
Kala matahari menyorot di atas ranjang pengantin yang begitu berantakan dan penuh oleh air kencing Alana yang Devan buat sampai terkencing kencing, Devan kembali membuat Alana bergetar hingga menggigil di bawah sower pagi ini. Keduanya tak henti hentinya menikmati surga dunia yang kembali berkali kali mereka renggut.
Keduanya mengakhiri permainan kala di rasa perutnya lapar. Dan memutuskan untuk makan bersama orang tua serta Sean dan Tania tentunya.
Mereka mengulum senyum kala mendapati tiga bulat merah agak ungu di leher Alana. Membuat mereka tertawa geli dan berusaha bersikap biasa saja.
"Ekhm". Tania. Gadis itu berusaha mengusir rasa canggungnya.
"Kalian makan saja. Sepertinya aku tidak berselera". Ujar Alana tiba tiba.
Dia malu, sangat malu. Apalagi dia lupa menutupi bekas merah di lehernya tadi. Wajahnya sudah memerah dan terasa panas. Mungkin sebentar lagi akan terbakar hingga berasap tebal.
" Kau kenapa al? Apa benih Devan sudah tumbuh Sampai kau tidak berselera makan?" Diana, perempuan itu sudah tak dapat menahan kegeliannya. Dan bertanya disertai candaan yang meruju pada ledekan kecil.
Kembali wajah Alana memerah. Hingga terlihat jelas di mata orang orang. Wanita itu memegang pipinya yang panas pelan. "Bu-bukan begitu ma".
"Hahaha" tiba tiba Diana tertawa. "sudahlah. Mama hanya bercanda. kau makanlah jangan merasa canggung. Sudah biasa bagi orang yang baru menikah. Kami juga dulu seperti itu". Ujar Diana mencoba menenangkan Alana. Sembari melirik Jerry.
"Dan yah, nanti kau tutupi merah merah di leher mu dengan foundation". Lanjutnya.
Semakin malu dia. Hingga tangannya meremas paha Devan dengan erat di bawah meja makan. Menyalurkan rasa malunya yang sudah kepalang dan rasanya dia ingin mati saja sekarang.
Sarapan penuh kecanggungan yang di rasakan Alana terlewati dengan sangat lama. Entah dia yang merasa atau memang begitu.
Selesai makan dia hendak kembali ke kamar hotelnya namun urung saat tahu arsen datang. Dapat dia lihat Sean menyambut dengan antusias kedatangan arsen. Bahkan pria kecil itu kini sudah nemplok di pangkuannya.
"Hai Dev Alana!" Sapa arsen.
Devan mengangguk pun Alana yang tersenyum membalas sapaan arsen. Tak lupa tangannya yang berusaha menutupi tiga bekas merah di lehernya.
"Uncle kenapa kemarin uncle pulang? Kenapa tidak menginap disini saja seperti aunty tania". Celetuk Sean dalam pangkuan arsen.
" Oh uncle masih ada pekerjaan. Jadi tidak bisa ditinggal lama lama." Jawab pria dua puluh delapan tahun itu.
"Jadi pekerjaan uncle sudah selesai dan uncle kesini lagi?" Kembali pria kecil itu bertanya.
"Nah itu kau tahu. Dasar pria pintar!" Puji arsen mengusap kepala kecil Sean.
Mata Devan menyipit. Menyadari keakraban putranya bersama sahabatnya itu. Pun Alana yang juga merasa seperti itu.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya devan penasaran.
Sontak arsen dan Sean menoleh. Lalu keduanya mengangguk dan bertos ria. Hal itu semakin membuat devan terkejut.
"Bagaimana bisa?!" Kini alana yang bertanya. Perempuan itu pun ikut penasaran rupanya.
"Kami-" Ucapan arsen terpotong saat Sean menjawab lebih dulu.
"Karena uncle arsen yang menyuruhku meminta adik pada mommy dan Daddy. Katanya supaya mommy dan Daddy cepat menikah".
Mati sudah dirimu arsen. Merutuki kebodohannya yang tidak meminta Sean untuk membocorkan rahasia mereka.
Kini Devan dan Alana tahu jika dalang di balik keinginan Sean adalah arsen. Tatapan tajam penuh ancaman Devan pancarkan pada arsen. Yang justru tersenyum ku memperlihatkan giginya.
"Kenapa lu ngajarin anak gue yang gak bener?!" Tanya devan tajam. Sedikit tak suka kala arsen mengajari anaknya yang tidak tidak.
