
Matahari masih malu - malu menampakkan wajah nya ketika aku mulai terjaga, aku mulai mengerjap - ngerjapkan mataku hingga pandangan benar - benar fokus menangkap objek lukisan kontemporer di dinding. Saat ini masih terlalu pagi, tetapi pikiranku sudah dibayang - bayangi setiap inci keindahan wajah Rafael, membuat hatiku seketika merekah berbunga. Ku amati kedua tanganku yang halus tak percaya tangan ini pernah di genggamannya meskipun hanya sebentar. Namun masih terasa hangat nya genggaman itu, genggaman yang akan selalu aku rindukan mulai saat ini. Karena masih terlalu pagi untuk mandi dan enggan untuk bersinggungan dengan air, kuputuskan mengambil smartphone ku di atas meja dan mulai menyelami dunia maya mencari - cari informasi mengenai Rafael. Sepuluh menit berlalu baru kutemukan sebuah akun yang kuyakini milik Rafael. Betapa terkejutnya aku saat melihat ia memiliki ratusan ribu pengikut yang lebih banyak dari akun yang kumiliki. Tanpa sadar setiap melihat satu per satu fotonya senyuman terus mengembang dari bibirku dan tanpa bisa dikendalikan jari jemariku dengan nakalnya bergerak menyimpan foto-foto Rafael. Dalam pikiran aku terus berkata kemana saja aku selama ini hingga tidak tahu seseorang yang sempurna berada dekat dengan ku, yah sekolah Rafael hanya berjarak satu kilometer dari sekolah ku dan fakta yang paling mencengangkan adalah kami ternyata tinggal di kompleks perumahan yang sama hanya dipisahkan beberapa blok saja. Beberapa menit aku masih terus melihat satu persatu fotonya. Aku berteriak histeris dan berguling - guling di atas ranjang ketika menemukan fotonya yang hanya bertelanjang dada di kolam renang menampakkan otot - otot perutnya yang terpahat indah. Jantungku semakin tak karuan dibuatnya, tapi segera ku enyahkan segala pikiran - pikiran buruk dalam otakku. Meskipun ku akui tak dapat menolak pesona nya tapi aku berjanji pada diriku untuk selalu tetap berpikir rasional. Aku baru berhenti saat kulihat sinar matahari mulai menerobos masuk sela - sela tirai kamarku dan jam menunjukkan pukul setengah tujuh, aku segera bergegas mandi dan bersiap karena acara akan dimulai satu jam lagi.
Semua peserta pelatihan sudah berkumpul di ballroom hotel saat jam menunjukkan tepat pukul delapan. Aku duduk bersebelahan dengan teman - teman satu sekolah yang pagi ini kelihatan sama berseri - serinya denganku. Aku sempat mencuri - curi pandang melihat Rafael yang duduk berjarak dua banjar di belakangku, ia terlihat sangat tampan pagi ini dengan rambut hitamnya yang selalu tersisir rapi. Aku berhenti melihat Rafael ketika acara pembukaan dimulai. Kak Alfan rupanya menjadi pembawa acara dalam upacara pembukaan sederhana ini. Upacara pembukaan yang khidmat itu di lanjutkan dengan pembagian kelompok untuk tiga hari ke depan, kelompok - kelompok itu sudah diatur oleh para panitia dengan mencampurkan siswa yang berbeda sekolah, setiap kelompok berjumlah sepuluh siswa yang tidak saling kenal dan tak ada satu pun yang satu sekolah dalam setiap kelompok. Hal ini bertujuan untuk para siswa agar dapat menjalin persahabatan antara OSIS SMA satu dengan SMA lain. Namaku disebut pertama kali yang itu artinya aku ada di kelompok satu, setiap kali sebuah nama selesai dipanggil maka kami harus segera mengambil tempat yang sudah disediakan, berkumpul dengan kelompok yang sudah dibagi. Aku berkenalan dengan satu persatu anggota kelompokku yang sejauh ini cukup ramah. Saat selesai berkenalan dengan satu per satu teman baru, aku merasa ada yang kurang dari kelompok ku , aku mengambil inisiatif menghitung jumlah anggota dalam kelompok ku dan ternyata kelompok ku hanya berjumlah sembilan,
" Kak, maaf sebelumnya ini kelompok satu jumlahnya memang hanya sembilan orang ya ?" Tanyaku pada salah satu panitia yang mengumumkan pembagian kelompok,
" Ah....enggak, semua kelompok jumlah nya pas sepuluh kok, " Jawabnya sambil melihat ulang catatannya,
" Tapi ini kelompok satu cuma sembilan orang, apa ada yang belum dipanggil mungkin kak?" Tanyaku mencoba memastikan, akhirnya ia mengabsen ulang kelompokku dan saat nama terakhir disebut tak ada jawaban,
" Nah, ini nih Nathan Prawirabumi Sebastian dari SMA Dua yang gak ada, " Ujarnya kemudian ia bertanya pada teman sesama panitia yang berasal dari SMA terkait,
" Kelompok satu lengkap sepuluh kok, cuma aja katanya Nathan ini sedang ijin ke kamar mandi, sebentar lagi balik kesini kok, " Lanjutnya menerangkan padaku yang ku respon dengan anggukan.
