
Aku bangun dengan perasaan yang berbunga - bunga, pelangi seperti muncul di dalam kamarku disertai kupu - kupu berwarna indah terbang memenuhi ruangan. Aku bersenandung merapikan tempat tidurku kemudian masuk ke kamar mandi melakukan ritual wajib setiap pagi. Butuh waktu satu jam untukku membersihkan tubuh agar benar - benar bersih dan wangi. Setelahnya aku pergi ke meja rias menatap kagum kecantikan yang kumiliki apalagi saat selesai mandi. Aku mulai mengoleskan berbagai hal untuk menambah kecantikan mulai dari bedak, blast on, lip teen , eyeshadow dan eyeliner yang aku aplikasikan pada wajahku senatural mungkin. Untuk merias diri, memilih pakaian, memilih sepatu dan menata rambut aku memerlukan waktu dua jam. Saat aku sudah siap terdengar dari halaman rumahku Rafael datang dengan motor besarnya yang berwarna hitam. Aku cukup beruntung memilih outfit yang tidak salah, dengan memakai t- shirt turtleneck polos berwarna cokelat muda dengan celana jogger leather pants berwarna hitam yang dipermanis dengan sepatu booth berwarna cokelat membuat penampilanku cukup casual tapi tetap elegan sementara rambut panjangku aku biarkan terurai, pasti akan sangat cocok saat dibonceng oleh Rafael nanti. Aku segera turun menuju ruang tamu, disana Rafael sudah menungguku. Ia tersenyum melihat kedatanganku, aku juga tersenyum balik saat melihat outfit yang kami kenakan terlihat sangat serasi,
" Apa kamu menunggu sudah lama ?" Tanyaku basa - basi, padahal aku tahu kalau dia juga baru datang,
" Tidak, malah aku barusan datang, pagi ini kamu terlihat cantik sekali, " Ujarnya memujiku melihat dari ujung kaki hingga ujung kepala ku,
" Terima kasih, kamu juga sangat tampan, dan lihat outfit yang kita gunakan juga senada, " Ujarku membuat Rafael terkekeh membenarkan.
Pagi ini Rafael menggunakan jaket denim berwarna coklat dengan t- shirt putih di dalamnya dan menggunakan celana jeans serta menggunakan sneaker. Rambutnya seperti biasa ia sisir rapi ke belakang membuatnya tampak seperti aktor Hollywood. Dari jarak lima meter dapat kucium wangi mint dengan vanilla yang menambah kesan manlynya. Tanpa membuang waktu lagi kami pun segera pergi meninggalkan rumah besar ku yang lengang.
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah restoran Skandinavian yang kemarin kami kunjungi. Tempat ini dipilih untuk sarapan karena memang aku sangat ingin kemari, sepanjang jalan aku terus - terusan meminta Rafael kesini hingga Rafael gemas dan pura - pura tidak mau menuruti keinginan ku. Aku sangat senang mengetahui Rafael ternyata membawaku kemari lagi dalam waktu yang dekat. Suasananya lebih menyenangkan di pagi hari seperti sekarang daripada di siang hari saat kami berkunjung kemarin dengan pengunjung yang ramai. Pagi ini aku memesan Gravad Lax Med Hovmastarsas dengan irisan tipis salmon yang sudah direndam dengan garam, gula, daun dill cincang dan disajikan dengan saus mustard. Dahulu aku tidak terlalu suka makanan Skandinavian yang menurutku tak cocok di lidah orang Indonesia sepertiku. Namun semenjak makan disini aku justru sangat menyukainya, bahkan membayangkannya saja sudah membuat air liurku menetes. Begitu pelayan membawa hidangan itu ke meja kami, aku sudah memasang ancang - ancang dan langsung menyerbunya saat datang. Rafael yang melihat tingkahku hanya tertawa tidak habis pikir melihat perubahan sosokku yang biasanya anggun dan berwibawa menjadi sosok yang buas seperti tidak makan tiga hari.
