku, aku tidak mau ketularan bau kamu, " Ujarnya tertawa terbahak - bahak sambil memegang perutnya yang kram,
" Diamlah kau, semua ini juga karena mu, dasar sepupu tidak tahu terima kasih! " Seruku ketus membuat ia semakin tertawa kencang tanpa rasa bersalah.
Meskipun sebenarnya sangat jengkel tapi dengan melihat Mayra pagi ini sudah kembali seperti semula membuatku bahagia. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari melihat sepupu manja tersayang ini bahagia. Dialah satu-satunya sepupu paling dekat yang sudah kuanggap seperti saudara kandung ku.
Hari ini terasa sangat panjang untukku, entah mengapa aku merasa sangat sial hari ini. Mulai dari mandi di ruang sekretariat OSIS, lupa membawa buku sampai proposal pengajuan JOS yang aku hilangkan sehingga aku dimarahi Kak Arya dan pengurus JOS lainnya. Aku melanjutkan hari menyebalkan ini dengan datang ke butik langganan keluarga ku sepulang sekolah bersama Mayra untuk mengambil pakaian yang akan kami kenakan di acara pernikahan tante Jasmine lusa. Aku menghentikan laju mobil ku di depan sebuah bangunan mewah bergaya Eropa barat. Bangunnya cukup besar untuk ukuran sebuah butik karena memang pemiliknya adalah seorang desainer kawakan yang sudah malang melintang di dunia fashion nasional maupun internasional. Saat kami memasuki butik itu, kami disambut oleh pelayan yang langsung diarahkan ke ruangan khusus. Mereka sudah sangat familiar dengan kami yang berasal dari keluarga Wijaya. Keluarga Wijaya secara turun temurun selalu memesan pakaian di tempat ini untuk setiap acara penting. Begitu memasuki ruangan khusus, kami ditemui langsung oleh sang pemilik butik, namanya Tante Anne. Tante Anne tersenyum bahagia melihat kedatangan kami terlebih melihat Mayra yang sudah lama tinggal di Amerika,
" Selamat datang nona - nona cantik, wah rupanya kali ini aku kedatangan gadis cantik dari USA, Mayra aku senang sekali melihat kamu disini, katanya kamu pindah kemari ya ?" Sapanya ramah sambil memeluk Mayra,
" Iya tante aku pindah kemari sejak papa mama pindah ke Argentina, aku juga senang sekali ketemu sama tante, lama banget gak pernah ketemu, " Balas Mayra terkekeh.
Setelah acara temu kangen itu, kami langsung ditunjukkan gaun yang sudah dipesankan Tante Jasmine. Gaun kami memiliki warna yang sama yaitu warna peach hanya saja modelnya berbeda sesuai permintaan kami. Gaunku memiliki model tradisional yang dikombinasikan dengan sentuhan modernisasi. Modelnya hampir sama dengan kebaya modern pada umumnya hanya saja bagian atasnya dengan kerah tegak yang transparan dibagian atas dada dan lengannya yang panjang. Sementara bagian bawahnya berbentuk rok gaun yang menjuntai jatuh hingga di atas lutut yang dipermanis dengan sebuah sabuk dibagian pinggangnya. Desain yang cukup sederhana tapi akan sangat elegan digunakan diriku yang tinggi semampai. Baik aku maupun Mayra saling mengagumi diri sendiri melihat gaun indah yang melekat sempurna dipantulan cermin yang kami lihat. Tante Anne memuji kecantikan kami berdua sebaliknya kami juga memuji Tante Anne yang sudah membuat gaun seindah ini. Setelah mencoba gaun yang tidak ada kurangnya itu, kami menunggu gaun yang sedang dibungkus. Di kala itu juga aku teringat bahwa kami akan membawa pasangan di pesta pernikahan Tante Jasmine. Aku jelas akan bersama Rafael sedangkan Mayra aku belum tahu ia akan bersama siapa,
" May, kamu besok perginya sama siapa ?" Tanyaku memulai pembicaraan,
" Aku akan mengajak Nathan, " Jawabnya sambil tersenyum sendiri,
" Apa kamu gak salah, emang Nathan mau ?" Ujarku tidak yakin dengan ucapan Mayra,
" Maka dari itu kamu bantu aku ya, kumohon !" Kini ia memandang ku memelas dengan pupy eyes yang tidak akan bisa aku tolak.
