
Dia Minggu telah berlalu setelah tragedi Alana yang pingsan pun Niken yang datang. Setelah mendapat bala suntikan dari Devan tempo hari Niken sudah tak pernah datang lagi. Apalagi Devan balik mengancam akan mengumbar dana gelap yang di lakukan oleh perusahaan milik niken itu. Dia sudah menyelidiki tentang perusahaan niken yang hampir bangkrut. Yang ternyata di karenakan banyaknya dana gelap baik di luar maupun di dalam lingkungan perusahaan nya. Salah satunya adalah korupsi yang di lakukan perusahaan itu pada proyek pembangunan Superblok. Niken yang di ancam seperti itu tentu saja takut dan lebih memilih untuk tidak bertemu lagi.
Pun Alana yang pingsan kala itu dokter hanya bilang Alana mengalami syok yang berlebihan. Hingga membuatnya pingsan. Sean yang kala itu baru bangun tidur terkejut melihat Alana yang pingsan. Alhasil putra Devan itu menangis dan mengadu pada daddy-nya.
"Kau bau Dev!" Celetuk Alana. Wanita itu menutup hidungnya seolah Devan adalah sampah yang bau.
Devan menciumi bau tubuhnya. Wangi, seperti biasanya. Namun kenapa Alana menyebutnya bau?
" Tidak. Aku tidak bau. Justru wangi karena aku baru saja mandi". Ucap Devan. Mendekat mencari bukti pada Alana.
Buru buru Alana menjauh. Kepalanya menggeleng geleng dengan mulut yang di tutup oleh tangan.
"Menjauh Dev! Kau itu bau. Kenapa bisa kau sebau itu ish?!" Alana menggerutu. Semakin menggerutu kala Devan masih saja mendekat padanya.
" Sudah ku bilang menjauh. Kenapa kau masih mendekat? CK, kau diam disana atau ku pukul?!" Ancam Alana pada Devan yang terus saja mengikutinya.
Devan berhenti, menatap Alana dengan bingung dan heran. "Bau dari mana yang? Aku sudah wangi begini kau bilang bau". Ujarnya.
Alana menatap Devan dengan ogah ogahan. " Wangi dari mana? Kau itu bau sekali. Seperti kambing saja". Tangannya menyilang menyumpal hidungnya supaya tidak mencium aroma Devan yang terasa aneh saat ini.
Dia sendiri pun bingung kenapa. Padahal tadi tidak kenapa Napa justru dia paling suka dengan aroma parfum pria itu. Tiba tiba saja dia merasa bau tubuh Devan sangat menyengat dan tidak sedap.
" Wangi begini kau bilang aku bau kambing? CK, hidungmu saja yang bermasalah". Kesal Devan.
Dirinya kesal saat Alana mengatainya bau kambing. Padahal dia baru mandi dan sudah memakai minyak wangi.
"Gak tahulah tiba tiba saja begini". Ujar Alana turut kesal. Menjauh dari Devan dan memilih menyibukan dirinya pada ponsel.
Devan yang merasa kesal memilih keluar dari kamar. Perasaan tiba tiba saja menjadi dongkol dan tidak bersemangat. Selama turun dari lantai atas hingga makan pun Devan terlihat murung. Berbeda dengan Alana yang sibuk memakan camilan di kamarnya.
" Kau kenapa Dev? Mukamu murung seperti itu ". Kebetulan mereka tengah menginap di rumah Milly. Itu karena kemauan Alana.
" Aku tidak papa ayah. Hanya tidak bersemangat ". Jawab Devan malas.
Dahi Edgar mengernyit kala mendengar jawaban menantunya itu. " Kau ada masalah? Apa tentang perusahaan mu?" Kembali Edgar bertanya. Masih penasaran dengan alasan di balik wajah murung pria itu.
Menarik napas dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan. " Entahlah ayah. Aku merasa tidak bersemangat hari ini". Jawab Devan.
Edgar mencari posisi duduk di samping sang menantu. Tangannya menuangkan air dan dahinya mengerut. " Tidak bersemangat? Kenapa? Kau memiliki masalah dengan Alana?"
" Tidak. Sebenarnya bukan masalah. Hanya sikap Alana aneh belakangan ini. Dia bilang aku bau bahkan menyebutku seperti kambing. Padahal aku baru saja mandi". Curhat Devan. Dari raut wajahnya pria itu memang merasa kesal sekaligus sedih.
"Benarkah begitu?"
