Perfect Love

Perfect Love
devan koma



Pencarian Sean masih berlanjut. Devan mengerahkan pasukannya untuk mencari keberadaan sang putranya.


Di sampingnya Alana terus menangis. Khawatir sekaligus takut terjadi sesuatu dengan anaknya.


Mily sendiri kini sudah tak sadarkan diri kembali. Dia di bawa ke rumah sakit dan harus mendapat perawatan. Kondisinya menurun drastis. Untungnya Edgar selalu ada di samping istrinya itu.


Ini adalah kejadian terpatal dalam hidup Devan maupun Alana. Kematian Mira yang tiba tiba dan misterius lalu penculikan Sean yang tiba tiba hingga mily yang harus di rawat karena kondisinya menurun.


Sungguh Devan merutuki kecerobohannya. Dia terlalu santai sampai tak tahu ada yang mengincar mereka.


Untuk Tania serta Brian. Pria itu yang selalu ingin bersama alana malah tiada. Dia di Spanyol karena sedang melakukan beberapa hal penting.


Kini alana dan devan serta Edgar sedang menunggu mily yang masih di terbaring. Dengan Alana yang tak henti menangis dan menggunakan nama Sean. Tania sang teman ikut menenangkan Alana.


Wanita itu ikut khawatir bahkan sampai menangis. Namun dia lebih memilih tenang dan mencoba menenangkan Alana.


Tapi barusan Tania pamit untuk ke kantornya karena ada hal yang harus di urus. Sekalian untuk membersihkan diri karena sudah semalaman menjaga mily.


Ting


Suara ponsel Alana tak membuat wanita itu berhenti. Dia justru malah mengabaikannya. Hingga dua suara berikutnya Alana dengan tangan bergetar membukanya.


Tubuh alana menegang saat membaca pesan itu. Deretan kata serta Poto Sean yang diikat mampu membuat tubuh wanita itu berguncang. Tangannya semakin bergetar hebat.


Melihat reaksi Alana cepat cepat devan merebut ponsel itu. Membacanya dan melihatnya membuat emosi Devan naik ke ubun ubun. Darahnya terasa panas saat melihat putranya yang mengenaskan dengan luka sayatan di tubuhnya.


Tiba tiba Alana bangkit lalu terburu buru keluar. Namun tak berhasil saat devan menghalanginya.


" Awas Dev awas! Jangan menghalangiku. Aku harus bertemu dengan putraku. Aku harus menyelamatkan nya". Alana memberontak.


Devan mencoba menenangkan Alana dengan memeluknya erat.


" Tenang dulu sayang. Kau jangan gegabah. Kita harus memiliki persiapan". Tenang Devan.


Edgar yang penasaran dengan pesan yang di terima Alana meraih ponselnya yang tergeletak.


" Apa maksud dari pesan ini Al?" Tanya Edgar bergetar.


Alana menggeleng. Dia kembali menangis di dalam pelukan Devan.


" Karina menculik Sean om. Dan sekarang dia meminta kami kesana". Jawab devan.


" Sayang dengarkan aku. Ayo kita hadapi ini bersama. Kamu jangan gegabah oke? Kita pasti bisa". Ujar devan pada Alana.


Dalam tangsinya Alana mencoba mengangguk. Kali ini dia harus percaya pada Devan.


" Apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Edgar memecah keheningan.


" Kami akan kesana". Balas Devan.


Dia mengeratkan pelukannya pada Alana untuk memberi kekuatan.


" Jangan gegabah. Bisa jadi itu hanya jebakan. Berbahaya Dev. Kau bisa ajak orang lain untuk menjaga kalian". Ujar Edgar.


Devan tahu. Karena itu mereka tidak boleh mengambil tindakan sembrono.


" Pasti. Kami akan kesana berdua. Aku akan menyuruh Ronnie untuk membawa polisi dan mengikuti kami dari jauh supaya Karina tidak curiga". Jelas devan.


Edgar mengangguk. Dia akan mempercayakan hal ini padanya.