" Ya baiklah, akan aku coba, untuk berjaga - jaga kamu pesankan dulu saja tuxedo buat Nathan, " Ujarku sambil menghela nafas panjang.
Wajah Mayra langsung berbinar bahagia, dengan lincah nya ia segera memesan tuxedo untuk Nathan dengan perkiraan ukuran tubuh yang hampir sama dengan Rafael yang sudah aku pesankan terlebih dulu, hanya saja tubuh Nathan lebih kurus dari Rafael yang berotot. Setelah menunggu cukup lama, kami pulang membawa dua pasang gaun dan tuxedo.
Aku pulang dari butik Tante Anne saat malam sudah tiba. Lampu \- lampu jalan sudah menyala dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam menghiasi sepanjang jalan perjalanan ku menuju rumah Nathan. Setelah Sebelumnya aku mengantar tuxedo milik Rafael sekaligus menurunkan Mayra di rumah. Aku akan menemui Nathan sendirian untuk membujuknya ikut dalam pesta sesuai keinginan Mayra. Sebenarnya aku ingin mengajak Rafael, tetapi mengingat pertengkarannya di rumah sakit waktu itu membuat ku mengurungkan keinginan itu. Beberapa menit kemudian aku berbelok meninggalkan jalanan besar yang bermandikan cahaya, masuk ke dalam jalanan sederhana beralaskan tanah. Beberapa meter aku berjalan di jalanan tanah itu, lampu mobilku menyorot seorang laki \- laki membawa bungkusan plastik tengah berjalan sendirian di depan ku. Aku menghentikan laju mobilku tepat di sebelah Nathan yang masih belum sadar bahwa mobilku yang hendak lewat. Aku mengklakson membuat ia menoleh, segera ku buka kaca mobilku memintanya untuk naik. Kali ini tanpa instruksi ia menurut masuk ke dalam mobilku. Aku bawa ia pergi dari jalanan tanah itu menuju sebuah tempat makan langganan ku agar aku bisa lebih leluasa berbicara.
" Kamu mau membawa aku kemana ?" Ujarnya membuka suara saat kami telah menjauh dari gang rumah nya,
" Aku mau mengajak kamu makan malam, " Jawabku pendek,
" Ha, tumben banget, pasti sebenarnya kamu punya tujuan lain kan ?" Ia menatapku curiga,
" Ya ampun orang berbuat baik masih saja dicurigai, " Aku mengelak agar ia tidak meminta untuk diturunkan mengingat lelaki satu ini sedikit gila,
" Boleh, silahkan kamu mau kemana ini ?" Ujarku membuat ia menyinggung kan senyuman dinginnya,
" Seperti nya percuma saja aku memberi tahu nama tempat nya kamu tidak akan paham, sini biar aku saja yang menyetir agar aku tidak usah repot-repot memberi instruksi !" Seketika aku menghentikan mobilku, terserah lah apa yang mau dilakukan malam ini, aku akan menurut saja.
