Perfect Love

Perfect Love
lamaran



"ingin naik itu?" Tanya devan sembari menunjuk rollercoaster yang berada di depannya.


"Dulu kau paling suka naik yang ekstrim ekstrim". Lanjut devan mengingat dulu waktu mereka masih pacaran. Alana paling suka menaiki hal hal yang ekstrim.


Alana mengangguk. " Boleh. Aku juga sudah lama tidak naik rollercoaster".


Setelah sepakat keduanya membeli dua tiket. Lalu mengantri untuk naik roller coaster itu. Ketika roller itu melaju tangan keduanya saling menggenggam. Mengeratkan tangannya bersama. Alana yang senang sampai berteriak bahagia. Begitupun dengan orang orang yang menaikinya. Tak ingin melewatkan moment ini Devan meraih ponselnya dan dia arahkan pada Alana yang asik berteriak. Dia memotret beberapa gambar lalu kembali memasukan ponselnya.


Teriakan Alana semakin menggema kala roller itu melewati lingkaran besar. Hingga tubuh mereka terbalik dan rambut Alana yang di gerai terurai ke ke atas. Beberapa saat kemudian roller itu berhenti dan keduanya turun. Alana merapikan kembali rambutnya yang acak acakan.


" Kau senang?" Tanya devan.


Alana mengangguk antusias. " Tentu". Ujarnya.


Mereka mencoba beberapa permainan seperti sarang burung, rumah hantu, dan permainan lainnya. Keduanya berseru seru menghabiskan waktu berdua. Tak lupa devan selalu menyempatkan untuk memotret moment itu.


Hingga berakhir mereka berada di kedai eskrim. Memesan dua eskrim lalu duduk di bangku kosong nan panjang di sana.


" Kau ingat kala pertama kali aku mengajak mu kencan?". Tanya devan. Menerawang masa lalu serta kenangannya.


Alana mengangguk sembari memakan eskrim macha kesukaannya.


" Waktu itu aku juga mengajakmu ke pasar malam yang ada di Jakarta". Ucap devan.


Pertama kali mereka berkencan setelah pacaran Devan mengajak Alana ke pasar malam. Waktu itu dia pertama kali berpacaran dan tak tahu kemana mengajak Alana untuk berkencan. Mereka berputar putar mengelilingi kota karena tak tahu Hingga akhirnya berakhir di pasar malam.


Keduanya tertawa mengingat hal itu. Rasanya sungguh geli dan gemas mengingat hal itu. Mereka masih kaku dalam hal percintaan karena sama sama baru pertama kali.


" Dan kau tidak tahu kemana tujuan kita berkencan dan malah mengajakku memutari kota". Sahut Alana. Tertawa pelan lalu menghabiskan eskrimnya.


"Kau sama seperti dulu. Selalu belepotan jika makan eskrim". Sahut devan. Tangannya mengusap bekas eskrim di bibir Alana.


Alana menangkup kedua pipi Devan lalu saling bertatapan. " Kau memang sangat mengenalku". Ujarnya.


" Ayo pulang. Aku takut Sean menunggu ku". Alana melepaskan tangkupan tangannya lalu bangkit. Di ikuti Devan yang langsung merangkul pundak wanita itu.


"Hmm ayo".


Jam sembilan lebih lima belas keduanya sampai di rumah yang tampak gelap. Tidak ada peneranganan sama sekali bahkan lampu lampu luar yang biasanya sudah menyala mati. Alana keluar dengan heran.


Di sana sangat sepi. Seperti tidak ada tanda tanda kehidupan. Padahal tadi saat dia keluar semuanya masih biasa saja. Apa terjadi sesuatu pikirnya. Dia mengetuk pintu beberapa kali namun tidak ada sahutan. Dia bahkan memanggil manggil Nama orang rumah tapi tetap sepi. Tidak ada yabg menyaut.


Dia menatap sekeliling. Lalu keluar satu persatu mulai dari Sean, Edgar, mily dan Tania yang entah sejak kapan berada di sana. Dia semakin bingung. Pening kepalanya.


" Dev?".


Seketika alana tertegun kala devan mengeluarkan sebuah kotak cincin. Satu kakinya bersimpuh ke tanah. Tangannya mengangkat kotak cincin itu sembari menatap Alana dengan senyum.


Dia posisinya Alana bingung. Dia mendekat perlahan guna lebih dekat dengan pria yang bersimpuh padanya.


"Aku tidak bisa bersikap atau berkata kata romantis padamu Al. Kau tahu aku ini pria kaku yang jatuh cinta pertama kali dan itu padamu."


"Tapi sungguh ini perasaan tertulusku. Untuk memintamu menjadi pendamping ku selamanya. Menjadi ibu dari Sean serta calon anak ank kita lain. Aku meminangmu Alana Dhira lesham".


"So will you marry me?"


bersimpuh gagah devan menatap Alana. Dada bidangnya dia tegakan. Pun bahu lebarnya dia luruskan. Menatap siluet Alana intens pun mengharapkan.


Alana terdiam. Tertegun pun terkagum. Tak bisa berkata kata kala devan meminangnya, melamarnya dengan gagah. Hening disana. Menantikan jawaban Alana sebagai penentu. Tangan mereka bertaut berharap hal bahagia ini terjadi.


" Mommy jawab. Mommy mau menikah dengan Daddy?". Celetuk Sean mengundang kekehan dari mereka. Pun Alana yang menoleh pada sean. Sean kesal pun pegal karena dari tadi berdiri sambil memegang lilin.


Alana terkekeh pelan. Menarik napas lalu menghembuskan kembali. Menatap devan yang masih bersimpuh di depannya.


" Yes i Will".


Detik itu juga Devan langsung bangkit dan memasangkan cincin pada jari manis alana. Lantas dia peluk serta dekap erat wanita itu. Pun Alana yang membalas pelukannya.


Riuh tepuk tangan serta ucapan ucapan selamat terdengar. Mereka tertawa haru pun bahagia melihat Alana dan devan yang tengah berpelukan.


Alana tertawa di pelukan Devan. Namun matanya tak sengaja menatap brian yang berdiri mematung di depan gerbang.


" Brian.."


...****************...


jangan lupa follow akun noveltoon ku. follow juga akun Instagram untuk melihat spoiler spoiler part selanjutnya @notnyouyoi aku akan update beberapa jam sebelum terbit di NV.


tinggalkan: like vote komen!


see you🌹🌹💋💋📍