Perfect Love

Perfect Love
Bertemu Kembali



 


Waktu berjalan seperti air yang mengalir begitu saja. Setiap hambatan dan rintangan akan hilang seiring berjalannya waktu. Tidak terasa sudah seminggu aku menjadi ketua OSIS, tapi sangat terasa olehku permasalahan yang datang bertubi - tubi selama seminggu ini. Mulai dari penempatan posisi anggota di setiap bidang yang sudah dua kali mengalami perombakan sejak lima hari yang lalu dibentuk, perombakan sejumlah peraturan organisasi yang sudah tidak patut , dan masih banyak lagi. Sejauh ini pertentangan hadir cukup sering dari wakilku sendiri. Seperti saat ini, rapat khusus penentuan peraturan baru berjalan cukup sulit salah satunya perihal pembaharuan majelis perwakilan kelas atau disingkat MPK,


 " Tidak bisa seperti itu, OSIS adalah organisasi tertinggi di sekolah, itu sudah menjadi kebijakan paten dari peraturan pemerintah pusat, aku tidak setuju jika MPK di sejajarkan dengan OSIS !" Kak Arya, wakil 1 ketua OSIS yang dulu sainganku dalam pemilihan berdiri berteriak lantang ke arahku yang berdiri di depan memimpin rapat di ruang sekretariat OSIS,


" Aku juga tahu kalo OSIS adalah organisasi tertinggi di sekolah dan juga satu - satunya organisasi di sekolah, tetapi disini maksudku adalah menjadi kan MPK sebagai partner kita selain menjembatani antara OSIS dan siswa tapi juga menjadikan dewan yang mengawasi kinerja kita, jadi dapat diartikan bahwa posisi MPK adalah netral, disini MPK sebagai perwakilan siswa sedangkan kinerja kita juga untuk siswa, jadi aku rasa MPK cocok sebagai pengawas kinerja kita, " Ujarku berusaha menjelaskan pemikiran yang aku cetuskan,


" Mana bisa seperti itu, dari dulu tidak ada peraturan seperti itu, meskipun tanpa diawasi MPK, kita OSIS juga akan tetap bekerja keras untuk kepentingan siswa , " Sahutnya dengan nada meremehkan,


" Disini aku punya tujuan lain selain hal itu, aku ingin agar MPK lebih aktif dan memiliki aksi nyata bukan hanya sekedar embel - embel nama, aku ingin agar seluruh bidang kesiswaan di sekolah ini lebih hidup dan dapat bersinergi dengan baik serta berjalan dengan lebih sistematis, " Kak Satria, wakil ketua 2 mengambil inisiatif menengahi ketegangan antara aku dan Kak Arya,


" Baiklah lebih baik diadakan pemungutan suara saja, agar ini lebih adil, dan apapun keputusan nya yang kalah harus mau menerima, " Akhirnya diadakanlah pemungutan suara di internal OSIS yang diperoleh 35 suara setuju dengan kebijakan terbaru yang kucetuskan dari 50 anggota yang hadir. Kak Arya yang kalah menatap sebal semua anggota yang setuju terutama padaku,


" Baiklah jika ini yang kalian inginkan , terserahlah silahkan ikuti peraturan konyol si anak baru ini, " Ujarnya seraya meninggalkan ruangan terlebih dahulu sebelum rapat ditutup. Sikap kak Arya akhir - akhir ini berubah antipati setelah aku mengalahkannya dalam pemilihan, padahal sebelum itu dia salah satu kakak kelas yang berusaha mendekati aku dan sempat ku tolak saat mengutarakan perasaannya. Saat itu aku ingat benar, ia mengungkapkan perasaannya di hari ketiga masa pengenalan lingkungan sekolah, dengan sangat noraknya dia membawa speaker kecil dan berteriak di tengah lapangan saat pulang sekolah, menarik perhatian semua siswa bahkan beberapa staf pengajar yang masih belum meninggalkan lingkungan sekolah, membuatku sangat risih dan malu setengah mati. Karena aku masih menghormatinya sebagai senior, aku tidak langsung menolaknya mentah-mentah di hadapan banyak orang, melainkan memilih menjanjikan jawabannya di lain waktu, dan di malam harinya aku mengirim pesan penolakan padanya. Aku sadar mungkin ia memiliki dendam yang menumpuk padaku setelah semua itu, tapi aku tak pernah ambil pusing dengan sikapnya yang kekanak - kanakan.


