Perfect Love

Perfect Love
kencan



" Dev?".


Alana terkejut kala devan datang ke rumahnya yang baru di beli beberapa hari lalu malam malam. Dua hari yang lalu Devan sudah di perbolehkan pulang namun harus tetap banyak istirahat. Dan jangan terlalu banyak bergerak.


" Um. Ayo". Ajak devan.


Kening Alana seketika mengerut. " Ayo? Ayo kemana?". Tanya nya bingung.


Matanya memperhatikan penampilan devan yang begitu rapi dengan kemejanya. Tak lupa rambut yang tersisir rapi bahkan masih terlihat basah serta aroma tubuhnya yang maskulin.


Menghela napas Devan menatap Alana kesal. Tentu, kemarin dia mengajak Alana untuk kencan dan perempuan itu menyetujui nya. Sekarang malah lupa.


" Berkencan". Jawabnya.


" Hah?".


Seketika alana ingat dengan ajakan Devan kemarin. Sungguh, dia benar benar melupakannya.


" Kemarin kau berjanji akan berkencan denganku". Ujar devan. Menagih janji Alana kemarin.


" Tapi aku belum ganti baju". Ujar Alana.


Dia hanya memakai kaos serta celana panjang. Dia juga belum mandi dan bersiap siap untuk itu.


" Kau bersiaplah. Aku akan menunggu mu." Titah devan.


" Oh ya. Dimana Sean?".


" Di belakang. Dia sedang bermain bersama ayah". Beritahu Alana. Melirik singkat ke belakang.


Cup


"Pergilah berganti. Aku akan menemui Sean". Ucap devan pelan di depan wajah Alana.


Lalu berlalu ke belakang di mana tempat putranya bermain bersama calon ayah mertuanya (ekhm). Alana mematung sejenak. Terkejut dengan ciuman dadakan itu. Dia bahkan tak sadar saat devan berpamitan padanya.


Sadar, dia berbalik menatap punggung devan yang semakin tak terlihat. Lalu berjalan menuju ke atas untuk bersiap.


" Daddy!". Teriak Sean girang kala mendapati devan berjalan ke arahnya.


Lalu berlari dan menerjang tubuh jangkung itu. Membalas pelukan Sean Devan mengangkat tubuh mungil itu. Lalu menggendongnya menuju tempat Edgar yang sedang duduk menjaga Sean.


" Om". Sapanya.


Edgar tersenyum melihat kedatangan devan. Pun teriakan sean yang begitu menggema di sana.


" Panggil ayah saja. Bukankah kau berniat melamarnya". Ucap Edgar di barengi nada candaan.


" Baik ayah". Tanpa canggung dia menyetujuinya. Karena sebenarnya sudah dari lima tahun lalu dia menganggap Edgar ayah mertuanya. Devan duduk di samping kursi pria paruh baya itu.


" Daddy aku mau bermain". Izinnya. Tidak ada lagi Sean yang bermusuhan pada daddynya. Mungkin karena dia juga takut kehilangan sang Daddy ke dua kalinya.Sean turun dari pangkuan devan. Lalu melanjutkan mainannya yang sedang di rakit.


"Dia sangat pintar". Celetuk Edgar.


Menatap lurus Sean yang tengah merakit mainan barunya. Sesekali pria itu menyeruput kopi hitam kesukaannya. Devan, pria itu mengangguk setuju. Sean memang pintar, dan dia mengakuinya.


" Kemarin sepulang kami dari rumah sakit Alana membelikan beberapa mainan untuk Sean. Dan kau lihat sendiri, dia tak mau di bantu merakit mainannya. Dia merakitnya sendiri". Beritahu Edgar.


Tadi saat dia hendak membantu Sean merakit mainan barunya pria kecil itu malah menolak. Dan menyuruh Edgar untuk duduk saja dan menjaganya.


" Grandpa sudah tua jadi duduk saja dan lihat aku. Aku bisa merakitnya sendiri". Katanya kala itu. Dan Edgar hanya mampu terkekeh dan geleng geleng kepala saja. Dasar pria kecil sok dewasa pikirnya.


" Dia pintar sama seperti mommynya". Sahut devan. Sama memandang Sean yang sedang sibuk sendiri.


Seketika devan menoleh pada Edgar. Tak menyangka pria itu akan mengucapkan hal seperti itu. Tersenyum tipis dia kembali memandang Sean.