Setelahnya kelompokku berunding untuk memilih ketua kelompok, dan kalian pasti tahu siapa lagi yang akan menjadi ketua kelompoknya jika bukan aku. Aku cukup senang karena bisa menjadi pemimpin tim kecil dari anggota OSIS lain yang berbeda latar belakang, tetapi aku agak kecewa karena tidak bisa satu kelompok dengan Rafael. Padahal sedari tadi aku sudah terus - terusan berdoa untuk dapat satu kelompok, tapi malah temanku Diandra yang satu kelompok dengan Rafael.
Ketika pembagian kelompok usai, acara dilanjutkan dengan pemberian tugas untuk setiap kelompok membuat sebuah program kerja yang nantinya program kerja tersebut dapat menjadi acara dalam agenda kegiatan Jalinan OSIS SMA atau yang sering disebut JOS tahun ini. Tanpa membuang waktu aku dan teman sekelompokku segera berdiskusi tema apa yang akan kami ambil untuk program kerja kami, saat kami tengah asyik berdiskusi datang panitia yang tadi aku tanyai bersama satu anggota kelompokku yang sedari tadi kami cari,
" Nah adek - adek ini Nathan anggota kalian, dan Nathan kamu ada di kelompok satu ya, silahkan berkenalan dan lanjutkan membuat acara yang semenarik mungkin, agar kelompok kalian bisa jadi juara, kakak tinggal dulu ya, " Aku mengamati anggota kelompokku itu dari ujung kaki hingga ujung kepala berharap mataku salah melihat orang di hadapanku ini si kacamata cupu, tapi ternyata memang aku tidak salah lihat,
" Apa lihat - lihat seperti itu, heran gak pernah lihat orang ganteng ?" Sahutnya dengan menatapku sinis,
" Ih apaan, jangan kepedean kenapa, najis tahu mataku lama - lama lihat kamu, kenapa sih harus kamu yang satu kelompok sama aku, sial banget perasaan hidupku disini, "
" Kebenarannya adalah aku yang sial, sepertinya pulang dari sini aku harus sterilisasi ke dokter supaya virus bodohmu gak nular ke aku, " Dia melenggang begitu saja melewati aku dan dengan sok manisnya mulai berkenalan dengan teman - teman yang lain.
