
Perjalanan panjang yang Devan lakukan telah selesai. Devan kini berada di rumah orang tuanya.
Dia memutuskan untuk tidak pulang ke rumahnya karena mempertegas rencananya untuk bercerai dengan Karina.
Karina yang tak mendapat kabar dari devan emosi. Dia berkali kali menghubunginya tapi devan tetap mengacuhkannya. Membuatnya murka.
" Kenapa kau tidak pulang kerumah Dev?". Tanya Jerry.
Mereka tengah berada di meja makan untuk sarapan.
" Kenapa bertanya seperti itu. Bukankah bagus jika devan tak kerumah itu". Desis Diana menatap kesal sang suami.
" Bukan seperti itu ma. Tapi devan masih tetap suami karina. Dia masih memiliki tanggung jawab padanya". Tegas Jerry.
Devan menatap kedua orang tuanya. Dia harus menyampaikan tujuannya sekarang.
" Karena itu pah Devan akan ceraikan Karina". Ujar devan membuat makan kedua orang tuanya berhenti.
Jerry menatap putranya yang tiba tiba mengutarakan keinginannya.
" Baguslah jika kau akan menceraikan nya. Kenapa gak dari dulu". Celetuk Diana tiba tiba.
Jerry menatap istrinya tak suka. " Mamah bicara nya jangan begitu". Tegur Jerry.
" Kenapa? Papah udah suka sama menantu papah itu iya?". Cerca Diana tak suka.
" Bukan begitu maksudnya mah. Papah cum-".
" Ah udahlah papah pasti bakal ngebelain dia dari pada mamah". Ujar Diana sewot.
Jerry hanya menggelengkan kepalanya. Istrinya terlalu berpikiran buruk.
" Kenapa tiba tiba ingin menceraikan Karina Dev?".
Jerry memilih mengalihkan pembicaraan daripada dia ribut bersama istrinya. Dia tak mau hal itu terjadi.
" Aku ingin menikah bersama alana".
Tuk
Sendok yang di pegang Diana jatuh tepat saat devan mengatakan tujuannya. Dia menatap devan dengan terkejut sekaligus senang.
Tak terkecuali jerry yang juga terkejut mendengar keinginan devan.
" Alana? Bagaimana bisa?" Tanya Jerry.
Devan mengangguk. " Kemarin aku ke Kanada untuk menemui Alana." Beritahu devan yang lagi lagi membuat kedua orang tuanya terkejut.
" Memangnya Alana mau menikah dengan kamu?". Tanya Jerry yang mampu menohok hatinya.
Papahnya itu seakan mematahkan perasaannya.
" Harus. Alana harus menikah dengan devan karena- devan menggantungkan ucapannya.
-karena kami memiliki putra". Lanjutnya.
Seketika Diana maupun Jerry memelotot. Mereka terkejut mendengar penuturan anaknya.
Bukan karena terkejut devan memiliki anak tapi terkejut karena Devan akan mengetahui nya secepat ini.
" Kamu tahu?". Tanya Diana.
Sontak devan menatap mamanya dengan tanya. Dia menelisik wajah kedua orang tuanya dengan seksama.
Diana tersadar. Dia gelagapan saat keceplosan menanyakan pertanyaan tentang itu.
" E--enggak. Mama cuma nanya" Diana mencoba mengelak.
" Enggak enggak. Mama tahukan?". Tanya devan yakin.
Diana semakin dibuat gelagapan dengan pertanyaan putranya. Dia melirik Jerry sekilas. Namun suaminya itu tak bereaksi apapun.
" Mama jujur sama aku. Bukankah mama bilang harus berkata jujur. Mama tahu aku memiliki putra bersama alana?". Tanya devan. Dia menatap sorot mata Diana dengan yakin.
Diana yang bingung mau tak mau mengangguk. Membuat devan berdiri dari kursinya.
" Kenapa mama gak kasih tahu aku ma? Kenapa mama sembunyiin ini dari aku ma kenapa?!". Tanya devan menggebu.
" Papa tahu? Papa pasti juga tahu kan? Kenapa papa gak bilang sama devan pa kenapa?!"
"Dev dengark-
" Kenapa kalian nyembunyiin ini dari devan ma pa?! Sejak kapan kalian tahu hal ini pa. Jawab devan pa?!". Desak devan.
" Sudah lama. Sejak pertama Alana datang kesini". Beritahu Jerry.
Devan semakin dibuat sesak. Dia menatap kedua orang tuanya dengan tak percaya.
" Kenapa gak bilang dari awal sama devan soal ini?".
Jerry menatap anaknya kasihan. Namun dia tak memiliki daya apapun jika Alana melarangnya.
" Papa gak punya hak untuk memberitahumu jika Alana melarangnya. Dia tak mengakuinya saja kami sudah bersyukur. Tetapi untuk memberi tahunya kami tidak bisa jika Alana tak mengizinkannya". Jelas Jerry.
Devan menyorot papanya dengan tanda tanya besar. " Tapi kenapa?".
" Kenapa? Alana tak ingin menghancurkan rumah tanggamu termasuk menghancurkan dirinya. Dia telah mengandung melahirkan dan membesarkan Sean sampai sekarang. Mencoba menjadi ibu yang baik. Lalu memberitahumu tentang Sean dan rumah tangga kamu hancur itu sama saja menghancurkan diri Alana Devan. Kau dengar?!" Tegas Diana.
" Tapi aku ayahnya ma!".
" Iya. Kau memang ayahnya. Tapi kau tak ikut andil dalam merawatnya kan. Merasakan ngidam sakit melahirkan dan membesarkan nya. Bahkan kami pun tak merasakannya".
" Itu karena Alana tak memberitahu ku ma". Devan menyalahkan Alana.
" Jadi kau menyalahkan Alana?" Tanya Diana. " Kau menyalahkan seorang ibu yang telah merawat anakmu? Apa kau juga akan menyalahkan ibu jika ibu berada di posisi alana?".
" Alana merawat anakmu Dev. Dengan baik dan tanpa protes. Dia mengorbankan masa depannya, waktunya dan harga dirinya hanya untuk mempertahankan anak kalian. Dia rela di caci maki orang, rela mengidam sendiri, rela berjuang demi melahirkan anak kalian hingga membesarkannya dengan baik. Apa kau tidak bisa melihatnya? Jangan menyalahkan seorang ibu yang berjuang untuk anaknya Dev kau tak akan tahu!".
Tak sadar air mata Diana ikut turun mengingat semua perkataan Alana tempo hari. Dimana dia bercerita tentang masa kehamilannya tentang segala hal yang di lewatinya.
Dia memang tak merasakannya namun dia mengerti. Mereka sama sama wanita, sama sama seorang ibu. Pernah merasakan masa kehamilan sakitnya melahirkan hingga merawat anaknya hingga besar. Dan Diana sangat mengerti pengorbanan Alana.
" Dia mengorbankan itu untuk kebahagiaan mu Dev. Dia tak ingin merusak rumah tangga mu". Lirih Diana.
Dia menangis di pelukan Jerry yang menghampirinya. Meluapkan semua rasa sesaknya.
Jerry yang melihat istrinya menangis membawanya ke kamar.
" Renungkan baik baik Dev". Pesan Jerry.
Devan terdiam. Rasa sesak sekaligus bersalah mulai menyerang hatinya. Pikirannya melambung pada ungkapan yang Diana lontarkan.
Tubuhnya ambruk di lantai. Membayangkan Alana berjuang sendiri membesarkan anak mereka membuatnya sesak.
Tanpa sadar devan menjatuhkan air matanya. Dia benar benar tak sanggup.