Arsen, pria itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ya- ya.... Ck! Gue minta maaf. Lagian niat gue kan baik buat bikin lo lebih cepet nikah sama Alana. Buktinya juga berhasil" berusaha membela diri.
Menghela napas kasar Devan mengendurkan rahangnya yang mengeras. "Huh! Gak harus kotorin pikiran anak gue kan bisa!"
"Iya sorry". Arsen akhirnya memilih mengalah. Membiarkan dirinya mendapat nasihat dari tetua devano.
Obrolan mereka berhenti karena Alana serta Sean mengantar Tania yang akan kembali ke Kanada. CEO perusahaan desain itu beralasan jika banyak pekerjaan yangng tertinggal. Dan terpaksa kembali meski masih betah di Indonesia.
" Dadah aunty. Jangan lupa main lagi kesini!" Ujar Sean. Melambai sedih dengan wajah murung pada Tania yang sudah menggandeng kopernya.
"Jangan sedih begitu. Nanti aunty akan sering bermain kesini. Atau kalau tidak Sean yang bermain kesana". Hiburnya.
Sean mengangguk saja. Mengiyakan ucapan aunty nya itu. Tak lupa memberikan satu kecupan di pipi tania sebelum perempuan itu berangkat.
"Gue pamit Al. Nanti gue bakal sering luangin waktu kesini buat ajak Sean main. Atau kalau enggak Lo yang ke sana. Sekalian bulan madu". Saran tania berpamitan pada Alana.
"Hmm. Nanti gue pikirin lagi." Jawab alana. Mereka kemudian berpelukan sebagai tanda pamitan.
" Gue titip alana sama Sean yah. Jaga mereka baik baik. Jangan sampai gue liat mereka nangis lagi!" Pesan tegas Tania sampaikan pada Devan.
Pria yang sudah menjadi penanggung jawab alana dan Sean itu mengangguk pasti. Meraih pinggang Alana dan memeluknya. Satu tangannya memeluk tubuh kecil Sean yang berada di depannya.
"Hmm. Pasti!" Jawabnya yakin.
"Ya udah gue pamit".
"Hati hati!"
Ketiganya menatap kepergian Tania sekejap. Setelah Tania masuk ke dalam pesawat mereka memutuskan kembali ke hotel. Hari ini mereka akan kembali ke rumah Edgar dan mily.
Soal arsen, pria itu sudah kembali lagi karena ada urusan. Awalnya berniat membantu berkemas namun tak sempat karena mendadak.
Setelah berkemas semua, mereka melaju kembali hingga berada di rumah Edgar. Sean tertidur karena kelelahan. Pun Edgar dan mily yang memilih beristirahat setelah sibuk wara Wiri.
"Sayang!"
Tiba tiba Devan meraih pinggang Alana yang baru selesai merapikan pakaian. Mereka kini sudah berada di kamar alana.
" Kenapa?" Tanya Alana menatap sipit Devan. Kala merasakan tangan pria itu sudah berada di balik baju yang dia gunakan.
"Ayo!" Ajak devan. Tatapannya sudah sayu.
"Tapi aku belum mandi Dev". Alana berusaha menghentikan tangan devan Yang sudah bergeliyaran di tubuhnya.
"Um kita mandi bersama". Devan mengangkat Alana hendak membawanya ke dalam kamar mandi.
Namun ketukan dipintu membuatnya urung. Mereka menghampiri pintu itu Dan membukanya.
"Ada apa bi?" Tanya Alana saat bibi lah yang dia dapati.
"Em itu nyonya Al. Ada yang ingin bertemu dengan anda. Katanya sangat penting". Kata bibi tadi.
Alana mengerutkan keningnya. Seolah bertanya siapa yang berkunjung sore begini.
Mengakhiri penasarannya Alana turun untuk menemui tamu yang di maksud tadi. Diikuti devan dari belakang dengan wajah ditekuk karena terganggu kesenangannya.
"Lama tidak berjumpa Alana!"
Deg
Seketika tubuh Alana terhenti. Mematung menatap orang yang memanggilnya. Suara nya sangat tak asing dan dia sangat mengenalinya.
Matanya yang membulat bertemu tatap dengan orang itu. Orang yang sudah menelantarkan nya. Yang membuangnya bahkan tak memperdulikannya kini menatapnya dengan senyum tanpa dosa. Duduk di atas sofa dan dia tak mampu berkata kata kecuali,
"Mama!" Lirihnya.
...****************...
...~novel ini sedang proses finishing~...
•oh ya untuk hidden part malam pertama Alana dan devan udah aku publish di kk-nama penanya LyliAssena✓