" Maaf om tak bisa ikut. Om harus menjaga mily disini". Ucap Edgar.


Sebenarnya dia sangat ingin membantu. Namun dia harus menjaga mily yang masih lemah.


Devan mengangguk. " Tidak papa. Om jaga lah Tante mily disini. Kami akan menyelesaikan ini".


" Kalian akan berangkat sekarang?" Tanya edgar. Dan devan mengangguk.


" Hati hati. Ingat Dev jangan gegabah. Om menitipkan dua nyawa padamu". Pesan Edgar.


Setelahnya Devan keluar dari rumah sakit. Dia mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Karina yang malah berani menyekap putranya.


...


Seperti ucapannya tadi, sekarang devan dan Alana sedang berada dalam mobil menuju tempat yang di maksud oleh Karina. Sementara Ronnie dan polisi berada di belakang sedikit jauh dari mobilnya.


Alana terus menggenggam tangan devan erat. Wanita itu benar benar takut hingga tangannya panas dingin.


" Dev aku takut terjadi sesuatu pada Sean". Lirih Alana.


Devan membalas genggaman tangan alana. Dia memeluk wanita yang berada di sampingnya ini sekilas.


" Jangan takut ada aku disini. Aku yakin Sean pasti selamat". Ucapnya berharap Alana akan tenang.


Sampai di tujuan buru buru devan dan Alana turun. Keduanya menatap rumah tua yang tampak sudah lama tak dihuni.


Mereka masuk dan segera mencari Sean. " Sean!" Teriak alana.


" Sean ini mommy nak kamu dimana?" Teriaknya lagi.


Tak lama terdengar suara Karina menyaut. " Di gudang belakang!"


Devan dan Alana saling pandang. Lalu keduanya berjalan menuju gudang belakang rumah itu.


Deg!


Tubuh Alana seketika tercekat saat melihat dengan jelas. Disana Karina tersenyum smirk ke arah mereka dengan pisau bedah yang di todongkan pada wajah Sean yang tak sadarkan diri.


Perlahan Alana mendekat. Kakinya terasa lemas seperti agar agar. Bahkan untuk berpijak pun rasanya Alana sulit. Untuk saja Devan membantunya dengan sigap memegang tangan alana.


Karina berdecih melihat sikap devan yang menurutnya sok mesra. Mata tajamnya menatap keduanya dengan benci.


" Diam disana atau dia akan mati". Ancam Karina saat Alana hendak mendekat.


Alana berhenti. Menatap Karina dengan berani. " Apa masalahmu sampai kau menculik putraku?" Tanyanya.


Karina berdecih sinis. " Cih. Jangan pura pura bodoh. Aku yakin kau masih ingat ucapaku kala itu". Ingat Karina.


" Aku sudah melakukan perintahmu asal kau tahu!" Bela Alana.


Dia memang telah melaksanakan perintah Karina dengan pergi dari Indonesia.


" Pembohong! Kau mengatakan jika kau telah pergi tapi nyatanya kau malah semakin nekat mendekati Devan hingga dia menceraikanmu!" Teriak Karina.


Tangannya masih setia menodongkan pisau itu pada wajah Sean.


" Aku tidak tahu masalahmu apa tapi aku minta berikan Sean padaku." Pinta Alana.


Karina tertawa namun terlihat mengerikan Dimata Alana. " Tidak semudah itu."


" Sebenarnya jika kau menuruti ucapanku dan devan tak menceraikanku aku tidak mungkin menculik putramu. Atau bahkan-


Karina menatap devan berganti. Lalu melanjutkan ucapannya. " Membunuh nenekmu".


" Brengsek!" Umpat Devan.


Seketika tubuh Alana menegang. Jadi dalang di balik kematian Mira adalah pelaku yang sama yang menculik Sean.


Dada nya naik turun. Amarahnya memuncak. Wajahnya memerah mengetahui fakta karinalah yang membunuh neneknya.


" KAU WANITA SIALAN! CUMA GARA GARA PRIA KAU SAMPAI MEMBUNUH NYAWA ORANG LAIN. KAU GILA. KAU PEMBUNUH KAU PSIKOPAT." teriak alana menggebu.