" Hahahaha.....kamu ini lucu sekali, memangnya seenak itu ya kok sampai tidak bisa mengendalikan diri ?" Ia terkekeh melihatku sudah melahap dengan semangat makanan itu,
" Kamu memang sangat pintar memilih restoran dan merekomendasikan makanan Rafael, lain kali aku ingin kamu mengajakku ke tempat lain, " Ujarku sambil terus menyuapkan makanan itu hingga suaraku terdengar tidak jelas,
" Iya sudah makan dulu, ngomongnya nanti saja, " Sahutnya membuatku hanya menyengir malu, jelas saja makan sambil berbicara itu hal yang tidak sopan.
Kalau papaku tahu aku begini pasti aku sudah mendapat ceramah tujuh hari tujuh malam serta akan dimasukkan ke sekolah kepribadian. Selanjutnya tak ada percakapan hingga makanan di masing-masing piring kami tandas. Saat selesai menyuapkan makanan terakhir, tangan Rafael terulur mengusap ujung bibirku dengan tisu membuatku tersentak kaget terdiam,
" Dasar ya, makan begini saja sampai cemong semua, dasar adik kecil, " Kekehnya memandang ku gemas,
" Adik kecil terlalu menikmati makanan yang enak kakak, " Aku menirukan gaya berbicara anak kecil sehingga Rafael mencubit pipiku,
" Hahahaha.......dasar adik ini ya, setelah ini adik mau kemana?" Tanyanya lagi,
" Terserah kakak aja deh, kemanapun kakak pergi adik ikut, " Ujarku tetap bersikap seperti anak kecil,
" Oke deh, aku akan membuat hari ini menjadi hari paling indah untuk kamu, " Ia tersenyum memandangku secara intens, hingga aku menyadarkannya dan mengajak beranjak dari restoran ini.
Tidak kusangka Rafael mengajakku ke sebuah taman bermain yang memiliki banyak sekali wanaha, aku sempat berpikir dia akan mengajakku ke mall, menonton film , atau mungkin berbelanja di butik milik desainer terkenal, ternyata perkiraanku itu salah total. Di taman bermain ini Rafael menantang ku untuk menaiki semua wanaha ekstrim yang ada. Meskipun sebenarnya aku sedikit takut, ku buang jauh rasa takut itu dan menyetujui tantangannya. Wahana pertama yang kami naikki adalah rollercoaster, pemanasan yang cukup menegangkan sebelum mencoba wahana lain yang lebih ekstrim. Selama rollercoaster berjalan , tidak henti -hentinya aku berteriak dan mengenggam tangan Rafael dengan erat, sementara dia malah tertawa kegirangan selama itu juga. Aku tidak habis pikir dengan Rafael, terbuat dari apa sebenarnya dia hingga seakan tidak memiliki sedikit pun rasa takut. Semua wahana ekstrim yang kami naikki malah membuatnya kegirangan, sementara aku menaiki semua wahana itu membuat ku muntah - muntah tak tahan pada akhirnya. Melihat kondisi ku yang semakin lemas dan pucat membuat Rafael menyudahi tantangan itu. Kemudian ia mengajakku ke salah satu restoran untuk beristirahat, disana dengan sangat sabar ia memijit tengkukku dan merawatku hingga rasa mual dan lemas itu perlahan - lahan menghilang,
" Vin, kamu kalo tidak kuat bilang saja, aku tidak akan memaksa kamu naik, " Ujarnya cemas menatapku,
" Aku tidak akan menyerah jika sudah menerima tantangan, " Jawabku dengan suara yang lemah,
" Ya....ampun Vin, tapi kalo sampai muntah begini gimana, masih untung kamu tidak sampai pingsan, aku saja sudah sangat khawatir melihat kondisi kamu yang seperti ini, " Aku tertunduk mendengar ia memarahiku, tapi disisi lain hatiku bersorak gembira mengetahui Rafael mengkhawatirkan aku,
" Maaf kan aku, aku tidak bermaksud membuat kamu khawatir, aku hanya berusaha menjadi sebaik mungkin untuk kamu, " Saat mengatakan itu, entah kenapa dadaku terasa sedikit sesak.
