
Matahari sudah mulai tenggelam di langit barat ketika aku pulang dari sekolah. Aku melangkah malas memasuki rumah besarku yang sepi. Tante Jasmine pulang tadi pagi karena harus mengurus kelengkapan pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi. Pertengkaranku dengan tante Jasmine beberapa waktu lalu sudah mereda ketika paginya aku yang meminta maaf padanya. Aku sadar, tante Jasmine hanya berusaha membimbing ku menjadi pribadi yang baik. Belum sempat aku membuka pintu, pintu itu terbuka terlebih dahulu dengan seorang gadis keluar yang langsung menghambur ke arahku,
" Melvin, aku sangat senang bertemu kamu lagi ! " Serunya dengan suara yang melengking nyaring,
" Mayra, kapan kamu datang ?" Balasku memeluknya.
Aku cukup terkejut melihat kedatangan Mayra sepupuku yang mendadak dari USA,
" Mayra datang bersama papa tadi siang, mulai sekarang Mayra akan tinggal disini bersama kita, " Sahut papa menghampiri kami ,
" Wow.....itu kabar yang baik, tapi kenapa Mayra tiba - tiba pindah kemari?" Tanyaku lagi seraya berjalan menuju ruang tamu,
" Papa mamaku pindah ke Buenos Aires untuk membangun bisnis baru disana, dan aku tidak mau ikut tinggal disana, lebih baik aku pulang ke Indonesia, " Jawabnya memasang wajah sebal,
" Mayra juga akan pindah sekolah ke sekolah kamu mulai besok, " Papa menambahkan membuat aku membelalakkan mata,
" Papa yakin Mayra sekolah di sekolahku, kenapa tidak pindah ke sekolah Internasional saja papa, aku tidak yakin Mayra akan suka sekolahku, " Ujarku mengingat begitu manjanya dia dan ia tidak mau berada di lingkungan orang biasa, ia dari kecil selalu dibiasakan orang tuanya berada dalam lingkungan yang serba elit.
" No problem girl, it is my choice, " Sahutnya kemudian,
" Tapi kenapa begitu, ini bukan papa yang memaksa kan ?" Ujarku tidak yakin,
" Tidak, uncle tidak memaksaku, aku hanya ingin saja merasakan suasana kehidupan di tengah rakyat jelata seperti yang kamu lakukan, " Sambungnya seraya tertawa.
Malam harinya, aku bersama Mayra jalan - jalan ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli perlengkapan sekolah terutama alat tulis. Sebenarnya papaku sudah menyiapkan semua keperluan Mayra tapi Mayra menginginkan membeli barang - barangnya sendiri. Saat kami sampai di pusat perbelanjaan, kami berkeliling mencari toko peralatan sekolah dan kantor. Belum sampai di tempat yang hendak dituju, Mayra menarikku masuk ke dalam butik milik brand ternama dan mulai memilih pakaian disana. Berjam-jam Mayra menghabiskan waktu untuk membeli semua hal yang menarik perhatiannya, diriku pun sempat larut dalam suasana suka cita berbelanja seperti Mayra tapi aku segera ingat tujuan kami datang kemari.
" Mayra, come on kita kemari untuk membeli alat tulis bukan membeli pakaian, time is over for shopping, ayo pergi dari sini !" Ujarku setengah menarik paksa Mayra dengan belanjaan yang memenuhi kedua tangannya.