" IYA!" Sambar Karina.


" AKU MEMANG GILA. DAN AKU GILA ITU SEMUA GARA GARA KAU. KAU YANG MEMBUATKU MENJADI ORANG JAHAT KAU YANG MEMBUATKU BERPISAH DENGAN DEVAN. AKU MEMANG PEMBUNUH KAU PUAS?"


Alana menatap Karina tak percaya. Wanita di depannya benar benar gila.


" Dan kau akan lihat apa yang bisa di lakukan wanita gila ini!" Tekan Karina.


Pisau yang ia pegang perlahan menyayat sedikit pipi Sean membuatnya berdarah.


" Tidak aku mohon jangan sakiti Sean. Apa mau mu aku akan mengabulkannya asal kau bisa melepaskan Sean." Pinta Alana.


Karina tersenyum menang. Dia menurunkan tangan nya yang memegang pisau.


" Aku ingin kau meminta Devan kembali padaku". Ujar karina.


Devan membelalakan matanya sedangkan Alana langsung mengangguk menyetujuinya tanpa berpikir.


" Iya iya aku akan memberikan nya" ucap alana enteng semakin membuat devan terkejut.


"Sekarang berikan Sean padaku". Alana menyodorkan tangannya hendak menerima Sean.


" Eits. Ada lagi". Ucap Karina.


" Apa?" Alana mulai tak sabaran.


" Kau harus memastikan Devan mau bersamaku dan tidak akan meninggalkanku sampai kapanpun kau bisa? Setelah itu kau pergi menjauh dari kita".


Alana mengangguk cepat membuat devan tak terima. " Iya iya aku pastikan".


" Al!" Protes devan menatap Alana.


Alana menatapnya sekilas sambil mengedipkan matanya beberapa kali.


" Dev aku mohon. Demi Sean oke?".


Mau tak mau akhirnya devan mengangguk sebagai jawaban. Hal itu membuat Karina tersenyum puas.


" Baik aku akan melepaskan anakmu". Ujar karina. " Tapi-


- Devan harus menandatangani surat perjanjian ini sebagai bukti" lanjut Karina.


Dia berbalik ke belakang yang langsung menghadap meja. Tangannya masih setia menodongkan pisau itu pada Sean.


Kesempatan itu Devan gunakan untuk menangkap Karina dari belakang. Devan memeluknya mencoba meringkus Karina. Tangan yang memegang pisau Devan arahkan ke lain arah.


Devan memerintahkan Alana untuk membawa sean. Alana yang mengerti maksud Devan pun segera melepas tali yang melilit tubuh mungil putranya. Lalu menggendongnya dan menjauh dari posisi Devan dan Karina yang tengah berperang.


Karina memberontak. " Lepas lepaskan aku sialan".


Akhh!


Teriakan nyaring itu berasal dari Devan. Pria itu tertusuk pisau bedah tepat di perut sisi kirinya.


Karina segera mematung. Pisau yang di pegang nya terjatuh ke lantai. Dia tak sengaja menusuk Devan sungguh.


Akhh


" Dev. Kau baik baik saja Dev?" Teriak alana histeris saat melihat darah mengalir deras dari tubuh devan.


Melihat kondisi ricuh Karina berinisiatif membunuh alana dan Sean. Dia mengambil pisau itu dan hendak di tusukan pada Alana namun urung saat mendengar bunyi sirine polisi mendekat.


Buru buru Karina melepaskan pisaunya lalu kabur meninggalkan tempat itu. Dia tak mau di penjara.


Buru buru Alana mendekat pada Devan. Dengan Sean di gendongannya Alana mencoba membangunkan Devan yang sudah tak sadarkan diri itu.


" Dev Dev bangun" Alana menepuk pipi Devan.


" Dev kumohon bangunlah".


Merasa tak di jawab alana berteriak meminta tolong.


" Tolong...... Tolong....! Ronnie tolong.."