Mataku berkaca-kaca melihat Rafael yang terlihat sedikit marah, melihat Rafael marah membuat ketakutan tersendiri bagiku sekarang. Aku tidak mau Rafael sampai menjauh dariku, apalagi sampai meninggalkan aku. Rafael terdiam memandangku, sedetik kemudian ia menggenggam kedua tanganku dan mencium punggung tanganku,
" Maafkan aku Melvin jika barusan bersikap berlebihan, aku hanya khawatir padamu, " Ia melembutkan suaranya kembali tersenyum manis padaku, seketika ketakutan dalam diriku lenyap melihatnya kembali seperti semula.
Kami keluar dari wahana permainan ketika matahari mulai condong ke barat. Rafael memacu laju motornya searah datangnya sinar matahari. Rafael melaju di jalanan yang ramai di hari libur ini. Dengan lincahnya ia menyalip setiap kendaraan di depannya, hingga tanpa sadar aku memeluknya ketakutan dan sesekali memejamkan mata.
" Kamu takut ngebut ?" Suaranya terdengar samar di balik helm full face nya,
" Iya, aku takut Rafael, " Mendengar itu ia sedikit memperlambat laju motornya yang menurutku masih tetap kencang. Ini adalah pengalaman pertama kali dalam hidupku menaiki motor. Dari kecil papaku tidak pernah membiarkan aku menaiki motor sekalipun hanya dibonceng. Pengalaman ini akan selalu aku kenang sepanjang hidupku terlebih lagi Rafael yang membonceng ku. Ketika melewati deretan toko bunga, Rafael menghentikan motornya di depan salah satu toko yang sederhana. Tanpa menjelaskan padaku ia menarikku masuk dan menyuruhku menunggu di salah satu kursi di pojok ruangan. Toko bunga ini meskipun dari luar terlihat sederhana tapi siapa sangka di dalamnya sangat luas dengan beragam jenis bunga koleksinya. Tak lama, Rafael sudah kembali membawa dua buket bunga lili putih. Ia menyerahkan salah satunya padaku,
" Ini untuk nona yang cantik, secantik bunga ini, " Ujarnya seraya menyerahkan buket dengan bersipu di depanku sangat romantis,
" Bagaimana kamu tahu kalau aku sangat suka bunga lili putih?" Aku heran Rafael dapat mengetahui hal yang sangat jarang diketahui orang lain, bahkan temanku Diandra pun tidak tahu mengenai ini,
" Em.......anggap saja tebakkan yang beruntung, " Sahutnya tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
Setelah itu ia mengajakku melanjutkan perjalanan. Hal yang mengganggu pikiran ku saat tahu ia membawa satu lagi bungkusan buket lili putih serupa dengan yang diberikan padaku, tapi aku memilih diam tidak menanyakan.
Setelah dari toko bunga itu, Rafael mengajakku ke sebuah taman yang indah. Di sana ada banyak bunga - bunga yang sedang bermekaran, burung - burung gereja hinggap di dahan - dahan pohon di sekitar taman sambil berkicau riang membuat suasana sangat asri dan menentramkan. Di tengah taman ini terdapat kolam dengan air mancur yang menari - nari elok menimpa permukaan airnya. Kini aku dan Rafael tengah duduk di salah satu bangku taman menikmati senja yang sebentar lagi tiba. Seorang anak perempuan berlarian mengejar burung dara yang berkerumun di depan kami, dengan riang gembira ia berlarian kesana kemari hingga membuatnya terjatuh dan menangis. Ia menangis semakin keras tapi tak ada seorangpun yang datang menghampiri. Aku berdiri membantu gadis kecil itu bangun, air mata dan ingusnya membasahi seluruh wajahnya. Aku berusaha menghentikan tangisnya yang tidak segera reda tapi tidak berhasil. Kemudian Rafael datang menghampiri kami membawa sebuah balon berwarna merah dan memberikan padanya. Mendapatkan sebuah balon membuat tangisnya mulai sedikit reda,
" Adik manis, kamu kesini sama siapa, dan dimana papa mama ?" Tanyaku pada gadis lima tahun yang sedikit tambun itu,
" Keyra, mama mencari kamu dari tadi, mama sangat khawatir sayang, " Wanita itu memeluk anaknya erat,
" Terima kasih ya mbak dan mas sudah menolong anak saya, " Sambungan berterima kasih pada kami,
" Sama - sama mbak, " Jawabku pendek tersenyum manis padanya,
" Eh.....kalau tidak salah saya sering lihat masnya di rumah sakit ya ?" Ujarnya memandang Rafael menebak, mendengar itu Rafael hanya mengangguk ragu.