Nathan mengemudikan mobilku dengan sangat baik bahkan lebih baik daripada diriku walaupun setahuku ia tidak memiliki mobil. Itu membuat ku cukup lega sudah mempercayakan mobilku dikemudikan olehnya. Sepanjang perjalanan aku menanyakan kondisi dan sekolah nya yang hanya ia jawab dengan kata iya dan tidak. Aku mulai membiasakan diri dengan sikapnya yang sering berubah, terkadang ia bersahabat terkadang sangat dingin dan ketus. Namun, terlepas bagaimana pun sikap Nathan dimataku ia tetaplah seorang teman yang baik dan anak yang sangat pengertian dengan keluarganya. Sebenarnya aku masih penasaran sebab Nathan bersikap dingin, ketus dan anti meminta maaf mengingat keluarganya yang menurut ku sangat baik dan hangat. Secara logika seharusnya Nathan tumbuh menjadi anak yang ceria dan ramah seperti adik perempuan nya, tapi entahlah itu kan dari sisi pandangan ku yang belum tentu benar. Aku mengaduh karena secara tiba\-tiba Nathan mengetuk kepala dengan kunci mobil,
" Woy.....apaan sih seenaknya aja jitak kepala orang, kamu tahu gak kepala ku itu sangat berharga gak boleh sembarang orang menyentuhnya !" Seruku berteriak pada Nathan,
" Siapa suruh bengong, udah ah yuk turun, sudah sampai, " Ujarnya keluar terlebih dulu dari mobilku.
Aku mengangkat satu alisku ke atas menatap gerobak soto di pinggiran jalan yang Nathan pilih. Meskipun di pinggiran jalan, gerobak ini memiliki beberapa meja yang semua nya penuh pelanggan. Melihat kedatangan ku dan Nathan beberapa orang yang sudah selesai beranjak dari tempatnya mempersilahkan kami yang baru datang. Nathan menunjukkan menu yang ada, aku tidak terlalu familiar dengan makanan disini. Mereka menyediakan soto ayam, soto daging, campur Lamongan, gado \- gado, dan sejenisnya yang tidak begitu aku tahu. Akupun meminta Nathan memesankan makanan apapun yang dianggap nya paling enak. Kupikir Nathan akan mengajakku ke suatu rumah makan yang nyaman ataupun unik. Ternyata pikiran ku salah total, ia mengajakku ke tempat yang sangat sederhana ini , seumur \- umur aku tidak pernah menginjakkan kaki ditempat seperti ini. Jangankan menginjak, melihat nya saja tidak tertarik. Entah apa yang dikatakan Mayra jika tahu aku ketempat seperti ini, mungkin sebelum masuk rumah ia akan menyemprotkan cairan disinfektan keseluruhan tubuhku. Sementara papa, pasti dia akan mengomel dan tidak akan membiarkan aku makan di luar lagi. Tak lama menunggu, makanan kami pun datang. Nathan memesankan aku sepiring Campur Lamongan yang masih mengepul menebarkan bau daging dan bumbu yang kuat. Sementara Nathan sendiri memesan soto daging yang baunya juga menggoda. Aku mulai menyuapkan makanan itu, dan saat aku memakannya rasanya sangat nikmat. Bau yang dikeluarkan terasa sangat sesuai dengan rasanya. Sepertinya ini akan menjadi makanan favorit ku setelah ini meskipun tempatnya sangat tidak standar bagiku aku tidak peduli. Nathan diam \- diam memperhatikan aku yang sangat menikmati makanan ini,
" Gimana enak kan ?" Tanyanya yang kuangguki sambil terus menyuapkan makanan itu ke mulut ku,
" Syukurlah kalo kamu suka, pasti kamu tidak pernah datang ke tempat seperti ini kan ?" Lanjutnya lagi yang hanya kuangguki,
" Aku mau coba soto kamu dong, boleh gak ?" Tanyaku kemudian penasaran dengan rasa soto yang Nathan pesan,
Nathan mengangguk sehingga aku mengulurkan sendokku ke soto miliknya tapi ditepis oleh Nathan,
" Ih.....jangan pakai sendok mu nanti sotoku kecampur sama bekas makanan mu! " Ujarnya kemudian menyendok kan soto dengan sendok milik nya dan menyuapkan padaku.