" Dan itu cucumu". Ujar devan.


Edgar berdehem Membenarkan. "Hm. Aku berharap kali ini kau benar benar membahagiakan cucu serta anakku". Harap Edgar. Tanpa menoleh pria itu berbicara.


Devan menjawab dengan sangat yakin. " Aku pastikan itu".


" Tentu, kau harus membahagiakan nya. Karena jika tidak aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri". Ancam Edgar.


Devan tersenyum mengangguk. Dia tak takut dengan ancaman dari Edgar. Karena tekadnya sudah sangat kuat jika dia akan mencintai alana dan juga Sean. Dia akan terus menyayangi Alana Sean serta putranya nanti. Dia akan berusaha membahagiakan nya meski nyawa sekalipun taruhannya. Itu janji pada dirinya sendiri.


Lamunan nya buyar kala Alana datang menghampiri mereka. Dengan atasan model simple serta rok sebatas lutut. Rambut yang biasanya di Cepol dia urai hingga rapi. Serta make up alami yang membuatnya semakin terlihat cantik dan elegant.


Devan berdiri merapikan pakaiannya. Dia harus tampil keren untuk bisa bersanding bersama alana.


" Mommy sama Daddy mau kemana?" Celetuk Sean. Menatap kedua orangtuanya.


" Mommy sama Daddy mau pergi". Ucap Edgar.


"Pergi kemana? Sean ikut". Tiba tiba Sean berlari dan memeluk kaki Alana.


Devan menggaruk tengkuknya begitupun dengan Alana yang tak tahu harus berucap apa. Edgar terkekeh pelan melihat tingkah keluarga kecil itu.


" Sean sini sama grandpa". Ujar Edgar memanggil Sean.


Sean menggeleng. Tetap kekeh memeluk kaki ibunya ingin ikut. Mau tak mau Devan berjongkok. Menyetarakan tubuhnya dengan Sean.


" Sean. Daddy dan mommy ada urusan penting. Dan Sean tidak boleh ikut." Jelas devan berusaha.


" Iya Sean. Kamu dengan grandpa saja disini. Biarkan Daddy dan mommymu pergi. Nanti grandpa teraktir jajan". Ujar Edgar dengan mengiming ngimingkan traktir.


Sean mendongak menatap Daddy dan mommynya. Lalu menatap ke belakang melihat Edgar yang tersenyum padanya sembari mengangguk.


Pria kecil itu melepaskan tautannya pada kaki Alana. Lalu berjalan dan duduk di pangkuan Edgar. " Baiklah. Tapi grandpa harus janji untuk mentraktirku jajan".


Edgar mengangguk. Lalu mengkode Alana dan devan untuk segera pergi.


.....


" Kita akan kemana Dev?" Tanya Alana.


Devan mengerdikan bahunya. "Entahlah. Aku juga tidak tahu". Jawab devan jujur. Karena dia juga memang tak memiliki rencana awal.


" Kau ini bagaimana Dev? Mengajakku kencan tapi tujuan". Kesal alana mencebikan bibirnya.


Devan hanya terkekeh saja. Meski dia tak punya rencana apapun baginya yang penting bisa berdua bersama alana dia sebut itu kencan. Kekesalan terhenti kala devan membawanya ke pasar malam. Alana menatap takjub tempat yang rame itu.


" Kau bilang tadi tidak punya rencana. Ini apa". Tanya Alana. Merasa dibohongi oleh devan.


Devan tertawa pelan. " Aku memang tidak punya rencana Al. Karena bersama mu aku jadi punya rencana". Ucapnya asal.


Alana menekan pipi Devan hingga wajah pria itu berpaling ke samping. "Gombal". Ujarnya.


Devan meraih tangan alana lalu menggenggamnya. Menariknya hingga kepala mereka mendekat. Dengan saku tangannya ia raih tengkuk Alana lalu menyesap bibir Alana. ********** pelan hingga bibir itu basah. Hingga merasa kehabisan oksigen barulah Devan melepaskan pangutan nya.


Napas keduanya memburu. Meraup oksigen banyak banyak hingga napasnya pelan. "Ayo pergi". Ujar devan mengelap bibir alana menggunakan jempolnya.


Alana mengangguk. Keduanya masuk ke pasar malam dan menghabiskan waktu disana. Berkencan berdua.