Tak disangka Rafael beranjak meninggalkan kami menuju bangku
Yang tadi diduduki dan mengambil bungkusan buket bunga lili putih,
" Mbak kalau tidak salah seorang perawat disana kan, saya ingin titip buket ini, " Rafael menyerahkan buket lili putih pada wanita yang katanya perawatan itu, tanpa bertanya lagi perawat itu menerima buket itu dan pamit meninggalkan kami menyisakan semakin banyak pertanyaan di otakku.
Saat wanita itu sudah jauh, aku meminta penjelasan pada Rafael,
" Emang kamu ngapain ke rumah sakit, buat siapa bunga itu, memangnya siapa yang sedang sakit ?" Aku mencecarnya dengan pertanyaan - pertanyaan yang mengalir di otakku,
" Perawatan itu dari rumah sakit yang merawat kakekku, sudahlah tidak perlu dibahas, itu tidak penting, " Aku merasa tak mendapat jawaban yang kuinginkan , Rafael seakan menghindari setiap pertanyaanku dan mengalihkan ke hal lain.
Tidak ingin memaksa, aku pun tak menanyakan lagi, aku takut hal itu membuat Rafael merasa tidak nyaman lagi denganku.
Langit telah sempurna gelap gulita, lampu - lampu jalan sudah dinyalakan dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam menambah keindahan malam hari. Deretan pertokoan sederhana dan kaki lima sudah membereskan dagangannya, digantikan oleh geliat coffee shop yang mulai ramai. Rafael mengajakku ke sebuah restoran pinggiran pantai. Dari restoran ini kami dapat melihat lautan luas diterpa sinar bulan serta beberapa kapal yang berlalu lalang dari kejauhan terlihat berkelap -kelip. Suasana restoran ini sangat tenang dan cukup privasi. Pelayan menunjukkan meja yang sudah dipesan Rafael sebelumnya. Makan malam ekslusif dihadirkan Rafael setelah seharian bermain - main santai. Disaat itu, Rafael mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dan memberikannya padaku. Saat kubuka isi dari kotak itu adalah sebuah kalung liontin.
" Semoga kamu suka kalung itu, " Rafael tersenyum memandang kalung liontin itu,
" Ini indah sekali Rafael, terima kasih, " Ujarku memandang setiap detail kalung itu, terbuat dari emas putih , pada bandulnya berbentuk hati dengan berlian kecil ditengahnya.
Jika dilihat lagi, aku yakin berlian ini seratus persen asli. Aku tersenyum dalam hati, Rafael sepertinya akan mengajakku dalam hubungan yang lebih serius. Beberapa menit aku menunggu, tak terucap sepatah katapun dari bibirnya. Ia hanya melihat ku sambil terus tersenyum,
" Kenapa kamu berikan ini Rafael?" Tanyaku memancingnya untuk mengungkapkan perasaan,
" Beberapa minggu lalu aku datang mengantar mamaku ke toko perhiasan dan aku melihat kalung yang sangat indah membuat ku teringat kamu saat kita bertabrakan di lorong sekolahmu waktu itu. Aku berharap bisa memberikannya padamu sebelum mengenal kamu, ternyata takdir mengijinkan kita untuk kenal dekat seperti sekarang. Jadi kuputuskan membeli kalung itu, " Jelasnya panjang lebar yang hanya aku angguki.
Aku sedikit kecewa mendengar itu, bukan itu yang ingin kudengar. Namun, aku harus sabar ini masih permulaan. Mungkin masih butuh pengenalan lebih dalam lagi untuk Rafael bisa mengungkapkan perasaannya,
" Terima kasih ya, sudah memberikan kalung seindah ini, kalung ini akan menjadi favoritku, "
" Syukurlah kalau kamu senang, aku sempat takut kalo kamu tidak suka, sini aku bantu memakaikan !"
