
Matanya yang membulat bertemu tatap dengan orang itu. Orang yang sudah menelantarkan nya. Yang membuangnya bahkan tak memperdulikannya kini menatapnya dengan senyum tanpa dosa. Duduk di atas sofa dan dia tak mampu berkata kata kecuali,
"Mama!" Lirihnya.
Sungguh tubuhnya lemas sekarang. Bahkan hampir terjatuh jika saja Devan tak segera menangkap tubuhnya.
"Siapa Al?".
Milly,. perempuan itu tiba tiba muncul. Menghampiri alana menanyakan siapa tamu yang datang. Dia terbangun kala bibi tadi mengetuk pintu kamar Alana. Alana tak menjawab. Namun tatapannya seolah memberitahu sesuatu. Langsung saja netra Milly mengikuti arah pandang gadis itu. Seketika matanya membulat kaget kala mendapati adiknya yang duduk manis di atas sofa.
" Kakak tak ingin menyapaku?!"
"Niken!" Lirihnya.
.....
Suasana tegang begitu kental terasa di dalam ruangan itu. Kini Devan, Alana, Milly serta Edgar pun Niken saling terdiam satu sama lain. Mereka masih terkejut dengan kedatangan Niken yang sangat tiba tiba.
Bagaimana tidak, hampir dua puluh tahun Niken meninggalkan Alana bersama Edgar dan Milly. Dan sekarang wanita itu tiba tiba datang kembali. Wajah wanita itu masih sama. Meski sudah ada beberapa kerutan di wajahnya.
Milly menghela napasnya pelan. Menatap Niken yang terdiam disana. " Huh! Jadi, apa yang membawamu kemari?" Mily bertanya.
Niken tersenyum manis. "Seperti itukah cara kalian menyambut tamu?!“ dia berbalik bertanya.
"Tak perlu basa basi Niken. Katakan apa maumu?“ Milly menuntut.
Dua puluh tahun yang lalu adiknya pergi bersama suami barunya dan meninggalkan Alana bersamanya. Dan kini ibu alana itu kembali. Yang pasti bukan tanpa sebab dan tanpa alasan dia menemui nya lagi.
Niken melebarkan senyum membalas perkataan Milly. Tahu niatnya yang sebenarnya. " Alana. Kau tak ingin menyapa ibumu?" Mata Niken beralih pada Alana.
Masih dengan diamnya. Tatapan Alana terlihat kosong. Masih tak menyangka akan dapat bertemu kembali dengan orang yang telah melahirkan nya.
" Jangan banyak tingkah niken, katakan apa yang kau mau?" Tekan Milly tajam.
Wanita itu tahu alana masih syok dengan pertemuan tiba tiba ini.
Niken tetap dengan senyumnya. Menoleh pada Devan yang dia tak kenali. Lalu turun pada tangan nya yang memakai cincin pernikahan sama dengan Alana.
" Kau sudah menikah Alana? Dia suamimu? Dan kau tak mengundang ibumu?" Niken pura pura terkejut. Dia menutup mulutnya dengan tangan seolah baru mengetahui nya.
" Siapa yang kau sebut ibu?!“
Sarkas Alana kala mendapat kembali kesadarannya. Tangannya masih bergetar dan berpegangan kuat pada lengan Devan.
" Siapa? Tentu saja aku! Apa kau lupa siapa yang telah melahirkan mu?" Jawab Niken.
Alana menatap sinis pada wanita didepannya. Berdecih kala mendengar Niken mengaku sebagai ibunya.
“ cih, ibu? Ibu yang meninggalkan anaknya dan pergi bersama suami barunya? Ibu yang menelantarkan anaknya dan tak memperdulikannya? Bahkan Tante mily lebih pantas di sebut ibu di banding kau!" Suara Alana meninggi.
" Kau memang seorang ibu yang melahirkan ku. tapi Bukan yang mengurusku, membesarkan ku, merangkulku saat susah, bahkan saat aku dalam masalah kau tidak ada! Kau lebih memilih pria kaya itu dari pada anakmu sendiri!"
" Jaga mulutmu Alana! Begitukah cara kau berbicara dengan ibumu?!" Niken yang tersulut ikut berdiri. Menatap anaknya dengan nyalang.