" HM. Aku bahkan tidak di perbolehkan untuk mendekatinya".
Edgar menunduk sekilas. Merasa kasihan juga padanya. " Kalau begitu kau coba lagi bujuk Alana. Siapa tahu berhasil". Nasihat nya.
Dia juga merasa aneh dengan sikap Alana. Tak biasanya gadis itu bersikap seperti itu. Devan hanya mampu mengangguk menanggapi ucapan Edgar. Rasa tak bersemangat nya semakin menjadi mengingat Alana yang tertidur tadi.
Rupanya sesi curhat Devan pada Edgar terdengar sampai pada telinga Milly. Tentu saja wanita itu juga merasa khawatir. Dan memutuskan untuk menghampiri Alana yang sedang berada di dalam kamar.
Terlihat wanita itu duduk di atas ranjang dengan rambut yang masih basah. Sepertinya baru saja mandi.
" Al". Panggilnya.
Mendekat pada Alana dan ikut duduk di sampingnya. Sontak Alana menoleh pada sang ibu angkat.
" Ibu". Ujarnya.
"Ada apa Bu?" Tanya Alana.
Milly menatap Alana. Melihat hal hal yang sudah di duganya. " Kau bermasalah dengan Devan?" Tanyanya.
Dahi Alana mengerut. Dia tak tahu ini di sebut masalah apa bukan. " Aku..aku tidak tahu Bu". Katanya.
" Tidak tau? Maksudnya?" Milly bingung. Tentu saja.
Alana menarik napasnya dalam. Dan mulai menceritakan apa yang dia rasakan hingga membuat Devan menjauh.
" Aku tidak tahu ibu. Tiba tiba saja aku merasa jika Devan itu bau. Sangat bau seperti kambing yang tidak mandi. Wajahnya juga tiba tiba menjadi jelek. Padahal dulu dia sangat tampan tapi sekarang dia terlihat membosankan dan menyebalkan." Gerutu Alana meluapkan perasaan nya.
" Tadi dia ingin mendekatiku tapi karena aku tak tahan dengan bau nya jadi aku mengusirnya. Aku tidak tahu kenapa bisa tiba tiba begini". Lanjut nya.
Dia juga merasa sedih dan kasihan melihat Devan yang ingin menyentuh nya namun dia malah menjauh. Namun apa boleh buat.
Mendengar cerita Alana Milly berpikir. Sepertinya dia tau apa yang di alami Alana saat ini. " Al kau sudah datang bulan?" Tanyanya tiba tiba.
" Setelah pernikahan aku belum mendapat tamu bulananku". Ujar Alana belum sempat berpikir.
" Coba kau beli testpack". Usul Milly.
" Maksud ibu aku hamil?!" Tanya Alana terkejut. Pasalnya dia tak menduga sampai kesana.
"Siapa yang hamil?" Devan, pria itu tiba tiba muncul dari balik pintu.
Wajahnya menegang dan terkejut saat mendengarnya. Was was pun dadanya berdebar debar.
" Belum pasti. Tapi dari cerita yang alana bilang pada ibu di tambah dia belum mendapatkan tamu bulanan nya, sepertinya patut di coba. Siapa tahu positif". Kata Milly.
Mata Devan bergulir menatap alana. Sungguh dadanya berdebar kala Milly mengatakan jika Alana kemungkinan hamil.
" Kau belilah testpack Dev." Suruh mertua Devan itu. Yang langsung di turuti Devan.
Tak sampai lima menit Devan sudah kembali dengan sekantung keresek kecil berisi testpack berbagai merk. Pria itu membelinya dengan perasaan yang berdebar. Bahkan tangan nya sampai Tremor memegang nya.
Alana meraih kantong itu dan masuk ke dalam kamar mandi. Di luar Devan dan Milly menunggu hasilnya.
Tok tok tok
Pintu di ketuk meski terbuka. Atensi mereka menoleh dan mendapati Diana yang berdiri mendekat.
"Mama". Ujar Devan. Terkejut melihat kehadiran ibunya. Milly pun ikut terkejut melihat Diana datang.
"Mama. kapan mama datang?" Tanya devan.
"Baru saja. Tadi mama panggil panggil gak nyaut. Tadi ada bibi dan bilang kalau lagi ngumpul di sini. Jadi mama kesini. Mumpung papa lagi libur mama pengen jenguk mantu mama". Jelas Diana. Menghampiri Milly dan duduk di sampingnya.