Akhirnya kamipun sampai di toko alat tulis, dengan gembira Mayra memilih semua barang yang menurutnya bagus meskipun ada beberapa hal yang tidak penting untuk dibeli menurutku. Setelah selesai membeli alat tulis dan pakaian, kami menuju restoran cepat saji untuk makan malam. Mayra menghentikan langkahnya sebelum memasuki restoran itu,
" Kenapa berhenti Mayra, apa ada yang ketinggalan ?" Tanyaku heran,
" Are you serious ? " Tanyanya balik padaku,
" Memangnya kenapa, apa ada yang salah ?" Ujarku semakin tak mengerti dengannya,
" Kamu ajak aku makan di tempat tidak sehat seperti ini, tidak Melvin aku tidak mau, seumur hidupku aku tidak pernah menginjakkan kaki ke tempat seperti ini dan tidak akan pernah untuk selamanya! " Ejeknya membuatku menghela nafas panjang,
" Jadi kamu mau makan dimana?" Tanyaku sabar menghadapi sikap arrogant sepupuku yang kelewatan,
" Aku mau makan di tempat yang biasa keluarga kita makan, " Aku menghela nafas panjang,
" Tidak bisa Mayra, kita harus memesan tempat terlebih dahulu jika mau makan disana, " Jelasku sabar, aku tidak habis pikir bisa - bisanya ia meminta makan malam di atas kapal pesiar mewah yang biasa dijadikan keluarga kami untuk tempat berkumpul.
Sebenarnya aku bisa saja melakukan itu saat ini juga, tapi aku tidak mau menurutinya begitu saja karena hal itu akan membuatnya semakin manja,
" Yasudah aku tidak mau makan disini pokoknya! " Ia mulai merajuk kekanak - kanakan,
" Baiklah kita pulang saja kalo begitu, biar aku telfon mbak Ina untuk menyiapkan makanan kesukaanmu, " Ujarku membuatnya seketika tersenyum kembali.
Aku memang harus sabar menghadapi sepupuku yang kelewatan manja, ini adalah dampak dari orang tuanya yang selalu memanjakan dia dan menuruti semua yang dia inginkan. Beruntung papaku tak terlalu memanjakan aku seperti itu, aku tidak bisa membayangkan jika jadi seperti Mayra yang hanya akan membuat orang lain kesulitan dengan permintaan yang macam-macam.
Pagi ini aku datang terlambat ke sekolah, pelanggaran tata tertib yang kulakukan pertama kali dalam hidupku. Beruntungnya aku tidak mendapat hukuman, para guru memaklumi karena aku datang bersama Mayra yang baru pindah dari luar negeri. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya reputasiku sebagai ketua OSIS akibat Mayra yang bangun kesiangan. Bersama wali kelas, aku, dan Mayra masuk ke kalasku. Kemudian aku duduk di tempat ku sedangkan Mayra memperkenalkan diri di depan teman - temanku,
" Hello guys, my name is Mayra Gracia Candra Wijaya, you can call me Mayra, i'm from Ny, USA, " Ujarnya memperkenalkan diri tapi di tegur wali kelas ku untuk menggunakan bahasa Indonesia,
" Mayra, tolong diulangi dengan bahasa Indonesia ya, karena kamu sekarang berada di Indonesia, jadi harus menggunakan bahasa Indonesia !" Aku tahu Mayra tak terima disuruh mengulang lagi dan menatap wali kelasku sebal, tapi aku menatap memperingatkan membuatnya menurut,
" Hai teman - teman, nama saya Mayra Gracia Candra Wijaya, dipanggil Mayra, pindahan dari New York, USA, " Ujarnya mengulangi dengan malas.
Akhirnya Mayra dipersilahkan duduk di belakangku bersama Bintang. Lamat - lamat aku bisa mendengar teman - teman ku yang mulai berbisik - bisik tentang Mayra, baik itu kesombongannya ataupun kecantikannya seperti diriku yang notabenenya bersaudara. Aku sendiri tidak ambil pusing dengan kelakuan teman - teman ku yang sudah menjadi kebiasaan itu, membiarkan sesuka mereka selama tidak merugikan aku ataupun Mayra.