Apa yang barusan terjadi membuat sedikit tercengang, seorang Nathan yang dingin dan ketus tak ada angin tak ada hujan menyuapi aku dengan sukarela, hal yang bahkan Rafael tidak pernah lakukan. Walaupun sempat canggung setelah nya, kuakui rasa soto nya juga sangat nikmat. Sekarang aku merasa tidak pernah menyesal datang di tempat kaki lima ini. Saat kami selesai makan, aku hendak menuju penjual membayar makanan kami tapi dicegah oleh Nathan, Ia memaksa membayar,
" Sudah biar aku saja yang bayar !" Ujar Nathan mencegah ku mengeluarkan uang dari dompet,
" Enggak, kan aku yang ajak kamu makan, jadi biar aku yang bayar !" Bantahku hingga terjadi perdebatan diantara kami,
" Jadi siapa yang bayar ini, gini aja deh mbak mas bayarnya separuh - separuh aja , " Sahut penjual yang gemas melihat kami berdebat,
" Tidak, tidak akan !" Jawab kami berbarengan membuat penjual tertawa dengan tingkah kami,
" Kamu nurut aku, biar aku yang bayar atau kita tidak usah ketemu lagi dan aku tidak akan mau ketemu kamu maupun Mayra sepupumu itu ?" Ujar Nathan mengintimidasi ku sehingga akupun mengalah mengingat aku memiliki tujuan.
Di perjalanan pulang Nathan lagi yang mengemudikan mobil ku, ia masih ingin mengajak ku ke suatu tempat lagi yang entah dimana. Akupun menyetujui nya mengingat aku lupa membicarakan tujuan ku sebenarnya Karen terlalu asyik makan. Melihat ada kesempatan di perjalanan itu, akupun memberanikan diri berbicara padanya,
" Nathan, sebenarnya aku menemui kamu malam ini untuk mengajak kamu ke pesta pernikahan tante ku lusa, " Ucapku berhati - hati menunggu reaksinya,
" Sudah kuduga, benar kan apa yang aku katakan tadi, kamu pasti punya tujuan tertentu, " Jawabnya dingin terus memperhatikan jalanan,
" Kumohon Nathan, kamu ikut ya ke pesta itu !" Ujarku memelas padanya,
" Kenapa kamu ngajak aku bukannya Rafael ?" Tanyanya tanpa melihat ke arahku,
" Em..... sebenarnya aku mengajak kamu ke pesta itu sebagai pasangan Mayra, " Ujarku pelan takut Nathan menolak mentah-mentah,
" Lagi - lagi demi sepupu cengeng mu itu, aku tidak mau, malas banget datang ke acara kaum borjuis yang penuh intrik seperti itu, " Aku menghela nafas menenangkan diri mendengar celetukkan seenaknya yang dilontarkan seperti orang tidak punya otak,
" Kumohon Nathan bersedia lah jadi pasangan Mayra, sebagai gantinya aku akan menuruti apapun yang kamu mau, " Ujarku kembali memelas menyingkirkan semua egoku demi Mayra,
" Kamu itu kenapa sih mau - maunya sampai mengemis seperti ini demi sepupu mu yang tidak tahu diri itu ? " Sahutnya ketus sedikit meninggi kan suara dan langsung menghentikan laju kendaraan secara spontan beralih menatap ku dalam,
" Jaga ucapanmu Nathan, Mayra tidak seburuk yang kamu katakan, dia itu sepupu yang sudah kuanggap saudaraku sendiri, aku sangat menyayangi dia begitu juga dirinya sangat menyayangi aku, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan satu - satunya saudaraku ! " Seruku dengan emosi yang membuncah dadaku tidak terima mendengar Nathan mengolok Mayra seperti itu.
Nathan terdiam menatap ku tak berkedip, sejenak lengang tak ada pembicaraan diantara kami yang hanya saling memandang. Kemudian kulihat ia menghela nafas panjang kembali menghidupkan mesin mobilku seraya mengalihkan pandangannya dariku menatap jalanan.
" Baiklah aku mau, tapi dengan satu syarat, "
" Yeah.....apa syarat nya Nathan, aku berjanji akan mengabulkan permintaan mu, " Sorakku sambil menatap nya berbinar bahagia,
" Tinggal kan Rafael !"
Deg, seketika aku terdiam, menelaah kembali apa yang barusan dikatakannya.