Perfect Love

Perfect Love
Bermain Bersama



Aku bangun memaksa membuka mataku yang terasa berat. Kepala ku terasa sedikit pusing dengan pandangan yang berkunang - kunang. Semalaman aku tetap menangis bahkan setelah Rafael memelukku, menenangkan dan mengantarku hingga kamar. Aku merasa syok dengan peristiwa itu, harga diriku rasanya benar - benar jatuh. Mungkin orang lain menganggap ini berlebih , tapi memang begitulah adanya. Pagi ini aku bertekad tidak akan berlarut - larut mengingat kejadian semalam, hari ini aku akan berusaha melupakan kejadian memalukan itu dan menjalani hari yang mungkin akan indah. Aku bangkit segera menuju kamar mandi, berendam setengah jam di bak mandi dengan air hangat merilekskan semua pikiran yang penat. Setelah ritual mandi ku usai aku bersiap menggunakan pakaian olahraga dan menguncir rambut panjangku serta memoles wajahku dengan sun cream lalu mengoleskan sedikit bedak, yang terakhir aku memberi sentuhan bibirku dengan lip teen. Setelah semua selesai, terakhir aku memakai sepatu sport ku yang berwarna abu - abu dan keluar dari kamar karena temanku Diandra sudah menunggu di depan kamarku.


 


Beberapa menit kemudian, aku dan Diandra sudah sampai di restoran hotel untuk sarapan. Kali ini aku memutuskan tidak makan semeja dengan teman - teman sekelompokku karena aku malas bertemu dengan cowok mesum itu, sebelum nya aku sudah memberi tahu teman - temanku yang lain dan mereka memahami keputusanku. Alhasil aku duduk bersama Diandra dan teman - teman sekelompoknya termasuk Rafael yang langsung menyiapkan tempat duduk saat melihat aku dan Diandra datang,


 


" Selamat pagi Melvin, Diandra, kalian terlihat sangat cantik pagi ini, " Sambut Rafael membuat aku maupun Diandra tersenyum malu,


" Selamat pagi juga Rafael dan teman - teman yang lain, pagi ini aku membawa temanku Melvin ikut bergabung dengan kita, apa boleh ?" Tanya Diandra sangat berharap teman - temannya setuju,


" Tentu saja boleh, kapanpun Melvin mau bergabung, kami semua akan sangat terbuka, " Jawab Rafael yang diangguki oleh semua temannya yang ada di meja makan. Sejauh ini semua teman Diandra maupun Rafael cukup terbuka dengan kehadiran ku di kelompoknya, mereka bahkan tak sungkan mengajak aku berbincang banyak hal. Seakan tahu peristiwa yang tidak menyenangkan diriku, tak ada satupun dari mereka yang membahas masalah penampilan semalam membuatku semakin nyaman berada di kelompok ini.


 


Setelah sarapan, semua peserta pelatihan berkumpul di lapangan terbuka hotel. Hari ini agenda kegiatan kami adalah kegiatan luar ruangan atau outbound. Acara dimulai dengan senam pagi dengan instruktur nya para panitia sendiri. Seusai senam pagi, panitia memberi informasi bahwa kelompok outbound akan diubah lagi dengan lima belas orang setiap satu kelompok. Hal itu cukup membuat ku senang, karena di luar dugaanku Rafael kini satu kelompok denganku serta aku tidak satu kelompok lagi dengan si mesum membuat energi positif dalam diriku tumbuh subur. Aku menikmati setiap detik kegiatan pagi ini, ada banyak permainan seru yang menantang kekompakan dan kebersamaan. Dalam setiap pos permainan akan ada dua kelompok yang diberi tantangan oleh panitia, kelompok yang memenangkan permainan akan mendapatkan hadiah dari panitia sedangkan yang kalah akan mendapatkan hukuman entah itu di beri masker lumpur atau disiram air. Sudah tiga pos dari tujuh pos permainan yang harus kelompokku selesai kan, sejauh ini kelompokku selalu unggul dari kelompok sebelah. Kelompok kami pun masih tetap cantik dan tampan seperti awal kegiatan sangat kontras dengan kelompok sebelah yang sudah tidak karuan belepotan lumpur. Di pos keempat ini, kami diberi tantangan untuk satu orang mencari lima bola tenes di dalam lumpur kemudian memberikan pada temannya untuk dipindahkan secara berantai dengan dua buah pipa pendek yang sudah dibelah dua. Agar lebih adil, orang yang akan berkubang di lumpur mencari bola diundi. Di kelompokku udian jatuh padaku, Rafael sempat menawarkan diri untuk menggantikan, tapi aku menolak karena ini sudah menjadi tanggung jawabku dan mengganti posisiku tak dibenarkan dalam permainan. Aku cukup kesulitan melangkah di lumpur yang berat dan mengaduk - aduk isinya mencari bola - bola itu, teman - temanku bersorak menyemangatiku yang beradu cepat menemukan bola dengan lawan. Saat bola pertama berhasil kutemukan semua temanku langsung mengambil posisi untuk memindah secara berantai. Di permainan keempat ini aku kalah cepat menemukan bola di dalam lumpur sehingga kelompokku kalah. Akibatnya panitia mengoleskan lumpur di pipi kami, meski begitu kondisi kami lebih baik dari kelompok lawan yang wajahnya sudah penuh lumpur. Rafael menghampiri ku membawakan seember air untuk membersihkan tangan dan kakiku. Saat aku mencuci tangan, ikatan rambutku terlepas membuat beberapa helai rambut menutupi wajah serta cukup mengganggu tapi ku abaikan dan tetap fokus mencuci tangan. Melihat aku yang sebenarnya cukup terganggu, tak disangka Rafael membernarkan ikatan Rambutku. Dengan perlahan - lahan ia melepas talinya dan menyisir rambutku dengan tangan dan kembali mengikatnya saat sudah rapi,