Semenjak si cupu itu datang, diskusi program kerja kelompokku yang semula berjalan lancar mulai terganggu terutama dengan ide - ide yang dia cetuskan bersebrangan dengan ideku, membuat diskusi kelompok sedikit tegang,
" Lah kamu pikir dananya gimana kalo orang yang datang ke konser bayarnya pake sampah, yang ada JOS yang rugi, punya pikiran gak sih?" Celetuknya saat aku menjelaskan konsep acara,
" Dananya kan bisa dari sponsor, sekarang bayangin aja, setiap acara ulang tahun SMA se-kota ini aja sponsor nya besar - besar, apalagi untuk event kota kayak gini, pasti banyak sponsor yang mau berpartisipasi, " Ujarku membela opini rancangan kegiatanku,
" Kalo banyak sponsor yang lebih milih acara ini, yang ada ulang tahun sekolahmu itu gak ada yang mendanai, sekolahmu jadi gak punya acara ulang tahun mau ?" Lanjutnya tetap berpegang teguh pada opininya,
" Benar juga sih vin apa kata Nathan, gimana kalo sponsor lebih milih acara ini dan berdampak sama acara sekolah kita ?" Dimas teman satu kelompokku angkat bicara mendukung opini si cupu membuatnya besar kepala,
" Kita di JOS punya perwakilan kan dari setiap sekolah, pastinya nanti mereka akan membuat pemetaan sponsor terlebih dahulu, gak mungkin semua sponsor mereka ikut sertakan, selain dari sponsor kita juga masih punya dana organisasi tahunan yang dikumpulkan dari setiap sekolah yang jumlahnya gak sedikit, kalo masih kurang ya kita mintalah dana ke walikota, buat acara JOS jadi salah satu event resmi kota, gimana ada yang masih gak setuju ?" Penjelasanku telak membantai opini si cupu dan membuat semua anggota setuju mengikuti rancangan acaraku, dalam hati aku tertawa kegirangan menang dari si cupu, ini permulaan yang cukup baik menurutku. Si cupu diam sesaat melihatku sebal,
" Ya silahkan saja, tinggal kita lihat saja nanti penerapannya semudah ngomongannya apa tidak, " Sudah jelas - jelas kalah dia masih saja membela diri dan berusaha menyudutkan aku,
" Ya harus terealisasi lah, buat apa capek - capek mikir dan diskusi kalo gak ada hasilnya, " Jawabku spontan balas menatapnya dengan percaya diri.
" Hai Melvin, itu tadi presentasi yang luar biasa, kamu juga sangat hebat menjawab setiap pertanyaan tanpa kesulitan sedikit pun, " Pujian Rafael membuatku seakan terbang hingga ke langit - langit ruangan,
" Ah tidak, biasa saja kok, presentasi kamu juga luar biasa buktiknya bisa jadi juara, selamat ya, " Aku balas memujinya membuat ia terkekeh,
" Tapi masih kalah sama kamu, eh seharusnya aku kan yang mengucapkan selamat terlebih dulu pada juara satunya, ini malah terbalik, " Aku balas terkekeh mendengar pernyataannya,
" Kamu masih ingat kan kata - kata ladies first, jadi tidak masalah bukan kalau aku yang mengucapkan selamat terlebih dahulu, "
" Hahahaha kamu bisa aja, emang ya kamu itu kreatif banget dan kayak gak pernah kehabisan kata - kata, " Kami terus tertawa bersama dengan lelucon - lelucon kecil yang saling kami lontarkan hingga tidak sadar antrean terganggu karena kami,
" Woy......cepetan kenapa, ini yang ngantri masih banyak, kalo mau pacaran jangan di sini !" Terdengar seruan menyebalkan yang lagi - lagi dari si kacamata cupu, telingaku merah padam rasanya mendengar dia, ingin sekali rasanya aku menyumpal mulutnya dengan sebuah semangka yang masih utuh. Memang ku akui kami salah, tetapi tidak seharusnya si cupu itu berteriak seperti itu membuat semua orang menoleh ke arah kami, melihat kami seakan melakukan kesalahan besar. Tanpa ku jawab cepat - cepat aku ambil makanan dan menuju meja bersama kelompokku yang lain, aku malas meladeni si cupu itu kali ini, ia selalu menggangguku dan Rafael.