Ia beranjak dari kursinya menuju belakang kursi ku, ia miringkan rambut panjang hitam ku ke sebelah pundakku kemudian memasangkan kalung itu di leherku.
Saat itu waktu terasa berhenti, jantungku berdetak lebih kencang dengan nafas yang terasa sesak, kebahagiaan membuncang dadaku, membuatku tak percaya bahwa ini bukan mimpi. Malam ini menjadi serangkaian malam terindah ku bersama Rafael. Aku sangat mencintainya, aku akan sabar menunggu hingga ia siap mengungkapkan perasaannya.
Kami sampai di rumahku sudah larut malam. Rafael mengantarku hingga masuk ke halaman. Sebelumnya aku hanya meminta ia mengantarku sampai pintu gerbang, tapi ia bersikeras mengantar masuk ke halaman rumah yang luas hingga sampai di depan pintu rumahku. Saat aku turun dari motor besarnya, seorang wanita yang cukup muda usia tiga puluhan berdiri tepat di depan pintu masuk rumahku sambil bersendekap memandang tidak suka ke arahku. Wanita itu adalah tante Jasmine, adik dari papaku yang selalu mengawasi dan menjagaku saat papa ke luar negeri. Awalnya aku mengira ia tidak akan datang kemari karena sebentar lagi ia akan menikah dan itu akan membuatnya sibuk, tapi aku salah total. Dengan sangat jantan Rafael turun dari motornya menghampiri tanteku, sopan menyalaminya,
" Saya mohon maaf sudah membawa Melvin main sampai larut malam seperti ini, kami terlalu bersenang - senang sampai lupa waktu, " Rafael menunduk memandang tanteku yang tingginya hanya sepundaknya,
" Baik kali ini saya maafkan, lain kali jangan lakukan lagi, sudah tahu kan kalo membawa anak gadis sampai larut malam itu tidak baik dan tidak sopan, saya kira jika sudah tidak ada keperluan lebih baik kamu pulang !" Ujar tante menahan marah.
Tanpa instruksi Rafael segera pulang sesuai perintah tante. Tante Jasmine menarik ku masuk kedalam dan mulai menceramahi aku,
" Kamu itu anak gadis Melvin tidak pantas pulang larut malam seperti ini, kayak anak yang tidak pernah diajari sopan santun saja kamu ini !" Ia marah melotot memandang ku,
" Aku hanya sekali seperti ini tante, kenapa tante berlebihan seperti itu seperti tante tidak pernah muda saja, " Ujarku membela diri,
" Meski sekali hal seperti itu tetap tidak boleh Melvin, tante tahu kamu itu remaja, masanya sangat suka bermain, dulu tante juga pernah remaja tapi tante tahu waktu, tahu batasan, kamu harus ingat kita ini dari keluarga yang terhormat jangan sampai kelakuan kamu membuat malu nama keluarga kita terutama papa kamu. Tante yakin kalo papa kamu tahu kamu seperti ini papamu pasti akan marah, apalagi tahu kalo perginya sama cowok, pokoknya jangan sampai kamu seperti ini lagi , ini pertama dan terakhir kali kamu seperti ini !" Ceramah nya panjang lebar membuat telinga ku panas, selalu saja diatur seperti ini.
Sejak mamaku meninggal sepuluh tahun lalu, tante Jasmine yang seakan jadi mamaku. Melarang ini itu harus begini begitu, menuntut semua harus sempurna sesuai keinginannya,
" Kenapa sih tante selalu mengurusi hidupku, aku bosan melihat tante mengatur semua hal dalam hidupku, seandainya mama masih ada aku yakin mama tidak akan seperti tante, aku sudah besar tante, aku bukan anak kecil lagi yang bisa tante atur seenaknya, lagipula sebentar lagi tante akan menikah kan, aku sarankan lebih baik tante mengurus pernikahan tante saja daripada mengurus hidupku !" Ujarku berani membantahnya untuk pertama kali pada tante yang menurutku sudah kelewat batas mengaturku.
Setelah itu, aku berlari meninggalkan tante Jasmine, ia memanggil - manggil tapi tak aku hiraukan, aku terus berlari menaiki tangga menuju kamarku,
" Melvin tunggu ......Melvin, tante belum selesai bicara !"