 


Setelah rapat usai, aku tidak beranjak dari tempat ku. Ruangan sekretariat ini sekarang sudah kosong, semua anggota sudah pulang meninggalkan aku sendirian, sebelumnya mereka satu per satu mengucapkan simpati padaku atas apa yang sudah dilakukan Kak Arya. Sebenarnya aku cukup sakit hati dengan perkataan dan tindakannya kali ini , tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk seprofesional mungkin dan tidak terpengaruh dengan perbuatan Kak Arya yang hanya akan menganggu kinerjaku. Saat aku tengah bergejolak dengan pemikiran ku tanpa disadari seseorang sudah masuk dan menegurku,


 "Sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan, pertentangan seperti itu sudah lumrah terjadi,


" Aku menoleh ke arah sumber suara yang tak lain adalah Kak Alfan, ketua OSIS sebelumnya. Aku langsung berinisiatif mengambil kan kursi berhadapan denganku,


" Enggak kok kak, aku tidak kepikiran, aku cuma lagi memikirkan program lanjutan, " Ujarku tersenyum semanis mungkin,


" Hahahaha, karena inilah kamu lebih layak terpilih daripada Arya maupun Satria, " Kak Alfan mengacak rambutku gemas, Kak Alfan sudah seperti kakak ku sendiri sebaliknya aku juga sudah seperti adiknya, semua yang kurasakan dengan mudah dapat ia ketahui meskipun tanpa harus kuceritakan,


" Ah....kakak bisa aja, jadi ada kepentingan apa kakak kesini ?" Lanjutku,


" Jadi aku tidak boleh nih main - main ke ruang kesayangan ku, mentang - mentang sudah jadi ruangan mu?" Ia menekuk muka seakan - akan merajuk seperti anak kecil yang tidak dibolehkan membeli permen oleh ibunya,


" Ya, bukan begitu kak, akhir - akhir ini kan kakak mulai sibuk nih mau kelulusan , yah aneh aja tiba - tiba kesini, " Kak Alfan mengeluarkan sebuah amplop putih dengan logo Jalinan OSIS SMA atau JOS, lalu menyedorkannya padaku,


" Ini undangan pelantihan kepemimpinan tahunan OSIS SMA se kota madya, setiap sekolah harus mengirim 10 perwakilan, aku harap kamu memilih anggota yang memiliki kapasitas yang lebih untuk acara ini , karena ini tidak cuma sekedar acara pelatihan tapi disini kapabilitas OSIS dari setiap sekolah akan dipertaruhkan dan sejauh ini kamu pasti tahu kalau sekolah kita selalu unggul dari semua OSIS SMA di kota kita, apalagi di acara ini juga akan dipilih ketua umum JOS untuk periode ini, aku ingin OSIS kita yang akan memimpin organisasi bergengsi se- kota madya, " Aku menerima amplop putih itu dan mengangguk mematuhi anjuran dari seniorku ini, setelah nya perbincangan terus dilanjutkan tentang apa - apa yang harus aku siapkan untuk acara bergengsi ini sesuai petunjuk Kak Alfan.


 