Tak lama para polisi masuk dengan Ronnie. Namun yang membuat Alana terkejut adalah kedatangan Brian disana.


Ronnie menghampiri tuannya. Dia lalu membawa Devan ke dalam mobil ambulance.


Brian sendiri menghampiri alana. Dia benar benar terkejut saat baru pulang dari Spanyol dan mendengar kabar tentang kematian Mira serta penculikan Sean. Buru buru Brian ke sini untuk membantu.


" Al kau tak papa?" Tanya Brian.


Alana menggeleng lemah. " Tidak aku tidak papa. Tapi Devan dia..." Alana tak dapat melanjutkan ucapannya. Air matanya kembali jatuh mengingat Devan terluka demi menolong putranya.


" Sudah tidak papa. Sini biar aku gendong Sean. Dia harus di bawa kerumah sakit sekarang". Ujar brian.


Pria itu melupakan persaingannya dengan Devan. Ini kondisi darurat bukan waktu yang tepat untuk bersaing.


Alana yang sudah lemah mengangguk. Dia mengikuti Brian masuk ke dalam mobil miliknya. Mereka menuju rumah sakit terdekat.


....


Alana mondar mandir di depan pintu IGD. Dia tak memperdulikan bajunya yang terkena darah dari Sean. Bahkan sudah mengering.


Yang dia khawatir kan sekarang adalah kondisi devan dan Sean. Namun sedari tadi pintu kedua ruangan itu tak ada tanda tanda akan terbuka.


" Al kamu yang tenang". Ucap brian. Pria itu mencoba menenangkan Alana.


Alana hanya mengangguk sebagai jawaban. Meski dia sama sekali tak bisa tenang.


Tak lama pintu ruangan tempat Sean di tangani terbuka. Buru buru Alana menghampiri dokter itu.


" Dok bagaimana keadaan anak saya?" Tanya Alana cemas.


" Pasien kehilangan banyak darah. Dia memerlukan donor segera karena darah yang pasien miliki langka. Dan di rumah sakit ini sedang kosong". Jelas dokter.


" Apa golongan darahnya dok?" Tanya Alana.


" Darah AB". Ucap dokter itu.


Golongan darahnya A dan itu berbeda dengan milik Sean. Itu artinya golongan darah putranya sama dengan golongan milik devan. Namun saat ini Devan tak bisa membantu justru dia juga butuh bantuan.


" Biar saya saja yang mendonor dok. Golongan darah saya AB" sela seseorang membuat Alana menoleh.


Terlihat Jerry dan Diana yang seperti baru datang.


" Baik mari ikut saya untuk melakukan donornya" ujar dokter itu.


" Pa.." panggil Alana.


Jerry tersenyum lalu mengangguk. Kemudian dia mengikuti dokter itu untuk mendonorkan darah nya.


Alana beralih menatap Diana. Lalu berlari dan berhamburan pada pelukan wanita paruh baya itu. Dengan senang hati Diana membalas pelukan alana.


"Terimakasih telah membantuku". Lirihnya.


" Tidak sayang. Ini sudah kewajiban kami". Balas Diana.


Alana melerai pelukan mereka. Dia tersenyum dengan ucapan terima kasih berkali kali.


" Bagaimana keadaan Dev?" Tanya Diana.


Alana menggeleng lemah. " Belum pasti ma". Jawab alana.


Wajah Diana menjadi muram. Dia dan Jerry baru saja sampai di Kanada dan langsung menuju rumah sakit tempat Edgar dan mily disana.


Namun tak menemukan putranya dan Alana serta cucunya. Untung saja Ronnie memberi tahunya tentang keberadaan mereka dan kondisinya.


Tak lama pintu ruang Devan di tangani terbuka. Buru buru Diana dan Alana menghampirinya.


" Dok bagaimana keadaan putra saya?" Tanya Diana cemas.


Dokter itu menarik napas sesaat sebelum menjawab. " Pasien dalam keadaan koma".


Deg


..........


1900 kata untuk pembaca setia. happy reading 😘😘😘