" Papa mama?" Tanya devan lagi.
" Bareng ayah mertua kamu. Lagi ngobrol biasa. Oh ya, Alana mana?" Tanya Diana. Tak melihat keberadaan menantu kesayangan nya dari tadi.
Ceklek
Belum sempat menjawab pintu kamar mandi terbuka. Menampilkan Alana yang memegang testpack.
" Gimana yang?!"
"Gimana Al?"
"Positif!" Lirihnya lemas. Pasalnya sembari menunggu tadi dia sempat muntah muntah.
Sontak mereka berteriak. Mengucapkan kata selamat pada alana dan Devan.
"Ini benar sayang?" Tanya devan masih tak percaya.
Alana mengangguk. Menyerahkan testpack yang bergaris dua merah itu. Langsung saja Devan memeluk Alana erat. Memenyerangnya dengan kecupan di kepala serta wajahnya. Dia senang, amat. Dadanya masih berguncang sebab ada rasa percaya tak percaya. Dia akan kembali menjadi ayah kedua kalinya. Dan kali ini dia mengetahuinya sangat awal. Tidak seperti Sean yang tahu ketika umurnya hampir 5 tahun.
" Alana hamil?" Tanya Diana terkejut.
Mily mengangguk sebagai jawaban. Ikut terharu mendengar kabar ini. Begitupun Diana. Yang langsung menatap sayang pada mantunya.
" Selamat Dev. Kau akan kembali jadi Daddy". Ujar mily.
Mereka berhenti kala bibi memanggil. Mereka makan dengan sangat bahagia. Pun Alana di layani bak ratu di rumah itu. Edgar dan Jery pun ikut bergabung dan memanjakan anak serta menantu mereka. Tak lupa si kecil Sean yang amat senang mendengar berita ini. Dia bahkan melompat lompat kegirangan sambil menyebut nama adik. Hal itu membuat satu keluarga terhibur oleh tingkah ruang Sean.
Sore harinya karena mengetahui Alana hamil Diana memutuskan untuk menginap. Berbeda dengan Jery yang pulang karena besok dia harus bekerja. Mereka di buat terkejut dengan kedatangan Tania serta Brian yang tiba tiba.
" Halo tante apa kabar?" Tanya Tania. Memeluk Mily lalu berganti pada Diana.
" Kami baik. Tumben kalian datang tidak mengabari terlebih dahulu, ada apa?" Tanya mily pada dua orang yang tampak kikuk itu.
" Emm kami ingin berbicara dengan Alana serta keluarganya". Jawab Brian.
" Karena ini sudah waktunya makan malam, ayo kita makan terlebih dahulu. Nanti kita bahas". Ajak Edgar.
Semuanya mengangguk setuju dan antusias. Mereka menikmati makan malam dengan riang, meski Alana yang makan dengan ogah ogahan.
" Jadi apa yang membawa kalian hingga rela jauh jauh terbang kesini?" Tanya Alana.
Mereka semua sudah berkumpul di ruang tamu. Saling mengobrol dan menikmati hidangan yang tersaji.
Tania melirik sekilas pada Brian. Merasa takut jika kabar yang di bawanya mengejutkan. Brian mengangguk saja membalas lirikan Tania. Seolah mengatakan jika mereka memang harus mengatakan nya.
"Jadi kita kesini sebab... Emm...sebab huh!"
Tania tak dapat melanjutkan ucapannya. Dan memilih menyodorkan kartu undangan pada meja yang tertera nama dirinya dan Brian. Yang mereka akan menikah.
" Kalian akan menikah?" Tanya Alana terkejut. Menatap kedua temannya dengan silih berganti.
" Hmm. Aku harap kalian bisa hadir di pernikahan kami". Ujar Brian tetap cool.
Devan mengeratkan pelukannya di pinggang Alana. Masih merasa jika pria di depannya adalah saingannya yang sedang tebar pesona.
" Tentu saja aku akan datang. Tapi, kalian sungguh akan menikah? Maksudku bagaimana bisa?" Masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya Alana kembali bertanya. Keningnya mengkerut dalam.
"Ceritanya panjang". Ujar Tania.
Gadis itu mulai menceritakan bagaimana dirinya bisa menikah dengan Brian. Bermula dari perjodohan yang kedua orangtua mereka rencanakan. Awalnya dia maupun Brian menolak mentah mentah. Tapi kedua orang tuanya tetap kekeh dan memaksa mereka untuk berhubungan selama 2 Minggu sebagai percobaan. Dari dua Minggu itulah yang mengubah hatinya. Dan memutuskan untuk menyetujui perjodohan itu.