Selang beberapa hari kemudian, dengan segala hal yang sudah dipersiapkan matang. Aku dan kesembilan teman - temanku berangkat menuju salah satu hotel mewah di kotaku yang berdekatan dengan laut. Dalam 3 hari kami akan mengikuti pelatihan ini, menginap selama kegiatan di hotel mewah itu dan yang terpenting kami dibebaskan dari kegiatan belajar mengajar selama kegiatan, bagian yang paling disukai oleh banyak siswa termasuk diriku. Setelah melakukan registrasi aku segera menuju kamarku, sebenarnya panitia telah menyiapkan kamar untuk para peserta dengan dua orang setiap kamar, tapi aku memilih menyewa kamar sendiri agar aku lebih bebas dan nyaman. Aku membawa satu koper besar dengan lebel ternama untuk menampung semua baju - baju mahalku serta beberapa tas kecil yang berisi barang - barang tambahan lain. Sejujurnya menurut ku hotel ini biasa saja, aku sering menginap di hotel yang lebih mewah dari hotel ini, tetapi aku cukup suka dekorasinya yang menciptakan nuansa tradisional dengan banyak pernak - pernik khas Nusantara. Aku menaiki lift bersama dengan teman - teman satu sekolah dan beberapa siswa sekolah lain. Ketika pintu lift hendak tertutup sebuah kaki dengan sepatu fantofel hitam mengkilap menahannya membuat pintu lift urung tertutup. Seorang lelaki jangkung berkacamata masuk dengan ransel berukuran sedang menggantung di pundaknya berdiri memunggungiku tepat di depan mukaku tanpa rasa bersalah. Aku merasa sedikit sebal dengan lelaki di depanku ini, yang tidak punya rasa untuk mengalah mundur dan membiarkan perempuan yang lebih pendek darinya berada di depan, hal itu tidak akan membuatnya tidak bisa melihat apa - apa, sebaliknya jika seperti ini akulah yang harus melihat punggung nya sepanjang perjalanan lift ini.


 


Beberapa detik yang menyebalkan di dalam lift pun akhirnya usai. Saat lift berdenting membuka pintunya sesuai lantai yang kutuju, siswa sekolah lain dibelakang ku saling dorong tidak sabar membuatku terjungkal menabrak punggung lelaki berkacamata itu hingga kami berdua tersungkur bersama.


 Bruk.....


" Aduh......Heh mbak, hati - hati dong kalo keluar, sabar sedikit kenapa gausah dorong - dorong kayak keburu mau ngapain aja!" Lelaki berkacamata itu berkata ketus padaku seraya merapikan barang bawaan di tangannya yang tercecer,


" Heh....Mas, saya juga gak mau nabrak masnya, mereka tuh anak - anak di belakang saya yang dorong - dorong, " Ujarku turut memunguti barangku sendiri yang juga tercecer,


" Sudah salah , gak mau mengakui kesalahan malah menyalahkan orang lain, OSIS macam apa kamu ini, gak punya etika, mentalitas nya rendah pula, " Lanjutnya, membuatku naik pitam mendengar ucapannya yang pedas,


" Eh...Kamu itu kalo ngomong dijaga ya, ngomong seenaknya aja kayak gak punya tenggorokan, apa sih yang dipikirkan demisioner mu saat milih kamu! " Seruku segera berdiri menatap lelaki yang masih memunguti barang - barangnya,


" Terserah, gaada gunanya aku ngurusin orang tidak punya kualitas kayak kamu !" Ia pergi begitu saja meninggalkan aku setelah semua barangnya berhasil ia pungut seraya melontarkan kata - kata paling kejam yang pernah kudengar selama hidupku. Aku seorang Melvina Putri Adi Wijaya yang sempurna dihina seorang laki-laki berkacamata cupu, sungguh menjijikkan dan sangat memalukan, tidak akan pernah kulupakan hal buruk ini selama hidupku, dan akan kutunjukkan pada si cupu itu siapa Melvin sebenarnya.


 


Masih dengan perasaan sebal aku memindahkan satu persatu isi koperku ke dalam lemari, menata barang - barang yang kubawa membuat kamar hotel senyaman kamarku sendiri. Segala pikiran buruk dan insiatif nakal untuk mempermalukan laki - laki cupu itu menari - nari di otakku. Aku akan mencari tahu dari mana asal laki - laki alien yang berlidah cabai itu, dan saat aku sudah tahu identitasnya tidak akan pernah kulepaskan begitu saja sebelum ia bertekuk lutut meminta maaf padaku. Ketika itu juga, tanganku menggerayangi isi tas yang sudah kosong berusaha mencari kartu identitas ku. Aku mulai memeriksa seisi kamar mencari kartu identitas ku yang hilang musnah tak berjejak. Di tengah kebingungan itu suara bel kamarku berbunyi, segera aku membuka pintu melihat siapa yang datang ke kamarku. Terasa seperti mimpi, saat pintu Sempurna terbuka kutemui sosok sempurna yang waktu itu menabrakku, si tampan dari sekolah lain berdiri tepat di depan pintu kamarku,


 " Melvin, bisa ikut sebentar ke tepi pantai , ada sesuatu yang ingin aku sampaikan!" Senyum manisnya berhasil menyihir ku membuat aku mengangguk mematuhi perintahnya tanpa ada rasa penolakan maupun kecurigaan sedikit pun.