Bel istirahat berbunyi, semua pelajaran telah usai. Semua siswa berbondong - bondong menuju kantin untuk mengisi perut yang sudah lapar. Beberapa ada yang lebih memilih di kelas memakan bekal yang disiapkan ibunya. Biasanya aku membawa bekal sendiri dari rumah yang dibuatkan mbak Ina, tapi kali ini aku lebih memilih mengajak Mayra makan di kantin sekolah agar ia bisa beradaptasi disini dengan lebih baik. Aku, Diandra, dan Mayra berjalan melewati lorong -lorong kelas yang ramai. Sekejap kami menjadi pusat perhatian di sepanjang jalan menuju kantin, ada beberapa siswa yang hanya memandang kami tampak penasaran dengan Mayra, ada juga yang terang - terangan menyapa dan memuji kecantikan Mayra yang tidak jauh dariku. Mayra tak terlihat terganggu, ia malah memasang senyuman di sepanjang jalan menunjukkan image yang ramah. Baiklah mungkin ini situasi yang cukup baik, tapi aku tahu Mayra seperti itu karena memang dia seseorang yang sangat menjaga image. Dia akan memperlihatkan dan bersikap sebaik mungkin dihadapan orang lain terlepas dari sikap sombong dan manjanya, salah satu hal yang baik dari Mayra. Akupun cukup bersyukur melihat Mayra yang cukup ramah. Meskipun sedari tadi ia berbisik mengeluh padaku tentang sekolahku yang menurutnya sangat kuno, teman - teman yang suka bergosip membuatnya ingin menyumpal mulutnya satu - satu , atau pun karena siswa - siswa yang menurutnya norak seperti tidak pernah melihat orang cantik, dan masih banyak lagi keluhan lainnya. Sekali lagi aku harus sabar menghadapinya meski sebenarnya akulah yang ingin menyumpal mulutnya karena seenaknya saja menjelekkan sekolah ku. Selang beberapa menit kami sudah tiba di kantin sekolah, Diandra yang memilih tempat duduk sedangkan aku dan Mayra yang memesan makanan. Ada sedikit antrian di tempat kami memesan, membuat kami memiliki kesempatan untuk melihat menunya,
" Ya.....ampun, benarkah ini, yang benar saja mereka menjual makanan sampah disini? " Keluhnya berbisik padaku,
" Jaga ucapan mu Mayra, aku tidak suka kamu bicara seperti itu, kamu yang memilih ikut sekolah disini bersama ku itu berarti kamu harus belajar menerima semua yang ada disini, jika tidak suka silahkan kamu minta pindah ke papaku !" Ujarku memperingatkan, aku harus tegas pada Mayra dibeberapa kesempatan agar ia tidak seenaknya,
" Oh my God, sepertinya aku mulai menyesal dengan pilihanku, " Gumamnya sebal tak aku hiraukan.
Aku memesan soto ayam sedangkan Diandra dan Mayra memesan bakso. Aku hendak menyuapkan sendokan pertama ketika Kak Arya memanggilku membuatku urung makan,
" Melvin, maaf mengganggu makannya, bisa ikut aku sebentar, ada hal yang ingin aku katakan !" Aku mengangguk mengikuti Kak Arya meninggalkan Mayra dan Diandra sebentar.
Kak Arya mengajakku masuk ke ruang sekretariat yang sepi, saat sudah masuk ia mengunci pintu dari dalam agar siapapun tidak masuk dan mengetahui keberadaan kami disini. Ia mengambil kursi dan mulai berbicara,
" Itu ide yang bagus kak, aku sangat senang jika sekolah kita menjadi tempat rapat koordinasi pertama, tapi apakah tidak bisa jika diluar jam sekolah, mungkin saat hari minggu ?"
" Tidak bisa Vin, aku sengaja mengadakan di jam efektif agar semua perwakilan sekolah datang, aku ingin membuat ini menjadi rapat resmi, pengalaman sebelumnya jika diadakan di luar jam sekolah, banyak perwakilan sekolah yang tidak hadir, "
" Hem.....jadi begitu ya, kalo seperti itu langkah kakak sudah benar, baiklah kakak minta saja sekertaris JOS membuat surat ijin ke sekolah, nanti jika sudah selesai aku akan ikut kakak menghadap kepala sekolah. Aku juga akan membuat panitia kecil untuk menyiapkan semua hal, kalian para pengurus JOS tinggal fokus saja dengan pokok pembahasan, dan aku sarankan untuk kakak membuat peraturan JOS yang resmi, karena aku lihat JOS tidak punya peraturan yang paten, "
" Baiklah akan aku pikirkan itu dan terima kasih sudah membantuku, " Sahutnya ramah.