Matahari sudah condong ke barat ketika acara hari ini berakhir, lampu - lampu hotel mulai dinyalakan. Beberapa dari lampu - lampu itu berwarna redup membuat kesan dramatis pada sekitarnya. Bintang gemintang bertaburan di langit malam yang cerah dengan bulan sabit melengkung. Aku berjalan mengitari lorong - lorong terbuka hotel di lantai satunya yang menghubungkan dengan beberapa contage yang sepi. Aku berjalan sendirian seperti ini karena Diandra enggan menemani aku melihat - lihat sudut hotel. Aku bosan jika harus terus - terusan berada di kamar sepanjang malam, selain itu berjalan - jalan seperti ini dapat merilekskan pikiran yang lelah setelah beraktivitas seharian terlebih lagi kejenuhan yang harus kurasakan saat melihat wajah memuakkan si cupu itu. Aku berhenti saat menemukan sebuah kolam ikan berkuran sedang di sekitar contage dengan ikan Koi yang terlihat samar-samar, kuamati cahaya yang terpantul berpendar - pendar di atas air yang tenang dan terlihat wajah Rafael yang tersenyum memandangku. Ku usap mataku berkali - kali berusaha mengenyahkan imajinasiku tapi tetap tidak bisa,
" Kenapa sih aku harus kebayang kamu terus, apa aku udah gila ya sampai - sampai melihat bayangan kamu di air ? " Gumamku pelan , sedetik kemudian bayangan itu tersenyum lalu seperti membuka mulut hendak menyahut,
" Kamu gak gila, mungkin itu terjadi karena kamu kepikiran aku terus, " Aku sontak menoleh ke arah suara berat di belakangku. Aku mematung melihat Rafael berdiri tepat dihadapan ku mengenakan sebuah jaket bomber berwarna abu - abu dengan celana santai berwarna senada tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
Sekejap jantung ku langsung berdetak keras dengan nafas yang mulai menderu, antara perasaan kaget dan malu atas peristiwa barusan yang terjadi. Reflek aku berlari menjauh dari Rafael, tetapi ia berhasil menyusul ku dan mencekal lenganku,
" Tunggu jangan pergi, aku cuma bercanda kok, abaikan kata - kataku ya, jika perlu lupakan saja apa yang barusan terjadi, " Ia sedikit menunduk menatap kedua mataku dengan intens, aku menatap balik manik hitam yang tajam itu berusaha mencari kebenaran perkataannya, sejenak dapat ku lihat tatapan itu sayu seperti memohon padaku membuat kepalaku otomatis mengangguk menyetujui.
Beberapa saat kemudian ia melepas cekalannya dari lenganku, kembali bersikap senormal mungkin seakan tidak terjadi apapun,
" Apa yang kamu lakukan malam - malam begini di sini, tidak baik seorang gadis berkeliaran sendirian seperti ini, bagaimana jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?" Kini ia mengambil tempat duduk di pinggiran kolam ikan sambil berceloteh,
" Aku hanya sedang ingin jalan - jalan Rafael, aku bosan berada di kamar, sebenarnya aku tadi sempat mengajak temanku, tapi sepertinya ia terlalu lelah untuk jalan-jalan, " Jelasku turut duduk di sebelahnya,
" Memang sih, cukup membosankan jika cuma berdiam di kamar, tapi lain kali kalo kamu ingin jalan-jalan seperti ini lalu tidak ada teman yang menemani, kamu bisa mengajak aku, " Tawar nya lagi - lagi menatapku, suasana terasa masih canggung meskipun kami berusaha mengalihkan pembicaraan. Angin malam menerpa tubuhku yang hanya di balut kaos polos yang tidak terlalu tebal, meski kaos ini berlengan panjang tetap tak dapat menahan hawa dingin yang menusuk tulang - tulangku. Seakan bisa membaca pikiranku, meski tak ku utarakan bahwa aku kedinginan Rafael dengan sigap menyampirkan jaketnya ke pundakku,
" Sudah tahu ini malam, kamu malah cuma pake kaos gini, lain kali pakai jaket ya!" Entah keberapa kali sudah kulihat Rafael mengembangkan senyum padaku. Selama ini tak pernah sekalipun kulihat wajah masam dari raut mukanya, hal itu menjadikan rasa sukaku semakin dalam padanya.
Malam semakin larut dan udara juga semakin dingin, aku dan Rafael memutuskan untuk segera kembali ke kamar kami masing - masing. Dengan sangat jantan ia mengantarkan aku hingga di depan kamarku, memastikan tak terjadi apapun pada diriku. Sebelum pergi meninggalkan aku dia sempat meminta untuk bertukar kontak denganku yang langsung aku setujui tanpa basi - basi. Saat pergi, beberapa kali ia menoleh ke belakang melihatku yang masih setia berdiri di depan pintu hingga kulihat tubuh lelaki jangkung itu sempurna menghilang di persimpangan lorong. Aku tersadar jaketnya masih melekat di tubuhku, aku hendak mengejarnya untuk mengembalikan jaket ini tapi urung. Setelah kupikir - pikir akan ku kembalikan setelah aku cuci, hitung - hitung juga kesempatan yang langkah dapat menyimpan barang miliknya meski sebentar. Aku berbalik meletakkan kartu untuk membuka pintu, tubuhku sudah sebagian masuk ke kamar saat sebuah tangan mencengkram kuat pergelangan tanganku hingga membuatku mengaduh. Aku tersentak kaget dan berbalik mendapati si kacamata dihadapanku menatap dingin tak berekspresi.