 


Aku berjalan bersisihan dengannya menuju pantai, melewati lorong - lorong kamar yang sepi. Saat berjalan bersama seperti ini aku jadi tahu kalau tinggiku hanya selehernya. Waktu berjalan begitu lambat bagiku, tak ada percakapan yang terjadi di antara kami selama perjalanan. Ketika sampai di tepi pantai, tak kuduga ia mengeluarkan barang yang sedang aku cari,


 " Kamu pasti kebingungan mencari ini kan ?" Ia menyodorkan kartu identitas padaku,


" Bagaimana ini bisa ada di kamu ?" Tanyaku menyelidik,


" Oh .....itu tadi temanku yang menemukannya saat bertabrakan sama kamu katanya, terus dia minta aku yang mengembalikan, " kenyataan si kacamata cupu adalah teman si tampan ini, membuat dendamku rasanya semakin tersumat padanya dan sewaktu - waktu siap meledak, karena sudah berani mengambil kartu identitas ku dan tidak mau bertanggung jawab malah memerintah si tampan yang baik hati ini,


" Hehehehe, lucu ya kamu ini suka sekali nabrak orang, tapi untung sih nabrak orang dari pada nabrak yang lain malah bahaya," Kekehnya dengan tawa yang renyah,


" Terima kasih ya? "


" Rafael , namaku Rafael, " Sambungnya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya mengajak bersalaman,


" Sejak pertemuan pertama kita belum berkenalan dengan semestinya, " Aku menyambut uluran tangannya dengan jantung yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, kurasakan genggaman tangan yang lembut namun juga terasa erat dan hangat,


" Senang berkenalan denganmu Rafael, " Sejenak aku tersenyum manis menatap kedua matanya yang tajam seperti mata elang, membuat jantungku semakin tak terkendali. Sore ini menjadi pertemuan yang paling mengesankan dalam hidupku. Kunikmati semilir angin laut yang menerpa rambut panjangku sembari mendengarkan setiap kata yang terucap dari bibir indahnya, menghabiskan waktu dengan berbincang cukup lama hingga matahari mulai hilang dari garis cakrawala. Peristiwa ini menjadi penanda di mulailah kisah cintaku, dan aku mengakui telah jatuh cinta pada pangeran tampan ini sejak sore ini, di jam , menit dan detik ini juga. Dia membuatku kagum akan sosoknya yang sangat sempurna. Ketampanan, kepandaian, prestasi, semua hal baik yang sama denganku ada padanya, dia juga ketua OSIS, pemegang mendali emas dalam kejuaraan bela diri setiap tahun, peringkat satu pararel di sekolah nya, dan masih banyak lagi prestasi membanggakan yang sudah dia ukir, hanya satu kata untuk menggambarkan nya, sempurna, dialah representasi kesempurnaan yang kucari selama ini. Sebuah dehaman terdengar lamat - lamat membangunkan aku dari lamunanku,


" Hem....ehem.... Sudah selesai pacarannya, kalau sudah aku butuh ketua OSIS ku karena kita harus segera berkumpul di ballroom , " Seketika suasana indah itu hancur lebur saat si kacamata menghampiri kami dan menarik tangan Rafael mengajak pergi meninggalkan aku sendirian di tepi pantai tanpa ada sedikit rasa malu sudah menganggu diriku dan Rafael,


" Aku pergi dulu ya , sampai nanti lagi Melvin!


" Rafael melambaikan tangan tersenyum padaku dan pergi mengikuti si kacamata.