Akhir-akhir ini sikapnya jauh lebih baik padaku dan lebih profesional semenjak terpilih menjadi ketua umum JOS, hal itu baik karena mengurangi satu permasalahan ku dalam organisasi.
Setelah percakapan mengenai JOS dengan Kak Arya, aku bergegas ke kantin mengingat waktu istirahat berakhir tinggal sebentar lagi. Saat memasuki kantin aku dikejutkan dengan kerumunan siswa yang ramai menonton pertengkaran yang tak lain sepupuku dengan geng kakak kelas. Aku berlari menghampiri mereka dan melerai mereka yang sudah hampir saling melempar botol saus dan kecap.
" Sudah berhenti, jangan buat keributan disini !" Ujarnku berteriak melerai,
" Nah datang juga nih orangnya, heh Melvin kalo punya sepupu itu dijaga, biar gak kurang ajar !" Hardik Kak Selena, kakak kelas yang merupakan ketua geng,
" Tahu, jangan cuma sibuk pencitraan saja kamu, perhatikan itu sepupumu yang bule gak jadi, " Sambung teman Selena yang lain,
" Shut up *****, jaga ucapanmu cewek murahan !" Sahut Mayra melotot menatap Selena garang,
" Sudah berhenti, Kak Selena dan kakak yang lain tolong berhenti, saya minta maaf jika Mayra berulah tapi tolong tidak usah sampai bertengkar, dia memang masih perlu beradaptasi di sini, tolong mengerti lah, dan Mayra ayo pergi dari sini !" Aku menarik paksa Mayra meninggalkan kantin, aku malas berurusan dengan geng kakak kelas yang kurang kerjaan itu. Aku lebih memilih pergi bukan karena aku takut, menanggapi ucapan mereka sama saja menganggapi orang gila.
Aku terus mengandengnya hingga sampai di kelas, sepanjang jalan ia mengomel menghujat Selena dan temannya,
" Dasar wanita ****** itu seenaknya mengatai sepupuku yang tidak - tidak, " Gumamnya seraya duduk di bangkunya,
" Sudahlah Mayra tenangkan dirimu, jangan berbuat ulah di hari pertama sekolah !" Tegurku sambil memberikan sebotol air putih untuk menenangkannya,
"Aku tidak terima Melvin, masak kamu dikatai pelakor, " Pernyataan Mayra membuat ku mengernyitkan dahi,
" Apa pelakor, memangnya siapa pacarnya, aku tidak merasa punya hubungan dengan siapapun di sekolah ini, " Ujarku heran,
" Yaelah vin, masak kamu gak tahu, Selena kan suka Mike, itu kapten basket yang pernah nembak terus kamu tolak, " Sahut Diandra,
" Ya ampun, cuma masalah kayak begitu, lagian aku gak suka Mike, Mike yang ngejar aku, " Aku menghela nafas berat,
" Iya, lagian Melvin kan udah sama Rafael yang sempurna, Mike sih tidak ada apa - apanya dibandingkan Rafael, " Diandra keceplosan membuatku langsung membelalakkan mata sedangkan ia buru - buru menutup mulutnya,
" Rafael, siapa itu Rafael ?" Sahut Mayra penasaran.
Selanjutnya Mayra memaksaku dan Diandra menjelaskan tapi kami menolak.
Belum saatnya Mayra tahu tentang Rafael dan lebih baik ia tidak tahu.
