
Dua hari setelah perceraian Devan memutuskan untuk kembali ke Kanada. Dia ingin menjemput Alana dan putranya untuk dia lamar.
" Kau akan berangkat kapan Dev?" Tanya Diana.
Dia sedang menyiapkan koper untuk dibawa Devan nanti.
Sedangkan devan tengah berada di depan MacBook nya. Selama di Kanada di benar benar meninggalkan pekerjaan.
Dan dua hari ini devan harus ekstra bekerja. Menyelesaikan semua pekerjaan yang ia tinggalkan sekaligus karena besok nanti sore devan akan kembali berangkat ke Kanada.
" Nanti sore ma. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku dulu". Jawab devan.
" Huh... Padahal kau bisa tugaskan asistenmu itu atau kau berikan saja pada papa". Ujar Diana.
Devan yang mendengar saran dari mamanya hanya mengerdik acuh. Jika sudah bersangkutan dengan Alana mamanya paling bersemangat entah karena apa Devan pun tak tahu.
" Ini sudah beres."
Diana berdiri lalu menghampiri putranya yang tengah pokus itu.
" Ingat Dev. Bujuk Alana supaya dia mau kembali padamu. Kau harus berjuang Dev. Memangnya kau mau Alana bersanding dengan pria lain dan membuat Sean memanggil orang lain ayah". Ujar Diana mencoba memanas manasi Devan.
" Aku tahu ma". Balas Devan.
" Baguslah jika kau tahu. Mama mau ke bawah dulu mau ngobrol bareng art". Pamit Diana.
Sebelum turun dia mengusap bahu devan pelan setelahnya dia keluar dari kamar itu.
Devan menghela napas pelan. Dia sedikit terhenyak oleh kata kata Diana. Ingatan kembali pada persaingannya dengan Brian. Pria Kanada itu pasti menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Alana.
Dia jadi tak pokus bekerja.
...
Disisi lain Alana yang baru saja pulang bekerja terkejut mendapati keberadaan Karina disana.
Entah dari mana datangnya tapi Karina benar benar ada disana sekarang. Alana tidak tahu dari mana Karina bisa tahu tempat kerjanya..
" Alana". Panggil Karina. Sudut bibirnya terangkat sebelah.
" Apa kabar? Sudah lama kita tak bertemu bukan?". Tanyanya.
" Untuk apa kau disini?" Bukannya menjawab Alana kembali melayangkan pertanyaan.
Karina tertawa. " Itu bukan urusanmu! Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu"
Karina mendekat pada Alana. Tatapannya menyiratkan kemarahan besar.
Alana tak bergeming. Dia tak takut pada Karina jika pun menyakitinya. Yang dia takutkan adalah Karina melukai Sean.
Karina menyodorkan tangannya. " Selamat" ujarnya.
Alana mengerutkan keningnya. Selamat? Untuk apa?
" Untuk?" Tanya Alana.
" Selamat karena sudah sukses menjadi pelakor!" Desisnya tajam.
Deg
Alana membeku. Pelakor? Apa maksudnya dengan pelakor? Dia sama sekali tak merusak rumah tangga orang lain.
" Maaf Karina. Jangan bicara sembarangan. Aku bukan pelakor". Peringat Alana tegas.
Karina tertawa renyah. " Asal kau tahu kau sudah menghancurkan rumah tangga ku. Karena kau aku di ceraikan oleh devan."
" Kau memang benar benar tidak tahu diri. Kau sudah merusak hubungan ku dan Dev. Aku membencimu dasar wanita sialan!"
Plak
Karina menampar Alana kuat hingga wajah alana memerah.
Plak
Alana yang tersadar langsung menampar balik Karina lebih kuat.
" Jaga ucapanmu nona Karina!" Desis Alana tajam.
Dia tak terima dituduh menjadi pelakor. Itu urusan Karina mungkin penyebab penceraian mereka juga karena sikap Karina.
Karina memelotot tak percaya. Dia kembali menatap tajam Alana yang sudah berani menamparnya.
" Kau!
" Apa? Aku tidak akan membiarkanmu menginjak harga diriku lagi karina. Cukup dulu aku yang bodoh karena membiarkanmu merusak hubungan mu. Tapi sekarang aku tidak akan membiarkanmu lagi".
" Jangan menyalahkan orang lain atas kesalahan mu sendiri Karina. Jika devan menceraikan mu mungkin itu karena sikapmu yang tak terpuji itu. Aku tidak terima kau menuduhku yang tidak tidak. Ingat Karina aku tidak pernah merayu Devan untuk menceraikanmu tapi itu karena kemauannya. Jangan pernah kau menuduhku!". Peringat Alana tajam.
Dia berlalu menuju mobilnya yang terparkir. Meninggalkan Karina yang sudah memerah tajam. Tangannya terkepal kuat. matanya menyorot tajam pada Karina yang berlalu begitu saja.
" Awas saja kau Alana. Sebentar lagi kau akan mendapatkan balasannya". Ujarnya.
" Sayang...."
Karina langsung menoleh ke belakang. Dimana arsen yang sedang berjalan menghampirinya.
" Kau dari mana saja? aku mencarimu kemana mana". Tanya arsen setelah sukses menggapai Karina.
Karina mengubah raut wajahnya menjadi bahagia.
" Aku jalan jalan sayang. Aku bosan di hotel". Balasnya manja.
Arsen tersenyum lalu meraih tubuh Karina dan memeluknya.
" Jangan pergi sendiri. Bukankah kita kesini untuk honeymoon". Ujar arsen.
Karina mengangguk. " Maaf. Ayo kita jalan jalan."