 


" Terima kasih Rafael, " Aku tersenyum memandagnya sejenak yang dibalas senyuman juga olehnya. Perlahan - lahan rasa hangat menelusup ke rongga dadaku mendapatkan perhatian dan senyuman manisnya, hari yang terik ini juga terasa teduh saat ia menggenggam tanganku membawaku pergi dari lapangan saat waktunya istirahat.


 


Setelah makan siang, masih tersisa sedikit waktu untuk istirahat. Aku dan Rafael memilih duduk di bawah pohon mangga pinggiran laut tak jauh dari hotel. Kami memandang lautan luas yang di timpa terik matahari siang hari. Beberapa saat tidak ada percakapan di antara kami hingga Rafael membuka percakapan,


 " Mengenai kejadian semalam, aku benar - benar minta maaf atas nama Nathan karena dia sudah kurang ajar pada kamu, aku tidak menduga dia akan melakukan hal itu, jujur aku juga sangat marah padanya, bahkan dari semalam kami tidak saling tegur, " Aku menoleh memperhatikannya yang berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari laut,


" Seharusnya dia yang minta maaf bukan kamu, " Jawabku sambil menghela nafas panjang,


" Tidak Melvin, aku juga bersalah karena di acara ini dia juga bagian dari tanggung jawabku, " Dia menoleh menatapku dengan tatapan teduh,


" Tapi, " Belum selesai aku melanjutkan kata - kataku ia menghentikanku dengan memegang kedua tanganku,


" Tolong maafkan Nathan ya, aku mohon, karena ada hal yang perlu kamu tahu, bahwa Nathan tidak akan pernah mengucapkan kata itu, tapi sebagai gantinya ia akan menyakiti dirinya sendiri, kumohon, aku tidak ingin terjadi apa - apa padanya !" Ia memelas padaku, mana mungkin aku menolak jika yang meminta Rafael. Aku tersenyum padanya mengangguk menatap kedua mata Rafael yang berbinar senang,


" Kenapa Nathan melakukan itu ?" Tanyaku penasaran,


" Aku juga tidak tahu jelas apa penyebabnya mungkin itu berhubungan dengan masa lalunya atau mungkin juga memang sudah pembawaannya, " Ujarnya tak membuat penasaranku hilang. Selanjutnya tak ada pembicaraan lagi diantara kami, kami kembali menatap laut, mendengar kan alunan ombak yang pecah di garis pantai dengan Rafael yang tetap memegang erat tanganku.


 