Seharian setelah kejadian itu, Mayra terus menempel padaku berusaha mencari tahu siapa itu Rafael. Bahkan malam ini dia tetap memaksa tidur bersama ku meski aku sudah menolak. Ia berusaha memancingku dengan berbagai janji yang ia umbar tapi tak membuatku goyah merahasiakan Rafael. Malam itu entah kesialan atau keberuntungan bagiku, tiba - tiba Rafael datang ke rumahku tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Aku kaget mengetahui Rafael sudah di ruang tamu, dengan mengendap - endap aku keluar kamar meninggalkan Mayra yang sudah terlelap. Aku menghela nafas lega setelah berhasil keluar tanpa membangunkan Mayra dan segera bergegas menemui Rafael. Rafael duduk dengan tenang menungguku, malam ini hanya mengenakan jaket bomber dengan celana jogger sudah membuat nya terlihat tampan. Ia tersenyum begitu melihat kedatanganku,
" Selamat malam Melvin, maaf ya malam - malam seperti ini mengganggu kamu, " Ujarnya tetap tersenyum manis,
" Iya tidak apa Rafael, kalo boleh tahu ada apa kamu kesini?" Tanyaku penasaran langsung ke intinya,
" Aku mau membicarakan masalah futsal yang kemarin sempat kita bahas, oh ya tapi sebelum itu aku membawakan Martabak kesukaan kamu, " Ia menyodorkan sekotak martabak yang tampak masih baru dibuat,
" Wah.....terima kasih banyak Rafael , aku jadi tidak enak membuatmu repot, " Dengan senang hati aku menerima pemberian Rafael itu,
" Jadi gimana futsalnya ?" Tanyanya memulai pembicaraan,
" Aku sudah membicarakan dengan teman - temanku , mereka dengan senang hati menerima tawaran kamu, untuk tempatnya aku serahkan saja pada kamu, terserah dimana enaknya, kamu kan lebih paham masalah lapangan daripada aku, " Ujarku yang diangguki Rafael,
" Baiklah kalo begitu, aku akan kasih tahu kamu kalo sudah kureservasi, hari minggu jam sembilan ya ?"
" Oke siap, aku akan beri tahu teman - temanku, " Pungkasku kemudian.
Setelah pembicaraan yang lain, Rafael pamit pulang saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Aku mengantar kepulangannya hingga di halaman rumah. Saat Rafael keluar gerbang, aku pun masuk kembali ke rumah. Aku terkejut melihat Mayra sudah berada di ruang tamu seraya memakan martabak yang dibawakan Rafael,
" Em.... martabak nya enak sekali, " Gumamnya tidak jelas dengan mulut penuh martabak,
" Mayra sejak kapan kamu suka martabak, bukannya kamu benci makanan yang katamu punya rakyat jelata ?" Ujarku menyindirnya,
" Sejak malam ini aku suka, apalagi karena yang membawakan pangeran tampan, " Mendengar itu membuat telingaku merah,
" Apaan sih kamu itu Mayra, gajelas banget !" Sahutku sebal,
" Kamu itu yang gak jelas, oh.....kamu cemburu ya aku memuji Rafael seperti itu ?" Kini ia berubah menggodaku,
" Kok kamu tahu itu tadi Rafael ?" Tanpa sadar secara tidak langsung aku sudah memberi tahunya,
" Tahu dong, kalo bukan Rafael gak mungkin kamu cemburu gitu saat aku memujinya dan senyum - senyum sendiri begitu seusai mengantar sampai halaman, jelas dia spesial buat kamu, " Ia semakin menggoda ku membuat pipiku merah seperti udang rebus,
" Bicara apa sih kamu Mayra, tapi awas ya kamu macam - macam sama Rafael !" Naluri kepemilikan seakan menguasai diriku, takut Rafael direbut wanita lain,
" Tenang aku gak akan macam - macam, paling juga habis ini aku jadi pacarnya, " Ia mengejekku segera berlari sambil membawa semua martabakku,
" Mayra.....awas kamu ya, hey kembalikan martabakku !" Aku berteriak bergegas mengejarnya.