" Oh astaga. Aku masih tak percaya". Ujar Alana.
"Meski begitu, selamat untuk kalian. Kami pasti akan menghadirinya". Ujar mily.
" Iya. Semoga pernikahan kalian selalu rukun dan bertahan hingga selama nya. Turut senang mendengar beritanya. Kami akan berusaha menghadirinya benar suamiku?" Diana melirik Jerry. Meminta jawaban pria itu.
" Yah, istriku benar. Kami akan berusaha menghadirinya". Senyum Jerry.
" Om ucapkan selamat untuk kalian berdua". Edgar ikut memberi doa pada pernikahan keduanya.
" Selamat. Aku dan Alana serta Sean pasti akan datang". Ujar Devan. Meski terdengar datar percayalah, pria itu senang mendengar cerita mereka.
" Aunty Tania dan uncle Brian akan menikah?" Sean muncul. Duduk di pangkuan Devan dan bertanya.
" Sean! Astaga. Kau tidak rindu pada aunty? Teman bermainmu yang cantik ini?". Tanya Tania. Menatap rindu pada Sean kecilnya.
Sean menggeleng tegas. "Aku tidak merindukan aunty. Karena aku akan mendapat teman bermain baru". Ujar Sean.
Dahi Tania mengerut. Menatap Sean dengan tanya." Benarkah? Siapa?" Tanyanya.
"Adik bayi". Celetuk Sean dengan polosnya.
Kiara terkejut. Matanya bergulir pada Alana yang tersenyum melihat interaksi mereka. " Kau hamil Al?" Tanya Tania tak percaya.
Sontak Alana menoleh dan mengangguk. "Iya. Aku hamil lagi". Ujarnya.
" Ah benarkah? Aku akan kembali mendapat ponakan? Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal. Aku bahkan belum menyiapkan hadiah untuk calon bayimu". Cerocos Tania. Dia ikut bahagia dengan kabar yang baru diterimanya itu.
" CK kau ini. Selalu saja berlebihan. Dia masih kecil untuk kau beri hadiah. Dan aku belum sempat memberi tahu mu karena kami juga baru mengetahuinya tadi". Ucap Alana. Mengusap perutnya pelan yang berisi anaknya.
" Hmm berapa umurnya?" Antusias Tania. Dia lebih antusias dengan kehamilan kedua Alana.
" Kami belum memeriksanya". Ucap Devan menjawab pertanyaan Tania.
" Kapan kalian akan memeriksanya? boleh kah aku ikut? Mumpung aku disini". Bujuk Tania.
Alana dan Devan saling pandang. Sebelum akhirnya mengangguk. " Kalian bisa ikut jika kalian mau". Tandas Devan.
Malam itu penuh dengan kejutan, kebahagiaan dan kesejahteraan. Mereka saling berdamai dengan masa lalu dan menuju masa Devan yang indah. Saling meluapkan cinta dan perasaan masing masing. Dan memang sudah seharusnya jodoh pasti bertemu. Dengan siapa dia kita tak tahu. Tapi jangan pernah menolaknya meski kita tak mencintai nya sekali pun. Karena Tuhan maha membulak balikan hati manusia.
-END-
......................
2000 kata special happy ending...๐ฅณ๐ฅณ
terima kasih untuk para pembaca yang setia menunggu dan menemani cerita ini sampai end.
satu chapter special dan ending sesungguhnya aku upload di KK.
disana berisi berbagai jawaban kejanggalan di dalam novel. seperti alasan Devan yang tidak menceraikan Karina lima tahun lalu hingga perjodohan Tania dan Brian. juga kelanjutan cerita ini sedikit ada disana.
aku update setiap hari Minggu di KK...
jangan lupa mampir di ceritaku selanjutnya judulnya seanagatha.
3 bab udah aku publish. aku akan aktif lagi nulis cerita ini dari mulai awal September. Hiatus untuk bulan Agustus karena ingin fokus sekolah. jangan lupa mampir di cerita selanjutnya.
dan yah, di cerita ini aku gak ngadain giveaway. tapi insyaallah di cerita berikutnya aku bakal ngadain giveaway meski hanya pulsa..
thank you so much everyone. and i love you forever my readers๐๐๐น๐๐ฅ
sampai jumpa di cerita selanjutnya....