Permainan dimulai kembali tepat pukul satu siang. Aku dan Rafael sudah kembali ke kelompok kami untuk melanjutkan pos yang belum kami lewati. Kami dapat melewati setiap pos selanjutnya dengan kemenangan hingga tibalah kami di pos ketujuh. Ini adalah pos terakhir, disini semua kelompok berkumpul untuk beradu ketangkasan dan kekompakan menjadi yang terbaik dari seluruh kelompok. Permainan ini menggunakan segitiga bambu raksasa yang harus dijalankan ke garis yang sudah ditentukan dengan seorang sebagai pengemudinya berdiri di atas segitiga dan yang lain menggerakkan dengan menarik dan mengulurkan tali - tali yang mengikatnya. Kelompok yang dapat mencapai garis akhir terlebih dulu akan menjadi pemenang. Di kelompok ku Rafael yang menjadi pengemudinya, saat ia memandu untuk kaki sebelah kanan segitiga yang digerakkan, teman - teman yang memegang tali di sebelah kanan akan mengendorkan talinya dan yang sebelah kiri akan mengentatkan menahan segitiga agar tidak terjatuh, hal itu dilakukan berulang \- ulang dan bergantian hingga sampai garis finish. Kelompok ku berhasil menyingkirkan semua kelompok lawan, sehingga kami bisa masuk di babak final. Di babak final kelompokku ternyata harus berkompetisi dengan kelompok Nathan. Sejak pagi aku tak melihat Nathan sama sekali, di akhir permainan ini aku baru melihat nya. Kulihat pipinya agak bengkak, berarti benar kata Rafael bahwa dia suka menyakiti diri sendiri saat merasa bersalah, sangat mustahil pipinya bengkak hanya karena aku tampar semalam. Saat berpapasan ia mengalihkan pandangannya dariku, tak mau berkontak mata. Sebenarnya aku agak kesal dengan sikapnya yang terlalu egois ini menurut ku, tapi aku memilih mengalah , berdamai dengan diriku sendiri untuk memaafkan kesalahannya. Permainan pun dimulai, sorak - sorak peserta lain ramai beradu mendukung salah satu kelompok, mereka terbagi menjadi kubu kelompokku dan kelompok Nathan. Rafael memandu seperti sebelum - sebelumnya, dengan tangkas kamipun mengikuti setiap instruksi Rafael. Saat hampir di garis finis, kelompok Nathan juga berada di posisi serupa membuat semua peserta semakin bersorak tegang melihat siapa yang akan sampai duluan. Karena hal ini juga baik kelompokku maupun kelompok Nathan menjadi gusar, kelompokku jadi ceroboh hingga segitiga hampir jatuh tapi untung nya kami masih bisa menahan. Rafael berteriak lantang untuk menenangkan teman - teman satu kelompokku. Saat tinggal satu langkah lagi menuju garis finis, kelompok Nathan juga kurang satu langkah. Melihat itu kami sama - sama beradu kecepatan mengambil satu langkah lagi bersamaan, tapi kelompok Nathan melakukan kesalahan membuat segitiga nya maupun Nathan yang berada di atasnya terjatuh sebelum kakinya menyentuh garis finis. Pendukung kelompokku bersorak bahagia melihat kemenangan kami dan mereka semua maju ke arena, para siswa laki - laki langsung memanggul Rafael serta melemparkannya ke udara sementara yang perempuan berpelukan denganku dan teman - teman sekelompokku yang lain.


Setelah permainan terakhir selesai, semua peserta kembali ke kamar masing - masing untuk membersihkan diri dan beristirahat sebelum acara penutupan nanti malam. Saat akan kembali ke kamar aku melihat Nathan yang berjalan terpincang -pincang masuk ke lobby hotel. Aku berlari menyusulnya, memanggil namanya tapi ia tidak menjawab maupun menoleh, Ia tetap berjalan seakan tak ada apa - apa. Saat jarak kami sudah dekat aku menahannya dengan mencekal lengannya membuat ia berhenti di tempat,


 


" Tidak, tidak akan kulepas sampai kamu mau berbicara sama aku !" Nathan menoleh menatapku dengan ekspresi datar,


" Bukannya kamu tidak mau melihat wajah orang brengsek seperti ku ?" Tanpa menjawab perkataannya, aku tarik tangannya membawa ia masuk ke kamarku dan ia hanya menurut.


Saat tiba di dalam kamarku aku segera mendorong nya masuk dan mengunci pintu kamarku,


 " Untuk apa kamu mau membawa aku kemari, kamu mau menantang seberapa berengseknya aku gitu, tapi maaf aku tidak seberengsek itu, " Ujarnya setengah marah, membuat aku ingin tertawa geli. Tanpa menghiraukan ucapannya, aku segera mengeluarkan obat - obatan dari kotak P3K, kemudian memaksanya duduk di kursi kamarku. Aku menggulung celana panjangnya hingga di atas lututnya, menampakkan kakinya yang putih mulus tanpa bulu, aku sedikit terkejut melihat penampakan kakinya yang cukup indah untuk ukuran laki - laki. Melupakan kakinya yang indah, aku fokus pada lututnya yang terluka mengeluarkan darah. Aku mulai membersihkan luka - lukanya dengan antiseptik membuat Nathan meringis sedikit kesakitan. Setelah lukanya bersih aku memberikan obat merah dan membalutnya dengan kain kasa. Setelah selesai dengan luka di lututnya, aku beralih mengobati luka - lukanya di tempat lain termasuk mengompres pipi nya yang bengkak. Saat tanganku mengompres pipinya, tangan Nathan memegang tanganku menghentikan,


" Kenapa kamu melakukan ini ?" Ia menggenggam tanganku menatap dalam,


" Karena kamu terluka, " Jawabku pendek apa adanya,


" Kenapa kamu baik ke aku padahal aku sudah kurang ajar pada kamu ?"