" Ya! Memang begini caraku berbicara kepada orang sepertimu. Pada orang tua yang meninggalkan anaknya tanpa belas kasihan. Kenapa? Anda merasa bersalah karena tidak bisa mendidik saya dengan benar?" Tandas Alana tajam.
Ucapan Alana mampu membuat mily menggeram. Tangannya sudah terkepal dengan emosi yang akan meluap.
" Kau memang anak tidak tahu diri! Sama saja seperti ayahmu yang tidak berguna itu. Untunglah aku meninggalkan mu dan ayahmu yang sudah mati itu!" Ujarnya nyelekit.
" Jangan menyebut ayah saya tidak berguna. Andalah yang membuatnya menderita hingga dia sakit. Justru andalah yang tidak berguna. Hanya bergantung pada pria kaya dan harta. Yang lebih pantas di sebut tidak tahu diri dan penipu memang anda!" Sentak Alana.
Dadanya naik turun karena emosi. Rahang nya menegas pun mengetat. Rasanya dia sangat ingin menyumpal mulut wanita di depannya sekarang juga. Tak peduli dia adalah wanita yang telah melahirkan nya.
" Kau memang anak sialan! Tidak tahu diri!" Umpat Niken kejam.
" Aku sudah tidak ingin basa basi sekarang. Kau suami Alana?" Dia sudah muak. Dan beralih bertanya pada Devan yang setia memegangi tubuh Alana. Devan mengangguk tentu saja.
"Aku minta kau untuk suntik dana pada perusahaan ku. Jika tidak aku akan mencelakai ibumu". Ancaman Niken. Tak perduli dirinya terlihat mata duitan atau gila sekalipun. Yang penting perusahaan nya yang sebentar lagi akan bangkrut bisa kembali stabil.
"Cih, kau kesini meminta penyuntikkan dana? Kenapa tidak kau minta saja pada pria pria kayamu itu. Yang bisa kau poroti sesuka hati!" Sarkas Alana. Tak tahan dengan Niken yang semena mena.
Dirinya masih tak menyangka niat sebenarnya Niken adalah untuk meminta suntik dana pada perusahaan. Bukan untuk menemuinya ataupun meminta maaf padanya dan keluarganya.
" Aku tidak berbicara padamu Alana. Aku berbicara pada suamimu. Jadi diamlah!" Tukas Diana geram.
" Jadi, kau akan menyuntikan dana pada perusahaan ku atau memilih ibumu yang ku celakai?" Tanya niken pada Devan.
Devan menghela napas. Dari pada ada korban nyawa lagi, lebih baik dia menyuntikan dana. " Baik aku akan menyuntik dana pada perusahaan mu. Kau tinggal datang besok ke kantorku". Ujar Devan. Dia tak mau kembali mengorbankan seseorang. Terlebih itu ibunya. Soal uang dia bisa mencarinya lagi nanti. Hal itu bukan hal besar.
"Dev!" Protes Alana. Menatap tajam pada Devan.
" Tidak papa Al. Soal uang aku bisa mencari lagi. Tapi jika harus melukaimu dan keluarga kita". Bisik Devan. Menenangkan Alana.
Alana mendengus. Tak suka dengan sikap Niken. " Kau terlalu baik padanya. Dia tak butuh untuk kau kasihani". Ujar Alana sembari melirik tajam pada Niken.
" Sttt kau tenang saja.." Devan mendekap Alana. Mengusap punggungnya lalu menenangkanya. Dengan ucapan yang dia bisikan pelan pada telinga wanita itu.
" Baiklah jika kau setuju. Aku akan datang besok. Aku harap kau tidak mengingkari janjimu." Ujar Niken. Bangkit dan siap siap berdiri.
" Karena urusanku sudah selesai. Aku akan pulang". Tanpa pamit Niken keluar dari rumah megah itu.
Tangis Alana runtuh saat itu juga. Tubuhnya melemas hingga merosot di pangkuan Devan. Wanita itu menangis sesenggukan. Punggungnya diusapi Oleh Devan. Dibantu Milly dan Edgar yang berusaha menenangkan Alana.
Hingga tiba tiba Alana pingsan, buru buru Devan membawa Alana ke kamar. Tak lupa menghubungi dokter untuk tahu kondisi Alana.
...****************...
holla 👋👋 besok cerita ini akan end yah... siap siap.