
Pagi saat Alana sedang masak, dia kedatangan Brian. Pria itu bertamu pagi pagi sekali sebelum sarapan.
" Brian. Kenapa kesini pagi pagi?" Tanya Alana.
Brian tersenyum. " Hi Alana. Kau tak suka aku datang kesini?" Tanyanya pura pura merajuk.
" Tidak tidak. Kau jangan salah paham. Aku hanya bertanya saja". Ujar alana cepat.
Brian terkekeh. " Aku kesini karena kangen sama kamu sean dan nenek. Kemarin mau kesini tapi sibuk dengan pekerjaan ku". Sahut Brian.
" Oh. Ayo masuk. Kita ngobrol di dalam". Ajak alana.
Mereka duduk di kursi ruang tamu. Saling mengobrol dengan duduk satu kursi.
" Kau ingin ku buatkan minum?" Tawar alana.
" Tidak perlu. Tapi aku ingin ikut sarapan disini". Jujurnya.
Alana tertawa." Tentu. Kau boleh sarapan bersama kami disini".
" Al. Ada yang ingin aku tanyakan". Ujar brian tiba tiba.
Alana mengerutkan keningnya. " Ya boleh."
" Maaf jika ini menyinggungmu. Tapi ini sangat menggangguku". Alana mengangguk.
" Apa pria yang kemarin kesini daddynya Sean?".
Deg
Dada Alana seketika bergemuruh. Dia menatap sekeliling mencoba menetralkan detak jantungnya.
" Al. Maaf jika ini menyinggungmu. Jika kau tak mau menjawab pun tidak papa". Brian menatap Alana. Dia tahu Alana terkejut dengan pertanyaan nya.
" Ah tidak. Aku tidak papa. Dia .... Dia memang Daddy kandung Sean".
Brian sudah menebak itu. Dari pertama dia melihat wajah Sean yang mirip dengan devan dia tahu jika itu ayahnya.
" Oh. Tidak papa". Brian tersenyum.
Hendak menanyakan yang lain tapi terhenti saat seseorang duduk di tengah mereka. Brian semakin kesal saat mengetahui jika devan lah yang duduk.
'' devan apa yang kau lakukan?'' tanya Alana bingung.
'' duduk. Untuk memisahkan kalian''. Jujur devan membuat Brian semakin kesal.
'' karena aku tak suka kau duduk berdua dengan dia. Aku cemburu!''.
Alana menatap devan tak percaya. Apa tadi katanya, cemburu?
Sungguh Alana tak bisa berkata kata lagi. Dia hanya menatap devan dengan terkejut.
" Kau dengar. Aku cemburu Al." Akunya.
" Tidak bisakah kau untuk tidak mengganggu omongan kami berdua". Brian bersuara.
Devan menatap Brian sengit. Berani sekali pria didepannya ini berbicara.
" Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan kau berdua bersama calon istriku". Tegas devan.
" Calon istri?". Brian terkekeh.
" Memangnya Alana Sudi menjadi calon istri pria brengsek seprtimu?". Sinis Brian.
" Kenapa harus tak Sudi. Aku tampan, mapan rajin. Dan ingat ada Sean di antara kami". Ujar devan tak kalah sinis.
" Oh ya?" Remeh Brian.
Melihat suasana yang semakin tegang membuat Alana mencoba untuk melerainya.
" Sepertinya sarapan sudah siap. Ayo kita makan. Aku akan memanggil Sean. Kalian tunggulah di meja makan bersama nenek". Pesannya.
Alana naik untuk memanggil Sean yang pasti masih bergulung dengan selimut.
Setelah kepergian Alana Brian menatap devan dengan tajam. Mengibarkan aura permusuhan.
" Kau pikir bisa mendapatkan Alana dengan mudah." Ujarnya sinis.
" Aku mencintai nya dan akan memperjuangkan nya. Mari kita bersaing secara sehat".
Devan terkekeh. Namun tak urung di menerima tawaran itu.
" Aku yakin Alana masih mencintaiku." Ujar devan yakin.
Dia berlalu ke meja makan dengan senyuman di wajahnya. Begitupun dengan Brian yang ikut duduk di kursi.
Alana turun dengan Sean yang masih mengucek ngucek matanya. Dan duduk di antara dua pria yang sedang berseteru itu.
Sarapan itu diisi dengan obrolan dan candaan. Kedua pria itu menyembunyikan batin mereka yang menggebu.