" Perbuatan buruk tidak untuk dibalas keburukan juga, tapi sebaliknya, perbuatan buruk harus dibalas kebaikan," Dia terdiam mendengar ucapanku, aku kembali melanjutkan aktivitas ku mengompres pipinya yang bengkak,


" Kenapa kamu tidak mau melihat ku, kamu tahu hal seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah, " Ujarku lagi, ia kemudian tertunduk menatap lantai,


" Aku malu pada diriku sendiri, "


" Sebenarnya kamu tinggal meminta maaf, tidak perlu malu mengakui kesalahan, "


" Meminta maaf katamu, dengan maaf kesalahan yang sudah diperbuat tidak akan bisa diperbaiki, " Ia berdiri menyangkal pernyataan ku,


" Tapi apa dengan menyakiti diri sendiri juga akan memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi, tidak Nathan tidak, setidaknya dengan meminta maaf kesalahan dapat ditoleransi, " Jawabku menatap matanya,


" Baiklah mungkin itu hal yang belum bisa kamu lakukan saat ini, tidak masalah , aku juga tidak meminta kamu minta maaf padaku karena aku sudah memaafkan kamu, yang kuminta pada kamu untuk melupakan kejadian itu, tolong bicara kembali seperti semula padaku, dan berhentilah menyakiti diri kamu sendiri jika berbuat salah !" Lanjutku, mendengar itu dia melunak kembali terduduk menunduk menatap lantai. Beberapa menit kemudian lengang, baik aku maupun Nathan hanya terdiam. Merasa tak nyaman dengan suasana ini, aku berinisiatif mencari sesuatu di dalam tas aksesoris ku. Aku mengambil gelang tali sederhana berwarna hitam favorit ku yang cukup netral jika dipakai laki - laki atau perempuan. Ku pakaikan gelang tali itu ke pergelangan tangannya membuat ia terkejut,


" Apa yang kamu lakukan ?"


" Ini adalah gelang tanda kita berbaikan sekaligus tanda bahwa kita mulai berteman sejak saat ini, mari kita perbaiki hubungan buruk kita sebelumnya!" Jawabku tersenyum melihatnya, untuk pertama kalinya aku tersenyum padanya,


" Terima kasih, Melvin, " Sahutnya tersenyum balik padaku, senyum pertama kalinya padaku sekaligus juga pertama kalinya ia memanggil namaku.


 


Malam harinya adalah acara penutupan kegiatan pelatihan kepemimpinan sekaligus puncak acara ini yaitu pemilihan ketua JOS. Sebelum nya telah diadakan seleksi oleh panitia yang terdiri dari pengurus JOS sebelumnya dan mantan ketua OSIS dari seluruh SMA yang berpartisipasi dalam acara ini. Mereka yang mengikuti seleksi ini adalah dua perwakilan dari setiap sekolah yang akan menjadi pengurus periode selanjutnya JOS. Dari empat kandidat ketua yang terpilih, dua diantaranya Kak Arya, wakilku dan Nathan. Acara dimulai dengan perkenalan setiap kandidat, yang dilanjutkan dengan orasi dari setiap kandidat. Kali ini kak Arya dapat berorasi dengan sangat baik yang dapat menarik perhatian seluruh peserta dengan kata - kata sederhana nya yang tidak banyak menebar janji tapi sangat meyakinkan. Aku maupun teman - teman satu sekolah ku cukup bangga melihat wibawa yang ditampilkan Kak Arya malam ini terlepas dari sikap buruknya di internal OSIS kami sendiri. Nathan juga cukup memikat hati peserta dengan kata - kata puitisnya, menunjukkan kapasitas intelektual nya. Setelah orasi, panitia memberi semua peserta selembar kertas untuk menuliskan nama kandidat yang dipilih kemudian panitia akan berkeliling mengambil satu persatu kertas suara. Setelah perhitungan, Kak Arya memimpin perolehan suara terbanyak dan Nathan di urutan kedua hanya selisih sepuluh suara. Kak Alfan tersenyum memandang ke arahku dan menyalami Kak Arya merasa bangga. Setelah Kak Arya terpilih, dia dipersilahkan menyampaikan pidato kemenangannya kemudian menandatangani surat - surat pengalihan jabatan dari ketua sebelumnya. Acara berakhir tepat pukul sepuluh malam, yang diiringi lagu perpisahan serta isak tangis dari beberapa siswi mengingat saat - saat kebersamaan yang menyenangkan dengan siswi sekolah lain harus usai. Aku sendiri cukup sedih , karena itu artinya aku juga harus berpisah dengan Rafael dan teman - teman satu kelompokku yang sudah seperti keluarga selama kegiatan ini padahal sebelumnya kami tidak saling mengenal. Aku memeluk beberapa teman dan menitihkan air mata mengingat potongan keseruan dan kebersamaan di setiap acara. Setelah acara berpelukan dan nyanyian perpisahan selesai, kami melanjutkan dengan foto bersama.